
Sementara Moza malah di buat semakin kebingungan oleh sikap perempuan tersebut yang seolah sudah biasa bertemu dengan nya.
"Bi,bi Juni, ini Moza, dia adalah Moza," ucap Robi sambil memegang tangan BI Juni dengan tatapan penuh iba terhadap Bu Juni.
BI Juni pun sadar setelah mendapat tatapan dari Robi, dia pun akhirnya ingat atas beberapa hari ini Robi sudah menceritakan banyak hal tentang Moza yang akan menempati rumah itu.
"Ah, maaf nona Moza, bibi mata nya sering rabun, jadi sering salah mengenal orang, maaf ya, oh iya, silahkan duduk, bibi akan ke dapur untuk mengambil minuman," jelas BI Juni yang kemudian bergegas menuju dapur.
Sementara Moza hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil saja.
"Moza, kau duduk di sini dulu ya, aku akan ke kamar mandi sebentar," ucap Robi yang kemudian mengikuti BI Juni dari belakang.
Sementara Moza mengangguk dan kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah tersebut.
"Ada yang aneh, mengapa saat BI Juni menatap ku, dia seperti mengenal aku ya? Karina juga? Dia menyebutkan dua kali, siapa Karina, huh sudah lah, aku tidak bisa banyak pikiran, aku hanya perlu memikirkan kesehatan bayi ku," batin Moza lagi sambil memegang perutnya.
Sementara itu di dapur.
"BI Juni," lirih Robi menghampiri BI Juni yang saat ini sedang membuat teh dan menyiapkan cemilan.
"Tuan Robi," ucap BI Juni dengan mata yang berkaca-kaca.
"BI, dia buka Karina, dia lah Moza,yang sering aku ceritakan kepada bibi, beberapa hari lalu," jelas Robi sambil memegang pundak BI Juni.
"Tuan Robi, bibi sebenarnya tidak percaya saat beberapa hari yang lalu tuan mengatakan jika perempuan itu sangat mirip dengan nona Karina, tapi setelah melihat nya, ternyata dia bagaikan pinang di belah dua," jawab si bibi dengan bulir bening yang mulai menetes.
"Bi, aku tau bagaimana kesedihan mu, tapi jangan tunjukkan kesedihan mu kepada Moza, dan jangan sampai dia tau tentang Karina, bibi paham?" tanya Robi lagi.
BI Juni pun mengangguk kan kepala nya sambil mengelap air mata yang tadinya tak bisa di bendung oleh nya.
"Bibi paham tuan, kalau begitu bibi buat kan teh dulu, sebaiknya tuan temani nona Moza di depan," ucap sang bibi yang kemudian kembali melanjutkan aktivitas nya.
"Baik lah bi, aku pergi ke depan dulu, ingat jangan menangis," jelas Robi yang kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang tengah tempat Moza menunggu nya.
BI Juni pun menyiapkan dua cangkir Teh dan juga beberapa cemilan untuk Moza dan Robi.
Malam harinya
"BI, apa bibi, masih belum tidur?" tanya Moza yang melihat BI Juni duduk di dapur rumah tersebut sambil memandangi foto seseorang.
Mendengar suara Moza, BI Juni pun langsung menyembunyikan foto tersebut dan kemudian menatap ke arah Moza.
"Nona, apa yang nona lakukan di dapur? Nona seharusnya istirahat di kamar, ini sudah larut," nasehat BI Juni kepada Moza.
Bu Juni yang mendengar itu pun kaget, karena , biasanya jus mangga itu terbuat dari mangga matang, bagaimana bisa mangga muda jadi jus, itu akan sangat asam.
"Nona, apa nona muda sedang ngidam? Itu aneh sekali, mangga muda kalau di buat jus pasti akan sangat asam," jelas BI Juni kepada Moza.
"BI, aku tidak peduli, aku ingin makan jus mangga muda, tolong bi, aku tidak bisa tidur," ucap Moza merengek.
"Nona, tapi di rumah sedang tidak ada stok buah-buahan," ucap BI Juni kebingungan, dia tau bagaimana rasanya mengidam sesuatu dan itu tidak bisa di tahan.
"Hmm, lalu apa aku harus menunggu sampai besok?" tanya Moza kepada BI Juni.
"Bagaimana jika kita telpon tuan Robi, siapa tau dia biasa datang dan membawa mangga muda untuk nona," jelas BI Juni kepada Moza.
"Tidak, tidak bi, jangan, Robi pasti akan marah jika tau aku makan sembarangan, tapi aku juga tidak tau mengapa aku harus ngidam jus mangga mudah yang aneh-aneh seperti ini," kesal Moza.
"Hmm, baik lah, begini saja, besok bibi akan ke pasar dan mencarikan nya untuk nona, jangan khawatir ya," jelas BI Juni kepada Moza.
"Benar kah bi?" tanya Moza kepada BI Juni dengan wajah bahagia.
"Iya nona benar," jawab BI Juni sambil tersenyum.
Sementara itu di sisi lain.
"Karina, apa kau sudah tenang di sana? Aku sungguh merindukanmu, aku pikir aku tidak akan bisa melihat wajah mu di dunia ini lagi, tapi apa kau tau? Aku menemukan seseorang yang ternyata begitu mirip dengan mu."
"dia sungguh cantik sama seperti mu, bagaikan pinang di belah dua, dia juga memiliki sifat lemah lembut yang sama seperti mu sayang, tapi aku yang berusaha melupakan mu malah kini jadi kembali ingat," ucap dokter Robi sambil mengusap sebuah bingkai foto seorang perempuan cantik yang wajahnya mirip dengan Moza bukan mirip malah seperti kembar.
"Dokter Robi" dokter muda yang berhasil sukses menjadi seorang dokter Operasi yang hebat, namun kebahagiaan nya tidak bisa berlangsung lama, karena sang istri yang hamil muda, meningal akibat kecelakaan.
Kehilangan dua orang sekaligus, membuat nya sangat terpukul, selama setahun dirinya tidak mau bertugas, karena merasa telah gagal menjadi dokter sebab tak bisa menyelamatkan istri nya, namun karena banyak sekali orang yang membutuhkan diri nya, selang dua tahun berikutnya ia pun mulai kembali aktif dalam pekerjaan nya, dia juga bahkan lebih profesional dalam bekerja.
Namun luka yang ada di hati nya itu tidak pernah bisa sembuh.
Dan, rumah yang di tinggali oleh Moza saat ini, dulu adalah rumah nya Karina, dan Robi, mereka akan selalu menempati rumah tersebut jika Robi sedang ada tugas di kota itu, karena Karina dia tidak akan bisa berpisah dari Robi terlalu lama jadi dia mengikuti Robi sertiap Robi ada urusan di kota tersebut, di tambah lagi dulu Robi menempuh pendidikan di kota x itu makanya dia sering bertugas ke sana dan ke sini, ya namanya juga dokter ya.
Keesokkan harinya.
"Hmmm, kenapa BI Juni masih belum pulang ya dari pasar? Aku sudah benar-benar tidak sabar," batin Moza sambil mondar-mandir di depan pintu rumah tersebut.
Tidak lama kemudian, terlihat mobil Robi yang masuk ke dalam pekarangan rumah itu, hal ini pun membuat Moza khawatir karena BI Juni masih belum kembali, bagaimana bisa ia menjawab jika Robi bertanya.
Bersambung ....