
Kini ruangan tempat dimana Azmi di rawat menjadi ramai. Bukan karena obrolan keluarga atau pun teman sebaya. Namun, karena Mella datang ke sana. Bising, tentu saja karena sedari tadi Mella terus berceloteh.
"Apa ada yang sakit yang?" Tanya Mella sambil menatap wajah Azmi.
"Tak ada." Jawab Azmi singkat, jelas, padat.
"Mi aku rindu, sangat rindu padamu. Maaf aku baru menemuimu karena waktu itu Imam melarangku untuk menjengukmu." Perempuan berambut blonde itu menggenggam tangan pria yang berstatus sebagai kekasihnya dan juga sebagai suami dari oranglain.
"Aku pun rindu, sangat rindu." Azmi membalas genggaman Mella sambil menatap wajahnya.
Menangis. Hanya itu yang dilakukan Nabila, saat mendengar percakapan kedua insan yang di landa rindu. Kata-kata rindu yang terucap dari bibir mereka bak sebuah pedang yang mencabik-cabik hatinya hingga hancur berkeping-keping. Apakah harus dirinya bertahan melihat ini semua dan mempertahankan rumah tangganya.
Ingin Nabila melakukan sesuatu, berkata semua yang ada di dalam kalbu. Namun semua itu hanya ada dalam pikirannya saja, karena ia merasa takut. Tapi Nabila pun tak bisa berdiam diri saja, ia harus melakukan sesuatu agar mereka tak memiliki hubungan lagi. Karena ia pun tahu itu adalah perbuatan yang salah. Apa yang harus ia lakukan, agar mereka tidak lagi menjalin hubungan terlarang tersebut.
Apakah Nabila harus mundur dan mengalah dan mempersatukan mereka. Tidak, itu tidak mungkin.
"Nabila," sapa seseorang menepuk pundak Nabila.
"Astagfirullah," ucap Nabila terperanjat kaget saat seseorang menepuk pundaknya.
"Nabila kamu kenapa?" Tanya orang tersebut.
"Kak Imam, aku tidak apa-apa," Nabila langsung menghapus air matanya yang entah sejak kapan mengalir.
"Kamu bohong," ucap Imam. Ia langsung membuka pintu saat mendengar suara pria dan wanita yang sedang berbicara.
"Mella!" Ucap Imam dengan suara yang meninggi. Ia lupa jika dirinya sedang berada di rumah sakit.
Kedua insan itu langsung mengarahkan mata mereka ke arah sumber suara.
"Apa kalian sudah tak punya hati! Dimana hati kalian? Kau Mella, kau tahu bukan bahwa Azmi itu sudah berkeluarga dan kau masih memiliki hubungan dengan pria ini. Kau itu wanita, seharusnya kau tahu bagaimana rasanya menjadi Nabila. Ups, kau kan tak punya hati. Aku lupa," Imam tertawa remeh di akhir ucapannya.
"Dan kau Azmi, kau itu sudah mempunya seorang istri. Istri yang sangat baik, sholehah. Tapi kenapa kau malah menyia-nyiakannya. Seharusnya kau bersyukur. Kau malah memiliki hubungan dengan mantanmu. Ck, dimana hatimu." Sambung Imam menggelengkan kepalanya. Cerita yang biasanya ia tonton di TV, kini ia menyaksikannya sendiri, bahkan sahabatnya yang menjadi peran utama dalam cerita itu.
"Kau tak usah ikut campur, kau itu sahabatku. Jangan ikut campur dalam rumah tanggaku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Ucap Azmi dengan nada tak suka karena sahabatnya ikut campur dalam urusannya.
"Iyah aku sahabatmu, bahkan aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku. Aku seperti ini bukan aku ingin ikut campur. Namun, aku tak ingin suatu hari kau akan menyesal karena telah menyia-nyiakan istrimu demi wanita urakan seperyi dia."
"Sudah aku tidak ingin kalian ribut hanya karena aku. Dan aku gak mau hubungan kalian berantakan hanya karena aku." Ucap Nabila menangis.
"Tapi Bila... "
"Sudah kak, aku mohon kakak sekarang pergi dari sini. Aku gak mau terjadi keributan lagi disini. Aku mohon kak." Ucap Nabila dengan suara lemah karena sudah lelah menangis.
Imam mengangguk setelah itu pergi keluar ruangan. Lebih baik ia pergi untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran. Karena jika ia berada disana pasti suasan akan semakin keruh.
