
"Mas, apa yang harus aku lakukan? Mengapa mam mu, malah membawa perempuan itu kembali? Aku kembali mengingat masa lalu itu saat melihat wajah perempuan itu," ucap Moza kepada Samuel setelah ia sedikit tenang dan kemudian melepaskan pelukan nya.
"Dengarkan aku, yang mama katakan itu benar, dia memegang adalah teman masa kecil ku, mungkin ini saatnya kau tau kesalah pahaman yang lihat di sekolah beberapa tahun lalu murni adalah salah paham," ucap Samuel kepada Moza.
"Maksud nya?" tanya Moza lagi.
Flashback on
"Samuel, tolong aku, mata ku kelilipan, ini sangat sakit tolong," ucap Sonya berlari menghampiri Samuel yang lada saat itu sedang menunggu Moza keluar dari dalam kelas nya.
" Ada-ada saja, coba aku lihat," ucap Samuel polos dan kemudian melihat mata Sonya yang katanya kemasukan sesuatu.
Namun saat Samuel memeriksa mata Sonya, Sonya ada seseorang yang berlari di belakang Sonya dan menyenggol Sonya, sehingga bibir Sonya pun tampa sengaja mengenai bibir Samuel.
Bertepatan saat itu, Moza pun keluar dari dalam kelas nya, dan melihat pemandangan yang seharusnya tak di lihat nya itu.
"Kalian ... " ucap Moza dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Mendengar suara Moza, Samuel pun sontak menoleh dan melihat Moza yang sudah pasti sedang salah paham sekarang.
"Moza, ini tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Samuel mendorong Sonya dan kemudian berjalan menghampiri Moza.
"Tidak seperti yang aku pikirkan? Memang nya apa yang aku pikirkan setelah melihat semua ini? Ternyata benar, laki-laki semuanya bajngan!" marah Moza yang kemudian berlari meninggalkan Samuel.
Sejak saat itu lah, Moza selalu menjauhi Samuel, ia bahkan meminta orang untuk mengatakan kepada Samuel jika dirinya sudah menemukan laki-laki lain.
Samuel pun kecewa, ia tidak menyangka Moza bisa mengantikan dirinya dengan secepat mungkin padahal ia masih belum sempat menjelaskan apapun, dari sini lah keduanya sama-sama marah dan saling menyimpan rasa sakit masing-masing.
Flashback off
"Hiksss, maaf, maaf kan aku, aku mungkin salah pada saat itu, tapi aku juga tidak bisa menerima kehadiran Sonya di sini, aku khawatir aku tidak bisa percaya dengan mu lagi seperti dulu," jelas Moza dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya.
"Sayang, tenang lah, dia bukan siapa-siapa bagi ku, aku tidak akan membuat mu salah paham, tenang, aku pelan-pelan akan bicara kepada mama untuk mencarikan tempat tinggal lain saja untuk Sonya," bujuk Samuel yang memegang kedua pipi sang istri yang amat di cintai nya.
"Baik lah," jawab Moza pasrah.
Tampa terasa, jam makan malam pun sudah tiba.
Kini Moza dan Samuel keluar dari kamar untuk makan malam.
Terlihat mama Ema sudah duduk di kursi meja makan bersama dengan Sonya yang saat ini sedang sibuk menyajikan makanan.
"Di mana para pelayan? Mengapa kau yang menyajikan makanan?" tanya Samuel kepada Sonya.
Sementara Moza hanya diam dan menatap tidak suka kepada Sonya.
"Em, mama yang meminta Sonya untuk membantu mama menyiapkan makanan, karena para pelayan sedang banyak pekerjaan lain," jawab mama Ema.
"Iya Samuel, duduk lah, aku sudah menyiapkan makan untuk mu," tutur Sonya.
"Sayang, bagaimana jika kita makan di luar saja? tanya Samuel sambil memegang erat-erat tangan Moza yang kini terlihat sedang menahan emosi nya.
"Tidak apa, makan di sini saja," jawab Moza dingin dan kemudian menarik kursi lalu kemudian duduk.
Samuel pun menuruti keinginan Moza, dia pun duduk di samping Moza.
"Samuel, ini makanan kesukaan mu kan? Sini aku ambilkan," ucap Sonya yang hendak mengambil piring Samuel.
Namun dengan cepat Moza memegang piring tersebut dan menatap tajam ke arah Sonya.
"Dia suamiku, hanya aku yang berhak melayani nya, kau urus saja dirimu sendiri, kau juga pasti tidak makan dengan benar sehingga badan mu sekurus itu bukan?" tutur Moza sambil tersenyum miring dan kemudian menyiapkan nasi dan lauk pauk ke piring Samuel.
