
"Samuel, mengapa diam saja? Kau pasti AB-!" ucap Naya kepada Samuel.
"Tidak!" ucap Moza marah.
Samuel, BI Juni, dan Naya sontak menatap ke arah Moza.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan nya, darah dia tidak boleh masuk ke tubuh Hansel aku tidak mau!" ucap Moza kembali kekeh dengan ego nya.
"Dokter, jangan pedulikan dia, darah ku AB- kau bisa mengambil sebanyak nya untuk putra ku," ucap Samuel menghampiri sang dokter.
"Tidak, jangan lakukan itu! Aku membencimu kau tidak boleh mendonor kan darah mu kepada Hansel tidak!" Marah Moza dengan air mata yang terus mengalir menatap Samuel.
"Moza cukup! Jangan egois, aku tau rasa sakit mu, rasa dendam mu itu, tapi jangan buat Hansel hilang dari dunia ini karena itu semua, kau akan semakin menyesal!" Marah Naya yang kemudian memegang tangan Moza..
"Nona Naya benar, ayo dokter cepat bawa dia!" ucap BI Juni yang kemudian ikut memegangi Moza yang kini ngereok seperti orang kesurupan.
Siapa yang tidak sakit melihat orang yang sudah membuat nya kecewa, membuat dia dan anaknya menderita, kini datang dan malah akan memberikan darah ke dalam tubuh sang anak, tapi pikiran itu adalah keegoisan Moza karena rasa sakit hati nya, padahal nyawa Hansel saat ini lebih penting dari apapun.
Dokter dan Samuel pun pergi dari hadapan Moza dan mereka bersiap untuk segera melakukan pengecekan dan proses pendonoran darah.
"Tidak! Jangan berikan darah mu pada nya!" jerit Moza yang masih terdengar di kuping Samuel.
_"Aku tau kau sangat membenci ku,tapi aku tidak bisa membiarkan putra ku satu-satunya dalam bahaya, suatu saat kau akan tau bagaimana aku mencintai kalian berdua, salah paham itu akan aku buktikan kepada mu bahwa aku benar-benar sudah menyadari nya,"_ batin Samuel.
"Moza! Apa yang terjadi kepada Hansel?" ucap Robi yang buru-buru menghampiri Moza yang kini tengah di tahan Naya dan bi Juni.
Ya, Robi baru tau jika Moza ada di RS tersebut setelah suster mengatakan nya, karena tadi dia masih jam istirahat di ruang kerja jadi dia sama sekali tidak mengetahui jika suster yang mengenali Moza tidak menghampiri nya dan berbicara dengan nya.
Melihat Robi, Naya yang sedari kemarin berharap untuk bertemu, akhirnya terpana dengan pandangan pertama nya.
"Robi!" ucap Moza yang kemudian menghambur ke dalam pelukan Robi.
Hal ini tentu membuat rasa sakit dan perih menusuk hati Naya, yang sudah lama menyukai Robi.
Robi pun membalas pelukan itu dan menenangkan Moza dengan mengelus rambut nya beberapa kali.
"Robi, Hansel, dia terluka aku sangat khawatir,", jelas Moza membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Robi.
"Tenag lah, dia akan baik-baik saja, jangan khawatir, dokter yang menangani nya sekarang adalah dokter hebat," jelas Robi lagi.
Dua jam kemudian.
Kini Moza sudah terlihat tenang, duduk di samping Robi dengan menyenderkan kepalanya ke pundak Robi, dia terlihat begitu terpukul akan keadaan ini.
Sementara Naya dan bi Juni duduk berhadapan dengan mereka di kursi depan mereka, BI Juni dan Naya hanya bisa saling pandang dan tersenyum, sementara senyum Naya terlihat kecut.
"Robi, dia mendonor kan darah nya pada Hansel," lirih Moza tampa kedipan di matanya, tatapan nya begitu kosong.
"Tenag lah, hanya darah saja, dia tidak akan mengambil Hansel dari mu, itu tidak akan bisa," ucap Robi lagi.
Namun tepat saat ini, Samuel tiba di dekat mereka dengan sang dokter ya g menangani Hansel.
