
Entah cobaan apalagi yang menimpanya. Cobaan datang bertubi-tubi pada rumah tangganya. Saat ia merasa hubungannya dengan suami mulai dekat, selalu saja ada hal yang membuatnya kembali menjauh. Ia tahu itu semua karena Allah menyayangi nya. Allah ingin tahu seberapa sabar dirinya menghadapi ujian itu.
"Umi kenapa ngelamun?"
Aulia tersenyum, "Umi gak kenapa-napa kok."
Tangan mungil gadis kecil itu mengusap pipi Nabila yang dialiri oleh airmata. Entah sejak kapan airmata itu mengalir.
"Umi gak boleh nangis, siapa yang buat Umi nangis, nanti sama Asna marahin," ucap gadis kecilnya dengan polosnya.
"Gak ada kok, tadi Umi kelilipan doang, jadi nangis deh." Kilah Nabila.
"Umi bohong, kalau kelilipan pasti gak akan ngelamun."
"Sekarang kita ke dalam yuk!"
Zahra masih menatap foto yang ia pegang. Ia ingin segera memberitahu Azmi, tapi saat ia sudah kesana, pria itu sedang tak ada. Ia harus secepatnya memberitahukan ini kepada Azmi.
Entah kenapa Azmi merasa kesal saat melihat foto tersebut. Memang dirinya kesal tapi rasa itu berbeda dengan biasanya, seperti ada rasa cemburu. Tapi kenapa dirinya cemburu, apakah dirinya sudah mencintai Nabila.
"Tidak, mungkin aku hanya merasa kesal saja dengan pengkhianatannya. Sudahlah untuk apa aku memikirkannya." Gumam Azmi sambil mengacak-acak rambutnya.
Seperti malam sebelumnya, Nabila masih Setia duduk di sofa menunggu sang suami pulang. Sudah berapa malam terakhir Azmi pulang larut malam dan tidak pernah menelepon Nabila. Malam ini ia harus menjelaskan semuanya pada Azmi, agar pria itu tidak salah paham.
Harum masakan sudah menyeruak seisi rumah. Membuat siapa saja yang menciumnya akan merasa lapar. Tak lama makanan pun sudah tersaji di meja makan.
"Mas, kita makan dulu,"
"Gak usah, mas makan di kantor saja. "
"Mas … "
"Sudah mas bilang, mas akan makan di kantor!"
Seketika Nabila mematung, tangannya bergetar begitupun kakinya. Airmatanya pun sudah siap meluncur. Hatinya kembali menjadi berkeping-keping. Hancur. Retak seperti kaca yang jatuh.
Ia sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Tempat yang ia kira akan menjadi syurganya malah menjadi neraka baginya. Hati yang harus di jaga malah tersiksa. Lelaki yang seharusnya melindungi malah menyakiti.
Rasa yang sudah tak tertahan lagi. Pergi adalah salah satu cara yang ia ambil. Ia sudah tak sanggup lagi untuk bertahan di rumah Itu.
Kabur. Mungkin itulah yang terjadi. Tanpa memberitahu, tanpa pamit ia pergi, tanpa ada yang mengetahuinya. Bahkan Mang Heru. Hanya berteman kenangan pahit dan manis. Pergi kemana? Ia pun tak tahu, yang penting pergi jauh.
Mungkin setelah itu Azmi akan bahagia. Karena tak ada lagi halangan atas hubungan pria itu dengan kekasihnya.
Kini ia sedang duduk di dalam kereta sambil memandang pemandangan yang ia lewati sepanjang jalan. Pekalongan adalah tempat yang ia tuju. Karena disana tempat dulu ia mencari ilmu bersama Zain, Cinta pertamanya.
Pikirannya kembali terulang mengingat kejadian kemarin saat Azmi memberikan foto dirinya dan Zain.
"Mas, itu semua tak seperti yang mas pikirkan. Aku tidak sedang berdua dengan Zain."
Nabila berusaha meyakinkan Azmi bahwa foto itu salah. Mengapa hanya ada mereka berdua dimana Hanny. Namun, Azmi masih tak percaya. Ia lebih percaya dengan bukti yang ada bukan kata belaka.
