My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 11



Hari demi hari terasa cepat berlalu, keberadaan ibu mertua Nabila membuat suasana rumah lebih hangat dan ceria, namun kehangatan itu nampaknya akan segera sirna seiring bergantinya hari sebab hanya tiga hari lagi ibu Yuni akan tinggal di sana. Dan setelah itu ia akan pergi ke luar kota, dan pastinya akan mengembalikan keadaan dingin rumah yang mereka tinggali kini. Mungkin tidak akan ada lagi keceriaan, kehangatan dan kasih sayang yang belakangan ini Nabila rasakan.


Suasana pagi sangat hangat, mentari bersinar dengan terangny, seolah menyambut pagi mereka dengan senyum yang membara. Meja makan sudah dipenuhi dengan roti tawar yang masih dalam bungkusnya, ada pula dua macam selai yang sudah termakan sebagian dan tak lupa ada secangkir kopi panas, teh hangat tanpa gula, dan air putih, air minum Nabila yang hangat suam-suam kuku.


Selesainya Azmi menghabiskan segelas kopi dan satu tangkap roti tawar dengan selai kacang, ia kemudian mengambil tas kerjanya yang berada tepat disisi kanannya, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri ibu nya yang duduk disamping kirinya.


"Ma, Bila. Azmi pamit berangkat kerja dulu ya," pamit Azmi sembari mencium punggung tangan ibunya. Dan tak lupa Nabila pun menyalami tangan suaminya , Azmi pun membalasnya dengan mengecup kening Nabila dengan mesra.


"Ma, Nabila antar mas Azmi kedepan dulu ya," pamit Nabila untuk mengantar Azmi sebelum ia keluar dari ambang pintu.


Azmi dan Nabila pun pergi keluar bersamaan. Sebelum Azmi masuk ke dalam mobilnya untuk berangkat, tiba-tiba Azmi melontarkan kata-kata,


"Ingat semua yang aku lakukan itu hanya sandiwara, bukan nyata. Dan kamu jangan berharap kalau aku akan mencintaimu karena cintaku hanya untuk kekasihku."


Deg. Ucapan Azmi membuat Nabila seperti tertusuk pedang untuk kesekian kalinya. Sakit. Nyeri. Itulah yang dirasakan Nabila sesaat setelah mendengar ucapan suaminya.


Selama ibu mertuanya berada di antara mereka, Nabila sangat mengharapkan cinta Azmi akan tumbuh seiring berjalannya waktu, dan bisa menerima Nabila dengan segenap hati. Seperti hati Nabila yang sudah menerima Azmi walaupun itu membuatnya merasakan sakit bertubi.


Benar, memang Nabila telah mencintai Azmi. Cinta mulai tumbuh dihatinya seiring berjalannya waktu. Seperti pepatah Jawa "Tresno Jalaran Soko Kulino." begitupula posisi Zain di hatinya yang telah tergantikan oleh Azmi.


Yang mana dulu di hatinya terselip nama "Zain," tapi nama itu kini berubah menjadi "Azmi." Walaupun Nabila tahu, butuh waktu lama untuk Azmi mencintainya. Atau bahkan tidak mungkin. Tapi Nabila tak putus asa, ia tetap yakin suatu saat nanti Azmi akan mencintainya. Karena Allah maha membolak-balikkan hati. Insyaa Allah dengan izin Allah, Azmi bisa mencintainya, seperti ia mencintai Azmi. Manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a, dan selebihnya Allah yang mengatur. Karena skenario Allah adalah yang terbaik.


Do'a tanpa usaha itu bohong. Usaha tanpa do'a itu sombong. Jadi kita harus melakukan keduanya untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi ingat, Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.


 Semenjak tinggal bersama menantunya. Ibu Yuni selalu giat untuk pergi ke majelis taklim. Karena Nabila selalu mengajak mertuanya untuk pergi ke majelis. Ibu Yuni pun tak menolaknya, karena sudah lama sekali ia tak pergi ke majelis, sebab ia harus bekerja untuk mencari nafkah. Betul, karena sifat ibu Yuni yang tidak suka diam di rumah karena hanya akan mendatangkan rasa malas dan pada akhirnya akan cepat menua.


  Ibu Yuni tahu kalau menuntut ilmu itu tidak hanya saat sekolah saja, bahkan setelah menikah pun masih siperbolehkan menuntut ilmu. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.


