My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 26



Azmi kini sedang bercermin melihat bayangan tubuhnya yang sedikit kurus karena sakit. Berat badan yang berkurang karena jarang terasup makanan. Bukan karena tak di beri makan. Tapi jarang makan karena rasa makanan yang berubah seiring badan terasa tidak enak, hambar dan pahit yang terasa.


"Mas, boleh aku masuk?"


Azmi langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara dari sang istri.


"Masuk saja, tak di kunci," sahut Azmi sambil membenarkan merapihkan bajunya.


Nabila langsung masuk ke dalam saat mendengar jawaban Azmi. Wanita itu menaruh nampan yang berisi makanan di atas meja.


"Mas mau kerja?" Tanya Nabila, karena melihat pria itu sudah memakai pakaian formal.


"Iyah, emang kenapa?"Jawab Azmi dengan dingin.


"Tapi, mas kan baru keluar dari rumah sakit. Lebih baik mas istirahat dulu, aku takut … ,"


"Mas kuat. Kamu gak usah khawatirin mas, mas bisa jaga diri. Lagian sekarang udah mendingan," jawab Azmi sambil berlalu meninggalkan Nabila sendiri.


Nabila mengembuskan napas kasar. 'Tak usah khawatir. Gampang banget ngomong gitu. Siapa


yang nggak bakal khawatir, baru aja keluar rumah sakit udah langsung kerja. Kalau sakit lagi baru tahu rasa tuh.' Omel Nabila dalam batinnya.


'Astagfirullah Nabila kamu gak boleh gitu sama


suamimu.' Batinnya kembali mengingatkan sambil memukul mulutnya.


■■■■


Seorang perempuan tengah duduk di dalam kafe. Sesekali ia melihat arlojinya yang terus bergerak sambil menyeruput es jeruk yang ia pesan. Matanya masih menatap ke arah pintu kafe berharap orang yang ia tunggu segera datang.


Tangannya mengambil gawai yang ada di tasnya. 'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi'.


Sudah berapa kali gadis itu menelepon orang tersebut. Namun, selalu saja operator yang menjawabnya.


"Maaf, tadi aku lagi meeting. Jadi gak aktif. "


Perempuan itu mengangkat kepalanya melihat orang tersebut. Perempuan itu langsung memonyongkan bibirnya saat melihat pria tersebut.


"Lama banget," singkat padat jelas.


"Maaf Mell, aku lagi meeting. Tolong ngertilah."


"Iyah, iyah." Mella menampilkan senyumannya sambil menatap Azmi.


"Gitu dong."


"Kamu kenapa Mi. Kok sepertinya lagi mikirin sesuatu?" Tanya Mella saat melihat kekasihnya itu sedang gegana, gelisah gundah gulana.


"Enggak kok. "


"Pasti ada yang di sembunyiin kan dari aku. Cerita lah siapa tau aku bisa bantu." Rayu Mella agar Azmi bercerita padanya.


"Jadi gini … "


Azmi pun menceritakan apa yang ada di dalam hatinya. Mella masih mendengarkan apa yang di katakan kekasihnya tersebut.


"Jadi file kamu gak ada,  dan tadi bos kamu minta file itu?"


Azmi mengangguk.


"Kamu beneran gak lupa naro itu file?" Tanya Mella.


"Enggak, Mel. Seingatku, file itu aku taruh di lemari."


"Oh ya. Mungkin Mang Udin tukang yang biasa kamu panggil buat benerin perkakas… "


"Wush kamu jangan asal ngomong, Mang Udin gak bakalan kayak gitu. Lagi pula selama aku di rumah sakit, kuncinya selalu di bawa sama Nabila." Bantah Azmi.


"Atau jangan-jangan Nabila yang ngambil. Soalnya waktu itu aku lihat si Nabila pergi ke rumah."


"Gak bakalan lah. Buat apa dia ngambil kayak gitu. Ngerti juga enggak." Sergah Azmi.


"Coba aja, cari di kamarnya Nabila. Siapa tahu dia yang umpetin." Mella tetap berusaha meyakinkan Azmi, bahwa Nabila lah yang mungkin mengambil file itu.