Sementara itu Samuel yang awalnya tidak enak hati, malah jadi tersenyum-senyum sendiri mendengar perkataan istri nya, rasanya ia cukup bahagia melihat kecemburuan yang saat ini di perlihatkan oleh Moza.
"Em, maaf kak, aku hanya bermaksud baik, karena aku dan Samuel sudah bersahabat sejak kecil, maaf kalau aku salah," ucap Sonya sok kalem dan baik hati.
"Kak? Aku pikir aku belum cukup tua untuk kau panggil kak, jadi pangil aku Moza saja, siapa tau usia mu lebih tua dari aku, dan itu kelihatan," jawab Moza lagi.
Sementara mama Ema hanya menatap mereka secara bergantian.
"Moza ini penuh wibawa, mengapa aku tidak melihat sosok kejam yang di ucapkan oleh Bu Yani dalam dirinya?" batin mama Ema mulai kebingungan dengan dirinya sendiri.
"Sayang, sudah, ayo makan," ucap Samuel sambil tersenyum dan memegang tangan istri nya itu.
Tiga puluh menit kemudian, mereka pun selesai makan, Samuel dan Moza pun memutuskan untuk kembali ke kamar mereka, begitu juga dengan Sonya dan mama Ema.
Sementara itu di kamar Sonya.
"Arghhh! Mengapa susah sekali? Dia bahkan banyak berubah sekarang, dulu dia sangat lemah dan mudah salah paham, kenapa sekarang malah jadi sekuat itu? Dia bahkan mampu mempermalukan aku!" ucap Sonya sambil memukul-mukul bantal guling nya.
Sonya terlihat kesal, dengan Moza tadi, karena dirinya beberapa kali kalah dalam jawab kata dengan Moza di meja makan, dirinya bahkan di bilang tua dan kurus kering oleh Moza.
"Aku tidak boleh menyerah, aku harus mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Sonya tampa kata menyerah.
Sementara itu di kamar Samuel.
"Sayang, sudah selesai?" ucap Samuel yang memeluk Moza dari belakang.
Saat itu Moza barus saja selesai mandi dan hanya mengunakan handuk di tubuh nya.
"Aihh, lepas aku ingin mengenakan pakaian," ucap Moza berbalik menatap Samuel.
"Kau sangat cantik dan pintar," ucap Samuel lagi.
Sementara Moza hanya menaikkan satu alisnya, menandakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Samuel barusan.
"Maksudnya?"
"Iya, kau bisa menjawab ucapan Sonya, kau bahkan juga bisa membuat dia mati kutu di hadapan mu,"
Moza tersenyum mendengar perkataan Samuel barusan, dia melakukan hal ini karena tidak ingin kehilangan laki-laki itu untuk kedua kalinya.
"Sudah lah, jangan memuji ku terus-menerus seperti itu, sebaiknya sekarang kau mandi, bau badan mu sudah hampir ingin membuat aku muntah,"
Moza mengatakan itu sambil menutup hidung nya.
"Mana mungkin?" tanya Samuel sambil mencium baju yang dia gunakan.
"Sudah, mandi sana, aku tidak tahan mencium bau mu itu," ucap Moza lagi.
Mendengar itu, Samuel pun bergegas mengambil handuk nya dan berjalan ke dalam kamar mandi untuk segera mandi.
"Hahah, dasar bodoh, kau saja aku tipu," tawa Moza yang kemudian buru-buru mengunakan pakaian nya.
Keesokan harinya.
Jam menujukkan pukul 11:00 siang.
Terdengar suara ponsel Moza yang berdering, menandakan bahwa ada panggilan masuk.
Drtttt ... Drttt ... Drttt ...
Moza yang saat itu sedang sibuk menyisir rambutnya pun bergegas mengambil ponsel nya dan melihat pangilan masuk tersebut.
Terara nama Suamiku di layar ponsel tersebut.
Moza pun segera menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
Call on
"Hallo sayang," ucap Samuel di sebrang telpon.
"Iya, mas, ada apa?" tanya Moza lagi.
"Sayang, maaf aku menganggu mu, tapi bisa kah aku meminta bantuan mu? Berkas penting untuk rapat siang ini tertinggal di meja kerja ku, bisa kah aku meminta mu untuk mengantarkan nya?" tanya Samuel tudepoin di serbang Telpon sana.
"Astaga, baik lah, akan segera aku antar," ucap Moza yang kemudian mematikan telepon secara sepihak.
"Hati ha ..." Tut Tut Tut.
Call of
Bersambung ....