  Ibu Yuni merasa senang saat diajak ke majelis. Bukan hanya ia mendapatkan ilmu tapi juga menjalin silahturahmi dengan ibu-ibu lain yang mengikuti majelis taklim di masjid. Dan disana tidak hanya ibu-ibu saja yang datang, namu ada pula anak remaja.


  Setelah pergi ke majelis. Nabila tidak sengaja bertemu dengan Zahra, adik dari Zain dan memperkenalkannya pada ibu mertuanya.


"Assalamualaikum." Ucap Zahra santun.


"Waalaikumsalam," jawab menantu dan mertua serentak.


"Kak Nabila ya?" Tanya Zahra memastikan, apakah benar itu Nabila yang ia kenal atau bukan.


"Iya, kamu Zahra ya?" Ucap Nabila memastikan.


Mereka pun berpelukan. Melampiaskan rasa rindu karena sudah lama tak berjumpa. Akhirnya Allah pun mempertemukan sepasang sahabat serasa saudara itu kembali.


"Zahra, kau kemana saja?" Tanya Nabila sambil melepaskan pelukannya.


"Aku pergi ke kota Bandung untuk melanjutkan kuliah, kak." Jawab Zahra sambil menitihkan airmata, karena ia tak menyangka akan bertemu dengan orang yang ia cintai.


"Bagaimana kabarmu, Zi?" Kata Nabila menanyakan kabar dengan memanggil nama panggilan Zahra sejak dulu. "Zizi"


"Alhamdulillah baik, kak. Kaka sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah, kaka sehat." Balas Nabila tersenyum.


"Ibu itu siapa, Kak?" Bisik Zahra pelan.


"Beliau adalah ibu mertuaku," ucap Nabila menggandeng tangan ibu Yuni.


"Mama kenalkan, ini Zahra sahabat yang aku anggap sebagai saudara." Nabila memperkenalkan Zahra pada ibu mertuanya.


"Saya Zahra, tante," Zahra tersenyum manis. Setelah itu menyalami tangan ibu Yuni.


"Saya Yuni, mertuanya Nabila," balas ibu Yuni dengan senyuman.


  Setelah berbincang-bincang. Zahra pamit pulang karena ia harus menyambut sang kakak yang pulang dari Surabaya.


●●●


Setelah pulang dari majelis dan bertemu dengan Zahra. Nabila pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan karena banyak yang sudah habis. Sebenarnya ibu Yuni ingin ikut tapi Nabila melarangnya. Karena takut ibu mertuanya kecapean karena harus berkeliling pasar apalagi cuaca yang sangat terik.


  Karena cuaca terik, setelah dari pasar Nabila berniat pergi ke sebuah kafe untuk membeli minuman dingin untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Baru saja Nabila menginjakkan kaki di kafe tersebut. Langkahnya langsung terhenti, badannya gemetar, pandangannya mulai kabur karena airmata yang mulai menggenang. Belanjaan ditangannya pun jatuh berarakan.


  Nabila tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang wanita dengan baju warna toska tengah duduk bersama pria berkemeja putih kebiruan. Mereka berdua nampaknya sedang mengobrol asyik dan sesekali tertawa. Tawa lepas seolah tanpa beban, jauh berbera dengan apa yang ia lihat dan rasakan.


Ingin sekali Nabila pergi dari sana. Tapi kakinya serasa di rantai dengan pendulung besi yang teramat berat, sampai seolah kakinya tak mampu untuk menopang tubuhnya lagi. Tapi ia harus tetap kuat, dan tak boleh lemah.


Nabila tahu posisinya hanya sebagai istri yang tak diinginkan. Apakah ia berhak marah, saat melihat suaminya bersama wanita lain? Tapi ia takut dibilang egois karena harus memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai. Nabila melihat pancaran bahagiaan di wajah keduanya.


Dengan langkah pelan, Nabila menghampiri kedua sejoli tersebut. Semakin dekat dadanya semakin sakit seperti tertusuk pedang bertubi-tubi.


"Sayang, aku ingin kamu cepat menceraikan Nabila," rengek Mella sambil memandang wajah Azmi lekat-lekat.


"Aku akan berusaha, aku akan membuat Nabila tak betah bersamaku," ucap Azmi meyakinkan Mella.