Azni masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Mella, sebelum ia menemukan buktinya.


■■■■


"Bagaimana keadaan suami kamu Bila?" Tanya ibu Ayu pada Nabila.


"Alhamdulillah, udah bahkan, Bu." Jawab Nabila dengan senyum.


"Maaf, Ibu gak bisa menjenguk suamimu. Soalnya anak-anak gak ada yang jagain. Karena sekarang Hanny gak ada. Dan ibu gak mau ngerepotin Zahra." Jawab ibu Ayu.


"Nggak apa-apa, Bu. Seharusnya aku yang minta maaf karena gak bisa bantuin Ibu sama Zahra."


"Udah gak apa-apa, ibu maklumi kok. Lagi pula kan disini ada Zahra yang bantuin ibu."


Kini Nabila tengah berada di Panti. Karena ia merasa bosan di rumah dan ia pun merasa rindu pada anak-anak Panti.


"Umi, Asna rindu!"


Seorang gadis kecil berteriak sambil berlari menghampiri Nabila lalu memeluknya.


Nabila berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu. Lalu mencium kening gadis berambut hitam legam itu.


"Umi?" Ucap Nabila dengan lembut.


"Umi. Bolehkan Asna memanggil kak Nabila


dengan sebutan Umi. Karena Asna suka sama Umi Nabila."Jawab gadis kecil itu dengan polos.


"Boleh banget sayang. "


Nabila langsung memeluk gadis itu. Tak terasa air matanya menetes. Bukan karena sedih tapi karena haru. Baru pertama kali ia di sebut Umi. Panggilan yang merdu di telinga, Indah di hati.


Namun kini hatinya kembali sedih saat mengingat perkataan mertuanya yang meminta seorang cucu. Apakah ia akan bisa mengabulkan itu semua. Apakah bisa ia mengabulkan permintaan mertuanya.


"Umi kenapa nangis. Umi sedih yah?" Tanya Asna bingung


"Enggak kok. Ini tangis bahagia bukan sedih."


Tangan mungilnya menghapus airmata yang membasahi pipi Nabila. Serasa ada rasa tentram dan damai dalam jiwa saat itu jua. Merasakan tangan mungil dan lembut tersebut.


■■■■■


Setelah puas bermain dengan anak panti. Nabila bergegas pulang karena hari mulai sore, ia pun harus membuat makan malam untuk suaminya.


Nabila mengerutkan dahinya saat kunci rumahnya tak terkunci. Seingat dia, ia sudah mengunci pintunya. Mungkin Azmi sudah pulang. Tapi sekrang masih sore, biasanya ia akan pulang malam nanti.


"Assalamualaikum,"


Nabila mengerutkan dahinya kembali saat melihat pintu kamarnya yang terbuka. Padahal sebelum berangkat ia telah menutupnya da menguncinya. Tapi jika Azmi, untuk apa dia masuk ke dalam kamarnya.


"Mas sedang apa?" Tanya Nabila saat melihat Azmi dan Mella berada di kamarnya.


Azmi tersenyum miring, setelah itu menghampiri Nabila dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedangkan Nabila masih terheran-heran kenapa dan untuk apa Azmi di kamarnya.


"Mungkin kau akan bertanya mengapa mas ada disini kan. Mas masih gak percaya kalau kamu itu sebenarnya jahat."


Nabila masih heran dan tak mengerti apa yang dikatakan Azmi.


Wanita itu hanya tersenyum miring membayangkan apa yang dilakukan kekasihnya itu. Ia tak sabar ingin melihat hasil yang ia kerjakan waktu itu. Balas dendam yang akan terbalaskan.


"Lihat saja, tinggal menghitung waktu kau jalan pergi dari kehidupan Azmi. Itulah jika kau telah berani mempermalukan ku." Pikir Mella jahat.


Seringai di bibirnya tak pernah pudar. Rasa puas belum sepenuhnya dirasa. Karena puncaknya belum terjadi. Ia tak sabar ingin melihat Nabila pergi


dari hidup Azmi.