Begitu juga dengan Naya, bi Juni dan juga Robi.
"Alhamdulillah, pasien sudah berhasil melewati masa kritis nya, dan sebentar lagi akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap, beruntung nya kita tidak terlambat," jelas sang dokter lagi.
"Ya Tuhan, syukur lah, anaku baik-baik saja,dia akan segera sembuh," ucap Moza sangat bahagia.
"Kalau begitu saya tinggal dulu," ucap sang dokter kepada Moza dan semua orang yang ada di sana.
"Terima kasih banyak dokter," jelas Moza sebelum kepergian dokter tersebut.
Dokter itu mengangguk dan kemudian berjalan meningal kan mereka.
"Moza, kita akan merawat Hansel bersama, aku akan lebih mengontrol nya, kau jangan khawatir," ucap Robi sambil memegang pundak Moza.
"Siapa? Kau? Tidak, aku tidak mau kau merawat anakku, dokter tadi saja sudah cukup," jawab Samuel.
Seketika Robi menatap Samuel dengan tatapan marah.
"Dan kau juga tidak berhak menyentuh Moza, dia istri ku," ucap Samuel menepis tangan Robi dari lengan Moza.
"Apa maksud mu? Jangan kau pikir karena kau sudah mendonorkan darah kepada nya kau bisa seenaknya melarang ku, ingat, Hansel dari kecil lebih dulu bersama ku, di bandingkan ayah tak berguna seperti mu!" Marah Robi sambil menujuk wajah Samuel.
Lagi-lagi Samuel menepis nya dan tersenyum kepada Robi.
"Pak dokter yang terhormat, jaga bicaramu, kau ini seorang dokter, tidak lucu jika dokter menjadi pebinor, bair pun kau yang bersama mau dari kecil atau besar, tapi kau tidak boleh lupa, dia adalah darah daging ku," jawab Samuel sambil tersenyum manis kelas Robi.
"Cukup, hentikan, jangan bicara dan berkelahi lagi, aku muak mendengar nya! Dan kau Samuel, apa yang di katakan Robi itu benar kau tidak ada hak atas Hansel karena sejak kecil dia hanya bersama kami dan kau hanya pangkat ayah saja," ucap Moza menujuk Samuel.
Betapa sedihnya Samuel setelah mendengar kan ucapan Moza barusan, dia tidak menyangka Moza akan berkata sedemikian kejam kepada nya, padahal dia hanya berharap Moza lekas sadar dan membuka pintu hati untuk memaafkan nya.
"Baik lah, aku pergi," jawab Samuel kecewa dengan tudingan Moza, dia pun berjalan meningal kan mereka.
Sementara Robi tersenyum melihat bagaimana Moza membela nya.
"Moza, jika tidak ada Samuel apa kau akan memikirkan orang lain untuk mendonorkan darah kepada Hansel? Dan aku pikir mungkin tidak akan ada, golongan darah begitu langka, setidaknya kau berterima kasih kepada Samuel, dan Hansel juga adalah darah daging Samuel, kau salah bersikap seperti itu kepada nya."
"Aku tau kau begitu menyimpan api dalam hati mu terhadap kesalahan masa lalu Samuel, tapi apa kau pernah memikirkan untuk membuka hati sekali lagi dan melihat pengorbanan nya? Hansel adalah darah daging kalian berdua, bukan hanya kau saja," ucap Naya yang kemudian berjalan pergi untuk mengejar Samuel yang sudah pergi dari sana.
Moza terdiam mendengar ucapan Naya barusan, dia pun merasa sedikit bersalah sudah terlalu emosional dengan keadaan seperti ini seharusnya dia tidak memikirkan dendam demi sang buah hati.
"Naya! Tunggu! Maksud ku bukan begitu!" ucap Moza hendak mengejar Naya namun Robi menahan nya.
"Sudah, jangan terlalu banyak mendengar kan ucapan orang, sebaiknya sekarang kita siap-siap untuk Hansel, dia sebentar lagi akan pindah ruangan.
Moza pun menuruti ucapan Robi dan tidak jadi mengejar Naya.
Sementara itu di taman rumah sakit ...
Bersambung ....