
Mereka pun masuk ke dalam mobil Naya dan kemudian mulai mengobrol panjang.
"Samuel, aku akan menceritakan semuanya,dari awal sampai akhir,kau harus mendengarkan aku baik-baik,apa kau mengerti?" tanya Naya kepada Samuel yang kini duduk di sebelah nya.
"Aku mengerti,"jawab Samuel penuh semangat.
"Tiga tahun lalu, aku di fonis sakit gagal jantung oleh dokter, setelah aku bercerai dengan ferdi, lalau saat itu lah aku merasa ini adalah karma daei kejahatan ku terhadap Moza,tau hidup ku yang sudah tidak lama lagi,aku pun memutuskan untuk mencari keberadaan Moza, karena aku ingin meminta maaf kepada nya," Naya dengan mata berkaca-kaca.
"Lanjutkan,"
"Ya, siang itu hujan cukup deras,aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dan aku menabrak seseorang yang berhenti di tengah jalan sambil membawa sebuah koper, dan kau tau siapa dia? Dia adalah Moza istri mu,"
"Siapa?" tanya Samuel perasaan.
"Kau tau siapa dia? Dia adalah Moza, aku menabrak nya dia terpental beberapa meter jauh dari mobil ku, aku sungguh kecewa,aku benar mencari nya untuk minta maaf, tapi aku malah membuat nya menderita, singat cerita aku membawa nya ke RS dan dia di tangani oleh dokter, dokter pertama tidak bisa melakukan operasi karena dia sedang hamil, dia tidak mau ambil resiko, lalu datang lah dokter Robi, dia lah yang menyangupi untuk operasi Moza," jelas Naya panjang lebar bercerita tentang tiga tahun lalu.
"Lalu?" tanya Samuel dengan suara serak menahan kesedihannya.
"Ya, operasi nya memang berjalan lancar, tapi dokter Robi mengatakan jika kandungan Moza bermasalah dan harus mendapatkan perawatan yang khusus, jadi aku memohon kepada dokter Robi untuk membantu nya, setelah itu dokter Robi mengatakan jika dia akan pindah ke luar negeri, dan jika Moza bersedia dia akan membawa Moza, ya aku mengatakan semua itu kepada Moza, dan Moza menyetujui nya, dia juga sudah terlalu kecewa dengan mu dan tidak ingin kau menemuinya lagi, lalu mereka pergi, ke, kota x ya kota x," jelas Naya sambil menatap Samuel.
Mata Samuel terlihat berkaca-kaca mendengar penjelasan dari Naya barusan, tak di sangka Moza melewati masa yang begitu sulit pada saat itu, sedangkan dirinya malah mengurus Sonya yang sedang bersandiwara.
"Aku pikir kau bisa pergi ke kota x dan menemuinya, tapi mungkin tidak akan mudah untuk menemui Moza," jelas Naya lagi.
"Terima kasih atas informasi yang sudah kau berikan padaku, aku berjanji akan membantu perusahaan papa mu supaya tidak bangkrut,"jelas Samuel kepada Naya.
"Terima kasih banyak Samuel, aku harap kau menempati janji mu," jelas Naya lagi.
" Tentu saja," jawab Samuel.
Setelah selesai berbincang beberapa menit Samuel pun ijin keluar dari dalam mobil Naya.
"Moza, maaf kan aku, tapi mungkin hukuman Samuel sudah cukup sampai di sini, dia ternyata tidak pernah putus asa mencari keberadaan mu selama tiga tahun,aku harap kalian akan kembali bertemu," batin Naya yang kemudian menyalakan mesin mobil nya dan melaju meningal kan tempat itu.
Flashback off
"Kak, Romeo, kami pergi dulu," ucap Samuel sambil memegang kursi roda sang mama.
Ya, Samuel tidak lah meningal kan sang mama, dia memilih untuk membawa mama nya pergi bersama karena kondisi mama nya yang masih dalam keadaan struk dan kini sudah tidak bisa lagi berbicara.