Nabila pun menangis, tak percaya dengan apa yang di katakan suaminya. Hatinya sesak saat mendengar tuduhan yang tertuju padanya. Apalagi kata-kata kasar yang masih terngiang di telinga membuat hatinya semakin nyeri bagai tertusuk duri.


Nabila segera menghapus airmatanya. Ia harus mencari tahu siapa yang telah menaruh file kerja Azmi di lemari nya.


Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi Azmi belum juga pulang, rasa khawatir di hati tak bisa di bohongi. Karena biasanya pria itu tak pernah


pulang selarut ini. Walaupun pulang malam, ia akan menghubungi dirinya.


Entah sudah berapa kali Nabila menghubungi sang suami. Tapi masih saja operator yang menjawabnya. Hingga rasa kantuk menyerang, yang membuat dirinya tertidur di sofa.


Pagi mulai datang, matahati mulai menyinari dunia. Tapi belum ada tanda-tanda bahwa Azmi pulang. Ingin mengecek ke kamar, tapi tak ada keberanian.


"Iyah sebentar lagi saya ke sana."


Nabila langsung menoleh ke arah suara. Senyum terbit di bibir merahnya saat melihat sang suami telah pulang. Ia langsung menghampiri pria berjas hitam tersebut.


"Mas kapan pulang?" Tanya Nabila.


"Apa urusanmu, urus saja urusanmu sendiri," ketus Azmi yang membuat Nabola terlonjak kaget.


"Mas sarapan dulu yah," ucap Nabila.


Pria itu melenggang pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia langsung keluar dan masuk ke dalam mobil tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Airmatanya meleleh kembali. Rasa sedih mulai menyelinap ke lubuk hati. Tangannya meremas baju. Lalu menghapus airmata dipipi.


■■■■


  "Ada apa kamu kesini, Mel?" Tanya Azmi.


Bukan tanpa alasan, karena Mella meminta Azmi untuk menemuinya di tempat parkir kantor.


Perempuan itu hanya tersenyum, ia langsung memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada Azmi.


"Nanti saja bukanya," ucap Mella. Setelah itu ia langsung pergi, masuk ke dalam mobilnya.


Azmi masih penasaran apa isi dari amplop coklat tersebut. Uangkah? Cekkah? Atau apalah. Yang jelas pria itu tak tahu.


●●●●●


Nabila meregangkan otot-otot tangannya yang sudah pegal. Ia melihat ke arah jam menunjukkan pukul 10:00 pagi. Wanita itu langsung bergegas bersiap-siap untuk ke panti asuhan.


Anak-anak terlihat gembira saat melihat orang yang mereka tunggu akhirnya datang. Mereka langsung berhamburan saat melihat makanan ringan dan


minuman yang di jinjing oleh kedua wanita tersebut.


"Tak usah repot-repot Nabila, Zahra." Ucap bu Ayu.


"Tak apa, Bu. Ini memang tugas kami untuk saling berbagi. Iyah gak Kak?" Ucap Zahra.


"Iyah, Bu. Sesama manusia kita harus saling menolong dan membantu."


Ibu Ayu hanya mengangguk mendengar jawaban dari kedua wanita tersebut. Ia sangat bersyukur karena Allah telah mengirimkan kedua bidadari tersebut untuk mereka.


●●●●●


Azmi mengepal tangannya kuat, wajah putihnya kini sudah berubah menjadi merah karena amarah. Ia menatap foto itu kembali, foto Nabila dan Zain yang tengah berduaan di sebuah taman.


'Aku memotret foto ini saat kau masih di rumah


sakit. Maaf aku baru memberitahumu sekarang. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada istrimu.' Isi secarik kertas yang Mella selipkan di dalam amplop cokelat itu.


Pria itu meremas kertas tersebut setelah membaca isi suratnya. Ia harus percaya pada siapa, Nabila atau Mella. Oleh karena itu, ia harus mencari kebenarannya.


●●●●


"Apa ini?! "


Nabila terkejut mendengar bentakan Azmi sambil menggebrak meja.


Matanya langsung tertuju pada sebuah foto yang di berikan Azmi. Matanya membulat saat melihat foto itu adalah gambar dirinya dan Zain. Tapi anehnya di situ tak ada Hanny.