"Oh ya, Mi? Aku tak sengaja melihat snap WA ibumu. Disana kau tengah memeluk Nabila." Raut wajah Mella terlihat sedih.


"Tenang itu semua hanya sandiwara belaka, agar mamaku percaya kalau aku sangat menyayangi menantunya itu."


"Kamu bener, kan." Ucap Mella memastikan untuk kesekian kalinya.


Azmi mengangguk, meyakinkan kalau cintanya hanya untuk wanita yang ada dihadapannya sekarang.


"Mas. . ." lirih Nabila setelah berada di dekat meja pasangan sejoli itu.


Azmi terkejut saat melihat Nabila berada di depannya. Apakah Nabila mendengar apa yang di ucapkan Azmi tadi? Tapi mengapa Azmi tak ingin melihat Nabila bersedih, setelah melihat wajah polos wanita yang kini tepat berada di belakangnya. Tapi bukankah ini keinginannya untuk melihat wanita yang berstatus sebagai istrinya sedih dan tersiksa.


  Azmi langsung berdiri begitu pun Mella, dia terkejut saat melihat Nabila yang sekarang sudah ada tepat di belakang dua sejoli itu..


"Ikut aku." Ucap Azmi sembari menarik tangan Nabila keluar kafe dan mencari tempat yang sepi. Sedangkan Mella masih terdiam dan memandangi kedua insan yang keluar terburu-buru itu.


  Kini Nabila dan Azmi tengah berada di tempat parkir. Tempat nya sangat sepi tidak ada orang yang berlalu lalang.


"Kenapa kau kesini?" Tanya Azmi kesal.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa mas pergi dengan wanita itu?" Kata Nabika membuka suara setelah lama membisu.


"Itu bukan urusanmu, mau aku bersama siapa itu urusanku, kau tak berhak ikut campur!" Bentak Azmi cukup keras.


"Aku berhak ikut campur, karena aku istrimu!" Suara Nabila mulai tercampur dengan isak tangis.


Entah mengapa saat mendengar isak tangis Nabila, hati Azmi merasa nyeri, seperti perasaan sakit tapi entah dari mana asalnya. Namun dengan emosi Azmi membuang jauh-jauh rasa itu.


"Iya kau adalah istriku, tapi aku tak menginginkan dirimu. Apakah kau cemburu hah?" Balas Azmi marah.


"Iya aku cemburu, saat melihat mu bersama wanita itu, wanita mana yang tak cemburu saat melihat suaminya bersama wanita lain!" Emosi Nabila sudah tak bisa terkontrol, air matanya mulai mengalir bagaikan deburan hujan.


"Tapi aku tak peduli. Walaupun kau mencintaiku, tapi cintaku hanya untuk kekasihku, Mella. Dan kau tak berhak melarang ku!" Ucap Azmi tak peduli dengan apa yang dirasakan Nabila saat itu.


"Kamu lebih memilih wanita seperti itu dibanding istrimu sendiri? Wanita yang tak punya malu, yang berkencan dengan suami orang. Sungguh memalukan." Ucap Nabila dengan tawa miris. Entah keberanian dari mana ia bisa mengatakan hal itu.


Mendengar perkataan Nabila, emosi Azmi akhirnya meledak. Hampir saja tangannya mendarat di pipi halus Nabila, namun ada tangan seseorang yang menahannya.


"Jangan kau sakiti wanita. Bila kau menyakiti wanita sama saja kau menyakiti ibumu sendiri. Ingatlah kau terlahir dari seorang wanita maka dari itu kau jangan menyakitinya. Wanita itu seharusnya di lindungi bukan di lukai. Dia makhluk yang lemah yang harus di beri kasih sayang bukan siksaan. Jangan sesekali kau membuatnya menangis karena jika wanita menangis karena disakiti oleh pria, maka setiap langkah pria itu di kutuk oleh malaikat." Ungkap orang tersebut yang berada di samping Azmi sambil menahan tangannya.


Azmi dan Nabila terkejut saat melihat orang yang menolong Nabila. Nabila bersyukur karena Allah masih memberikan pertolongan padanya disaat yang tepat.


Namun tangis Nabila tidak mampu ia bendung lagi, ia menangis dengan sakitnya. Pria yang ia cintai hampir saja melayangkan pukulan yang tak berharga sebab membela cinta yang tidak semestinya.