Di sisi lain, Azmi mengisyaratkan Mella agar pulang, karena ia ingin menenangkan diri. Mella pun mengerti, walau dirinya belum ingin pergi. Namun, jika ia tetap disini pasti Azmi akan marah. Perempuan kulit putih itu pun pergi tanpa berpamitan kepada Nabila, hanya tatapan tajam yang ia diberikan. Seolah ia ingin membalaskan dendamnya pada Nabila
Sunyi. Tak ada kata yang keluar dari kedua insan tersebut. Keduanya hanya bergeming, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Apakah Nabila harus mundur dan pergi. Untuk apa dia disini, jika hanya untuk disakiti. Dimana suami yang seharusnya menyayangi tapi malah menyakiti tiada henti. Hancur, itulah kata yang mendeskripsikan tentang dirinya. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Namun, mengapa ia masih bertahan. Apakah ini yang dinamakan 'The Power of Love'. Saat sudah disakiti tapi masih ingin mempertahankannya?
Mungkin suatu saat jika Nabils akan pergi, pergi jauh. Mengalah untuk kebahagian orang yang dicinta.
Menyia-nyiakan. Apakah benar seorang Azmi telah menyia-nyiakan Nabila. Namun ia tak merasakan. Apa mungkin karena dirinya telah di butakan oleh Cinta sampai ia tak menyadarinya.
■■■
"Kak, kakak gak boleh berkata seperti itu. Sebagaimana kita benci kepada seseorang. Namun kita tak boleh seperti itu. Itu sama saja berbahagia di atas penderitaan orang lain. Seharusnya kita mendoakan agar dia cepat sembuh." Hanny tak habis fikir jika kakaknya akan berbicara seperti itu.
"Sudahlah jangan bahas itu lagi. Aku tak ingin mendengarnya." Zain beranjak menuju halaman belakang. Ia ingin menetralkan pikirannya.
Rindu. Apakah salah jika ia merindukan gadis pujaannya yang sudah memiliki seorang suami. Apa masih boleh ia mengharapkannya agar bisa bersamanya sampai akhir hayat.
"Astagfirullah, sadar Zain, kau tak boleh memikirkannya," pria itu mengusap wajahnya sambil menasehati dirinya sendiri.
"Azmi, bila kau menyakiti Nabila lagi. Aku tak segan-segan akan membuatmu menyesal seumur hidup," sambung Zain dengan penuh ambisi.
■■■■
Nabila melirik ke sekitar taman sambil sesekali melirik arlojinya yang berada di tangan kirinya. Sore tadi Hanny mengirim pesan bahwa ia ingin bertemu setelah isya di taman yang tak jauh dari Rumah Sakit.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam," balas Nabila sambil membalikkan badannya.
Nabila kaget saat bukan hanya Hanny yang datang. Tapi Zain pun ikut bersama Hanny.
"Oh ya Hanny ada apa kau ingin bertemu?" Tanya Nabika langsung pada intinya.
"Jadi gini, aku pengen pamit sama kak Bila. Soalnya besok aku mau pergi ke luar kota untuk meneruskan usaha orangtua kami."
"Kenapa dadakan banget, Han?"
"Sebenarnya ini sudah direncanakan sejak lama. Tapi aku baru ngasih tahu kakak sekarang. Karena sudah hampir seminggu ini kakak kan ngejagain suami kakak."
"Oh ya, adik kamu mana kok gak ikut?" Tanya Nabila saat menyadari Zahra tidak ada.
"Dia ada di dalam mobil sedang tidur. Mungkin dia lelah." Kini Zain ikut menimpali setelah diam tak unjuk suara.
Nabila hanya tersenyum menanggapi jawaban Zain. Bukan karena apa-apa tapi yang di tanyakan sudah terjawab jadi ia tak kan bertanya lagi.
"Bagaimana sekarang keadaan kak Azmi?" Kini Hanny bertanya kembali.
"Alhamdulillah, sudah mulai membaik. Dan kata dokter besok atau lusa dia boleh pulang,"
"Alhamdulillah, semoga lekas sembuh. Syafakallah,"
"Makasih Han, Aamiin."
"Yasudah, kami pergi dulu, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Setelah saling menitip salam, Hanny dan Zain pun pamit untuk pergi ke stasiun kereta.
"Mengapa kak Zain harus ikut," gumam Nabila sambil menatap kepergian mereka sekilas.
Bukan karena benci. Tapi semakin Nabila bertemu dengan Zain dirinya semakin merasa bersalah padanya.
Kini Nabila pun ikut berlalu meninggalkan taman. Tanpa mereka sadari seseorang telah mengikuti Nabila sedari tadi dan memotret mereka.
"Hmm, aku akan balaskan dendamku padamu. Karena kau telah mempermalukanku,"