"Mas gak nyangka kalau kamu akan seperti ini. Di saat mas sakit kamu malah bertemu dengan pria itu di taman. Ck ck, ku kira kau akan melupakan pria itu. Tapi, ternyata sangkaan ku salah. Kau masih berhubungan dengannya. Hebat kamu Nabila. Di balik wajah polosmu itu kau amatlah jahat."


"Mas dengerin aku itu -- "


"Itu apa? Sudahlah, di saat hati ini telah merasa nyaman bersamamu. Tapi kau malah membuat hati ini kecewa. Bagus Nabila, jadi selama ini kau hanya membuat drama di depan ku." Ucap Azmi memotong ucapan Nabila.


"Sekarang aku mau tanya, apakah kau sudah bertemu dengan Zain?"


"Iyah. Tapi --,"


Nabila mengangkat tangannya mengisyaratkan agar wanita tersebut diam.


"Apakah kamu bertemu dengannya saat aku sedang sakit?"


"Iya."


"Bagus. Sekarang aku sudah muak padamu, muak dengan wajah polosmu. Wajah polos tapi berhati busuk. Hah!"


"Mas, aku mohon dengarkan aku dulu."


"Tak perlu, semua nya sudah jelas. Aku sudah tak ingin melihat wajah polos yang penuh drama itu. "


Setelah itu Azmi pergi ke kamar. Entah mengapa dirinya merasa sakit dan kecewa saat melihat kenyataan tersebut.


Sedangkan Nabila hanya menangis. Belum juga masalah yang satu selesai. Masalah yang baru sudah datang.


●●●●


"Mas sarapan dulu," ucap Nabila saat melihat Azmi keluar dari kamar.


"Tak usah, aku akan sarapan di luar. Aku sudah muak dengan dirimu." Ketus Azmi.


"Mas,"


"Aku bilang enggak yah. Enggak. Lebih baik masakan ini kamu beri pada Zain!"


Nabila hanya bisa menangis saat mendengar bentakan keluar dari  bibir Azmi. Akhir-akhir ini pria itu selalu membentaknya. Bahkan selalu tak menganggap dia ada. Dirinya sudah lelah, sangat


lelah. Mungkin ini adalah titik lemah dirinya.


■■■■


 "Assalamualaikum, Nan." Sapa Zahra pada adik sahabatnya itu.


"Waalaikumsalam, kak. Kakak nyari kak Nandia yah. Kak Nandia ada di dalam."


"Kamu tahu aja,"


Adik sahabatnya itu pasti tahu jika Zahra kesini mencari kakaknya. Setelah bertemu dengan Nandia, seperti biasa Zahra akan membantu sahabatnya itu.


Nandia itu mempunyai usaha fotocopy dan cetak


foto. Jika Zahra tak pergi ke panti, ia akan pergi ke sini untuk membantu dan belajar tentang komputer.


Kadang ia pun membantu untuk melayani pelanggan. Seperti sekarang ia membantu Nadia untuk mencetak foto. Tapi saat akan mencetak foto dirinya kaget karena melihat sebuah foto Zain, Hanny dan Nabila.


"Deni," panggil Zahra pada adik sahabatnya.


"Ia, kak. Ada apa?" Tanya Deni sedikit kaget.


"Kalau boleh tahu, siapa yang cetak foto ini?" Tanya Zahra sambil menunjukkan foto dengan anak panah pada layar komputer.


"Iyah, tadi ada cewek kesini dia nyuruh aku cetak foto itu tapi dia minta foto kak Hanny dihapus. Aku kira itu


buat foto prewedding." Jawab Deni dengan panjang kali lebar.


"Kamu tahu siapa orangnya? "


Pemuda itu hanya menggeleng, tapi ia menunjukkan sebuah foto yang berisikan foto Zain, Hanny, dan Nabila.


"Foto ini."


Zahra langsung mengambil foto tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. Karena ia tahu ada yang ingin berbuat tidak baik pada Nabila. Kemudian Zahra pamit untuk pergi.