My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 63



"dada ku semakin sakit," ucap Naya yang berjalan lemah berusaha menuju mobil nya.


Namun akhirnya ia pun jatuh pingsan di tempat parkiran mobil.


Sementara pada saat itu, pesawat yang di tumpangi Moza dan dokter Robi pun berhasil lepas landas.


Orang-orang mengerubungi Naya dan segera memanggil ambulans untuk membawa nya ke rumah sakit.


Sementara itu di sisi lain.


Samuel membuka matanya sambil melirik sekeliling nya.


Ternyata dia masih berada di dalam mobil, dengan Romeo yang masih tidur di samping nya, jam sudah menujukkan pukul 09.40


"Romeo, di mana kita?" ucap Samuel kaget.


Romeo yang mendengar ucapan Samuel yang lumayan keras pun akhirnya terbangun dengan separuh kesadaran.


"Aku di mana?" Bukan nya menjawab dia malah balik bertanya kepada bos nya.


"Bodoh, Romeo apa kau sengaja tidak membangun kan aku?!" marah Samuel kepada Romeo.


"Bos, maaf, tapi aku juga, lupa," tutur Romeo.


Namun tiba-tiba ada seorang pelayan yang berlari keluar melihat mobil Samuel yang sudah terparkir di luar mansion.


"Tuan muda! Tuan muda tolong!" ucap pelayan tersebut sambil mengedor-gedor kaca mobil Samuel.


Samuel yang kaget pun bergegas membuka nya, dia berfikir jika pelayan tersebut ingin mengatakan jika Moza sudah kembali ke mansion.


"Ada apa? Apa Moza sudah kembali ke mansion?" tanya Samuel penuh harapan.


"Tidak tuan muda, tidak, tapi nyonya Ema, dia, mulut nya mengeluarkan buih!" ucap pelayan tersebut kepada Samuel.


"Astaga, apa yang terjadi?" tanya Samuel seolah bingung dengan masalah yang bertumpuk-tumpuk ini.


"Tuan muda, jangan tanya lagi, ayo bawa nyonya Ema ke rumah sakit!" ucap Romeo sejenak melupakan masalah Moza yang belum ketemu.


Samuel pun bergegas masuk ke dalam mansion, biar bagaimanapun, mama Ema adalah ibu nya, tidak mungkin ia akan membiarkan ibu nya seperti itu walaupun ibu nya itu sudah menghancurkan kebahagiaan nya.


Mereka pun akhirnya membawa mama Ema ke rumah sakit secepat mungkin, entah apa yang terjadi, mama Ema malah mengeluarkan buih dari mulut nya.


Masalah Samuel kini tidak hanya kehilangan istri dan calon anak nya, ia juga di kaget kan dengan keadaan sang mama yang tiba-tiba saja memburuk drastis.


Sementara itu di sisi lain.


"Mengapa kau terus memandang ke arah jendela?" tanya dokter Robi kepada Moza.


"Tidak ada, dokter, boleh kah aku bertanya?" tanya Moza kepada dokter Robi sambil menatap wajah nya.


"Ya, apa itu?"


Mereka duduk di kursi pesawat yang bersebelahan,jadi bebas mengobrol kapan saja.


Moza menghela nafas panjang setelah itu kembali angkat bicara."Dokter, mengapa kau bersedia membawa ku pergi dengan mu? Bukan kah itu merepotkan?" tanya Moza.


"Benarkah? Naya sampai segitunya membantu ku?" tutur Moza hampir tidak percaya, karena beberapa bulan lalu Naya begitu jahat terhadap nya.


"Aku tidak tau,oh iya, kau sebaiknya istirahat, kasian bayi mu, dia juga butuh istirahat, aku menyarankan agar kau tidur saja," ucap dokter Robi yang khawatir jika Moza akan memikirkan banyak hal.


"Hmm, iya, baik lah," jawab Moza.


Moza pun kembali mengarahkan pandangannya ke jendela pesawat, dia memejamkan mata nya, namun tidak tidur sama sekali, dia malah terus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan masa depan nya dan sang anak kelak.


"Aku harap dia tidak akan mencari ku dan anaku, aku harap dia bisa melupakan aku, kalau bisa dia tidak ingat lagi dengan ku," batin Moza sambil membayangkan wajah Samuel di benak nya.