"Mau menyangkal apapun aku tak akan percaya. Ku kira dirimu adalah wanita yang baik tapi nyatanya. Wanita pengkhianat. Aku sudah tak sudi melihat wajahmu disini. Wajah yang alim tapi ternyata … "
Air mata nya kembali luluh. Tangannya segera mengusap air mata itu agar tak diketahui orang lain.
Bahagia. Itulah yang di rasakan Azmi setelah mengetahui Nabila telah pergi dari sana. Tak ada lagi halangan untuk dia bertemu dengan kekasihnya. Bahkan untuk menikahi.
Namun ada rasa sedih di hati. Tapi ia tepis rasa itu. Ia langsung menghubungi Mella untuk membagi rasa bahagianya.
"Yang bener, Nabila sudah pergi? "
Mella masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahwa wanita itu telah pergi dari rumah Azmi.
"Gak percaya, ayo ikut aku."
Azmi menarik tangan Mella menuju kamar Nabila. Di lihatnya lemari sudah kosong tak berisi. Hanya ada satu amplop di dalamnya.
"Ini apa?"
Mella mengambil amploo tersebut. Tapi Azmi merebutnya dan menaruhnya di tempat semula.
"Hahaha, mungkin isinya hanya ungkapan maaf karena telah pergi. Seperti di film-film." Ucap Azmi.
Setelah menempuh waktu lima jam lamanya. Akhirnya ia sampai di tujuan. Tapi setelah keluar dari statsiun ia tak tahu harus kemana. Karena tak ada sanak saudara di sana.
"Ini tempat tinggal ku. Maaf kalau rumahnya kecil."
"Gak apa-apa Lia, ini sudah lebih kok."
Amalia adalah sahabat Nabila saat di pondok. Ia bertemu dengannya di angkutan kota. Hingga ia pun di ajak untuk tinggal bersamanya.
"Kamu punya toko kue? "
Navila berdecak kagum saat tahu sahabatnya itu memiliki toko kue.
"Iyah, alhamdulillah. Yah walaupun gak besar. Tapi ini ladang pencaharianku." Jelas Amalia tersenyum.
Seminggu sudah ia tinggal bersama Amalia. Waktu mereka dihabiskan untuk bekerja di toko, Nabila pun selalu membantu membuat kue dan melayani pembeli. Jika malam tiba, mereka habiskan untuk mengobrol, bercerita melepas rasa rindu yang ada di dada.
"Bila, kamu lagi ngapain?" Tanya Amalia saat melihat Nabila sedang berkutat di dapur.
"Lagi bikin pancake. Oh ya, kamu cicipin enak gak?"
"Enak banget. Kamu di ajarin sama siapa?" Tanya Amalia sambil mencicipi pancake buatan Nabila.
"Sama Ibu. Lalu sama aku di kombinasi dengan rasa yang lain."
"Gimana kalau kita jualan pancake durian?"
Nabila tak menyangka bahwa pancake buatannya agar terjual laris. Terbukti hari ini hampir seratus buah pancake sudah terjual.
"Jadi kamu udah nikah. Kok kamu nggak ngundang aku sih?" Tanya Amalia.
Amalia memoyongkan bibirnya. Ia masih melihat galeri foto Nabila. Ia baru mengetahui bahwa temannya sudah menikah. Setelah bertemu pun dirinya tidak memberitahu jika sudah menikah. Tanpa mengundangnya.
"Gimana mau ngundang kamu, Lia. Setelah kita lulus, aku sama kamu gak pernah ketemu bahkan chattan." Jawab Nabila.
"Iyah sih."
Benar juga yang dikatakan Nabila. Karena setelah mereka berpisah, mereka tak pernah bertemu atau mengabari satu sama lain dengan sosmed atau pun handphone. Karena saat itu mereka belum mempunyai benda tersebut.
Azmi bangun dari tidurnya. Merentangkan tangannya lalu beranajak dari tempat tidur untuk membersihkan badan. Setelah bersiap-siap, pria itu langsung keluar dari kamarnya.
Setelah Nabila pergi, rumah terasa sepi. Tak ada lagi harum masakannya, sapaannya dan pertanyaannya. Jujur itu masih terasa aneh baginya.
"Nih aku bawain makanan buat kamu. Pasti kamu belum sarapan kan?"