"Ya, tuan muda, hati-hati," ucap Romeo yang sebenarnya sedih atas kepergian Samuel, karena kini perusahaan Samuel akan di percayai kepada nya dan Nara, pasti akan sangat sulit mengurus perusahaan tampa seorang CEO.
"Samuel, kau harus menjaga bibi, dengan baik, hati-hati di sana," ucap Nara sebagai pesan perpisahan.
"Baik lah, terima kasih," jawab Samuel.
"Dan satu lagi, bawa Moza kembali," ucap Nara dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan membawa nya kembali kak, aku permisi, Romeo, jaga Nara dan Celsy," ucap Samuel yang kemudian melangkah kan kaki nya meningal kan Nara dan Romeo.
Romeo mengangguk sambil menatap punggung Samuel yang kian menjauh.
Sementara itu kini Nara dan Romeo sudah kembali ke kantor.
"Permisi," ucap Naya yang ternyata sudah menunggu Romeo di kantor nya Samuel.
"Em, kau? ... " Romeo terlihat mengingat Naya.
"Aku Naya,", ucap Naya mengulur kan tangan nya kepada Romeo.
"Ah, iya, Naya, maaf membuat mu lama menunggu, apa papa mu juga ke sini?" tanya Romy sambil menyambut uluran tangan Naya.
Sementara itu Nara menatap mereka dengan tatapan tidak suka.
"Heem,jika ada perlu sebaiknya kita masuk ke dalam saja ya," ucap Nara yang kemudian berjalan mendahului Naya dan Romeo.
"Tunggu, aku tidak datang bersama papa ku, Nara, aku hanya ingin memberikan berkas ini untuk di tanda tangani oleh Romeo sebagai wakil Samuel sekarang,"jelas Naya dengan sopan sambil memberikan dua dokumen penting yang di titipkan papa nya kepada nya.
"Ah baik lah, terima kasih, aku akan membacanya terlebih dahulu, besok kau bisa datang lagi untuk mengambil nya, setelah aku menandatangani nya," Jawab Romeo.
"Siap, kalau begitu aku permisi," ucap Naya yang kemudian berjalan meninggalkan kantor itu.
Sementara Nara terlihat sangat cemburu dengan Romeo yang terus bicara dengan Naya dengan senyumnya.
"Ayo sayang," ucap Romeo sambil memegang tangan Nara, hendak mengajak nya masuk ke dalam kantor.
"Nyenyenyen," ucap Nara sambil berjalan mendahului Romeo.
Sontak Romeo kaget melihat sikap tuanangan nya seperti itu, entah apa yang terjadi Romeo pun tidak mengerti padahal tadi baik-baik saja.
Ia pun mengejar Nara untuk bertanya.
Sementara itu jauh di kota x
"Hansel ... Hansel Kau di mana sayang? Ayo mandi, air nya sudah nenek siap kan!" ucap seorang wanita tua sambil berjalan dan melirik ke seluruh ruangan di dalam rumah itu.
Wanita tua itu terlihat mencari seseorang dengan sangat hati-hati ia melihat ke seluruh sudut ruangan sambil memangil-manggil.
"Astaga di mana anak itu?" batin wanita tersebut sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Pandangan nya yang sudah sedikit memburam karena faktor usia, membuat nya tidak bisa teliti melihat ke seluruh sudut ruangan.
"Nen-nenek," tiba-tiba suara kecil, imut dan lirih memangil nya, suara itu muncul di sertai suara langkah kaki kecil yang berbunyi di atas lantai keramik di ruang tengah rumah tersebut.
"Astaga, Hansel,nenek sudah mencari mu di mana-mana, kau ini paling pintar bersembunyi ya, ayo sekarang cepat mandi sebentar lagi momy mu akan kembali dari toko," ucap wanita tua tersebut sambil mengendong bocah itu lalu membawa nya masuk ke dalam kamar mandi.
"Momy, momy, puyang? Nenek," ucap nya dengan sedikit celat.
Ya namanya juga anak kecil yang baru bisa bicara, Ansel hanya mampu mengucapkan beberapa kata-kata yang sering di dengar nya saja.
Bersambung ....