Jujur saja, semakin dia memejamkan mata, semakin terbayang wajah Samuel di benaknya, entah itu karena dia kesal dengan Samuel atau karena tidak bisa menghilangkan pikiran nya meskipun dia sudah sangat benci dengan Samuel.


Perjalanan yang begitu jauh, akhirnya membuat Moza tertidur juga setelah beberapa puluh menit.


Sementara itu tidak dengan dokter Robi, dia malah asik menatap wajah Moza yang saat ini sedang tidur dengan damai nya.


"Melihat mu, aku jadi ingat seseorang, dia sangat mirip dengan mu, dari mata, bibir dan juga cara bicara mu, dia sangat mirip dengan mu, melihat mu juga aku merasa rindu ku terhadap nya berkurang," ucap dokter Robi dengan lirih.


Penasaran gak sih kenapa dokter Robi bilang seperti itu? Nanti saja ya author cerita tentang biodata dokter Robi, biar lah kalian menebak dan juga penasaran terlebih dahulu, jangan lupa komen ya,buat yang penasaran sama dokter Robi ini.


Next.


Rumah sakit xx


"Naya, aku sudah bilang kau harus menjalani operasi, mengapa kau begitu kekeh tidak mau operasi?" Ucap papa nya Naya yang saat ini sedang menjaga Naya di ruang rawat Naya.


Ya setelah di larikan menggunakan Ambulans ke RS, Naya kini baru bisa membuka mata nya.


Sejak tau Naya sakit, sang papa kini sudah tidak memikirkan pekerjaan nya lagi, dia bahkan sudah kapok ingin merebut perusahaan Samuel karena ia hampir masuk penjara, untungnya masih bisa lolos karena dirinya tidak betul-betul terlibat dan itu semua tidak di lakukan oleh nya melainkan Ferdi yang ia suruh dan hal itu juga tidak berhasil jadi diri nya masih bisa bebas.


"Sudah lah pa, jika aku operasi dan mati saat itu juga bagaimana? Dokter menyatakan hanya ada kesempatan selamat dua puluh persen pa, jadi biar kan aku hidup lebih lama lagi, setidaknya dua bulan," jelas Naya yang takut jika melakukan oprasi dan gagal lalu mati.


"Naya, dua puluh persen bukan kah itu kemungkinan besar? Papa tidak ingin kau meningal kan papa, hanya kau harta papa yang paling berharga,"ucap papa Naya sambil menyeka air matanya.


"Pa, jangan menangis, aku akan memikirkannya, berikan aku waktu pa," jawab Naya yang tidak tega melihat papa nya.


Namun dalam rumah sakit itu juga ada Samuel, Romeo dan juga mam Ema, ruang rawat mama Ema terletak berhadapan dengan ruangan rawat Naya.


"Dokter, bagaimana keadaan mama ku? Apa yang terjadi?" tanya Samuel kepada dokter yang merawat sang mama.


"Nyonya, Ema, dia mencoba meminum seluruh obat secara bersamaan, karena itu kondisinya sekarang semakin memburuk,dia juga mengalami struk ringan," jelas sang dokter kepada Samuel.


"Astaga mama, apa yang dia lakukan?" Samuel terasa bebannya sekarang semakin besar, masalah istri nya yang kabur belum selesai, kini malah datang lagi masalah baru.


"Tapi tenang lah, hanya kaki dan tangan nya saja yang tidak bisa di gerakan tapi dia bisa bicara," jelas dokter lagi.


"Tolong bantu saya untuk menyembuhkan nya dok, saya akan memberikan berapa saja biayanya," ucap Samuel yang sudah lelah dan kehabisan akal untuk berfikir lagi.


"Kami akan merawat nya sebaik mungkin, kalau begitu saya permisi dulu," ucap sang dokter kepada Samuel dan kemudian berjalan meningal kan ruang rawat tersebut.


Sementara Samuel kini kembali lemah dan terduduk di kursi depan ruang rawat sang mama, ia memegang kepala nya yang kini terasa begitu sakit tak kuat menahan beban pikiran yang begitu menumpuk ini.


Bersambung ....