Azmi langsung menoleh ke arah sumber suara. Disana terlihat Mella memberikan sebuah rantang yang berisikan makanan pada Azmi.
"Ini aku masak sendiri lho," sambungnya karena Azmi belum mengambil rantangnya.
Azmi tersenyum. Lalu mengambil rantang tersebut. Wanita itu juga tersenyum karena Azmi mengambil rantangnya.
"Seperti biasa, nanti kita makan siang bareng yah, Sayan."
"Iyah,"
Azmi membuka suaranya setelah lama membisu. Dirinya langsung masuk ke dalam kantor.
■■■■
Nabila tengah duduk di kursi di taman. Menunggu seseorang yang memesan kue. Taman yang di penuhi orang-orang dan bunga-bunga yang Indah. Kebetulan hari ini adalah hari libur, banyak orang-orang yang datang kesana. Ada yang sedang bersama keluarga, ada yang bersama pasangan adapula yang bersama teman.
"Assalamualaikum?"
Rintih Nabila saat kepalanya berbenturan dengan seseorang. Saat mendengar salam, dirinya langsung berdiri tanpa menengok ke arah suara. Hingga akhirnya kepalanya pun jadi korban.
"Maaf," ucap Nabila sambil melihat ke arah orang tersebut.
"Kamu tidak apa-apa?" Pria itu bertanya, karena Nabila terus mengelus kepalanya.
Nabila tersenyum, "Aku tidak apa-apa,"
"Apakah kamu penjual kue yang saya pesan?"
"Iya, apakah bapak, Pak Taufiq?"
"Iyah."
Nabila pun memberikan kantung plastik yang berisikan kue kepada pria yang ada di hadapannya.
Pria itu langsung mengambilnya dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah dan biru.
"Makasih, Pak. Semoga bapak suka dengan kuenya."
"Iyah sama-sama. Dan jangan panggil saya bapak. Saya bukan bapakmu dan saya tak setua itu. Panggil saja saya Taufiq."
"Baik, Pak. Eh Taufiq."
Yusuf tersenyum geli saat melihat ekspresi wajah Nabika yang menurutnya lucu.
"Kamu pegawai baru yah?" Tebak Taufiq karena ia baru melihat gadis itu.
"Saya hanya membantu teman saya. Kalau gitu saya harus pulang dulu. Karena masih ada yang harus di antar. Assalamualaikum."
"Bentar dulu, nama mu siapa?" Tanya Taufiq yang membuat langkah gadis itu terhenti.
"Nabila," Nabila berbalik dan tersenyum sekilas. Lalu melanjutkan langkahnya kembali pergi meninggalkan pria tersebut.
"Nama yang cantik seperti orangnya." Gumam Taufiq sambil tersenyum memandang gadis yang baru ia kenal. Namun membuat desiran aneh ditepian hati.
Seorang pria tengah duduk di kursi miliknya. Melamun akan kejadian tadi siang. Senyuman semakin lebar saat mengingat senyuman sang gadis.
"Anak Bunda kenapa senyum-senyum sendiri?"
Taufiq langsung tersenyum kikuk saat kepergok sang ibu. Ia jadi salah tingkah sendiri. Apalagi saat melihat mata ibuyya yang seperti akan mengintrogasi dirinya. Ia mengetahui pasti, ibunya itu akan menyerbu dirinya dengan seribu pertanyaan.
Handphone bergetar, dirinya langsung menghembuskan napas lega karena ia mempunyai alasan untuk pergi.
Sang Ibu langsung tersenyum dan geleng kepala melihat sang putera yang akhirnya bisa tersenyum kembali.
"Assalamualaikum?" Sapa Nabila saat masuk ke dalam toko.
"Waalaikumsalam, gimana ada gak orangnya?"
"Alhamdulillah ada, nih uangnya."
Nabila memberikan uang yang tadi ia terima dari pria yang memesan kue.
"Kok uangnya segini?"
"Kenapa kurang yah uang?" Balas Nabila panik.
Nabila langsung memasang wajah panik saat mendengarnya. Ia takut salah lihat harga, karena ia langsung buru-buru berangkat saat itu.
"Enggak, ini uangnya lebih,"
Rasa panik mulai berkurang. Namun, rasa bersalah masih ada karena ia salah melihat harga.
"Aduh gimana dong, Lia?"
"Udah gak apa-apa, tenang aja, dia orangnya baik kok. Dia gak bakalan marah. Dan gak usah khawatir dengan hal itu. Karena ia sering kesini."
"Tapi, Lia. Aku gak enak aja. Nanti di kira aku---"
"Hushh, jangan suudzon tak baik."
■■■■
"Gila lo, jadi lo lebih percaya sama Mella daripada istri lo sendiri!" Imam tak habis pikir bahwa Nabila pergi dan Azmi hanya membiarkannya. Apalagi Azmi lebih percaya Mella daripada Nabila, istrinya sendiri.
"Buktinya kan sudah jelas terlihat." Ucap Azmi dengan santainya.
"Gue gak habis pikir, gue benar-benar kecewa sama lo, Mi. Lo lebih milih Mella daripada istrimu yang sholelah. Lo hanya asal percaya doang tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu."
Imam sudah kesal dengan jalan pikir Azmi. Ia asal percaya saja tanpa mencari kebenarannya. Ia melakukan itu karena ia tak mau temannya itu menyesal dikemudian hari.
"Kebenarannya pun sudah terbukti. Nabila juga jujur kok kalau dia bertemu dengan pria itu."
Azmi beranjak dari duduknya. Ia tak ingin membicarakan masalah itu lagi. Ia tak ingin mendengar nama itu lagi.
Kini Taufiq sedang duduk di kursi taman. Dia sedang menunggu seseorang yang telah membuat desiran di tepian hatinya. Matanya masih menjelajah sekeliling taman, mencari sosok wanita yang ia tunggu.
"Assalamualaikum, Taufiq,"
"Waalaikumsalam, Nabila."
"Maaf, aku terlambat." ucap Nabila.
Nabila menunduk. Merasa tak enak karena telah terlambat datang. Inu karena jalanan macet. Hingga harus menempuh waktu lebih lama untuk ke taman.
"Ini pesanannya. Dan maaf kemarin saya salah harga seharusnya harga dua brownies itu bukan segitu. Tapi seratus tiga puluh ribu."
Taufiq tersenyum, "Tak apa. Aku memakluminya."
Setelah melakukan transaksi jual beli, Nabila pamit pulang. Karena hari ini harus membantu Amalia membuat kue yang banyak untuk pesanan.
Taufiq menawarkan Nabila untuk ia antar. Tapi, Nabila menolak karena ia harus ke pasar terlebih dahulu. Tapi sebenarnya bukan itu alasan utamanya. Ia tak mau bila terjadi fitnah. Apalagi sekarang ia sudah menjadi seorang istri.
Di lubuk hati yang paling dalam. Ia masih merasa bersalah karena telah kabur dari rumah. Tapi ia pun tak mampu untuk bertahan di rumah itu lagi.
♡♡♡♡♡
"Wah kayaknya anak Bunda sedang jatuh Cinta nih! "
Taufiq terperanjat kaget saat mendengar suara sang ibu.
"Eh, Bunda. Sejak kapan ada di sini?" Tanya Taufiq.
"Sejak kamu senyum-senyum sendiri."
Taufiq malu bukan kepalang karena sang bunda melihatnya sedang senyum-senyum sorang diri seperti orang gila.
"Cerita dong sama Bunda. Siapa sih yang buat kamu kayak gini. Kamu lagi jatuh cntakan?" Ucap ibu Taufiq sambil tersenyum jail.
Taufiq pun menceritakan tentang penyebab ia menjadi seperti itu. Ia tak bisa menyembunyikan sesuatu dari ibujya karena walaupun ia menutupinya pasti ia akan mengetahuinya.
"Jadi gadis penjual kue itu yang membuatmu seperti ini.Lain kali kamu kenalkan dia dke Bunda. Bunda ingin melihat wanita yang telah membuat kamu tersenyum lagi seperti ini."
Sri, bunda Taufiq bahagia karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat senyuman di bibir sang putra. Entah kapan terakhir kali ia melihat senyuman itu. Tapi yang pasti itu telah lama.
"Apaan sih, Bun. Baru aja kenal masa udah ngajak ketemuan sih."
"Gak apa-apa, malahan Bagus."