My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 10



Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan memasak Nabila dan ibu Yuni di dapur.


"Biar Bila aja yang buka ma," ucap Nabila sembari mencuci tangannya, lalu pergi ke arah pintu untuk membukanya.


"Assalamualaikum." Ucap seseorang dari balik daun pintu kayu.


"Waalaikumsalam," jawab Nabila sambil membukakan pintu.


Dan ternyata benar, orang itu adalah Azmi. Dengan sigap Nabila menyalami suaminya.


"Mas, sini tasnya biar Nabila yang bawa," sambut Nabila sambil tersenyum.


"Tak usah, mama dimana?" Tanya Azmi sambil melihat ke arah Nabila.


"Mama ada di dapur mas," balas Nabila dengan senyuman.


Azmi mengangguk setelah mengetahui mamanya ada di dapur. Nabila dan Azmi pun pergi ke dapur bersamaan untuk menemui mama mereka yang masih asyik memasak.


"Assalamualaikum ma," ujar Azmi sambil menghampiri ibunya.


"Waalaikumsalam, tumben Mi jam segini sudah pulang?" balas ibu Yuni tersenyum dengan tangan yang masih lincah memotong-motong bahan makanan yang akan ia masak.


"Iyah ma. Wah mama sama Nabila lagi masak apa nih?" Tanya Azmi semangat.


"Lagi masak sayur sop sama bakwan jagung kesukaan kamu, udah cepat sekarang kamu mandi ,ganti baju setelah itu kita makan," perintah ibu Yuni yang masih asyik mempersiapkan bahan sayur sop.


"Siap ma," ucap Azmi semangat, seperti saat dulu masih lajang, kemudian ia pergi ke kamar.


Melihat Azmi yang membalas perkataan ibu nya dengan semangat, Nabila pun merasa bahagia dengan menyunggingkan senyuman kecil pertada ia ikut merasa bahagia.


Acara makan malam berjalan dengan hikmat, penuh tawa, bahagia, dan canda. Perasaan yang selama ini Nabila tak rasakan, walaupun kemesraan yang Azmi suguhkan pada ibu nya hanya kedok demi menutupi perasaannya yang sebenarnya. Sebab Azmi tahu, pabila ia tidak bersikap seperti demikian, ibu nya pasti akan merasa sedih dan yang pasti kecewa.


Berbeda dengan Nabila, ia merasa sangat bersyukur dengan kehadiran ibu mertuanya di sana, sebab Azmi memperlakukan dirinya dengan baik dan yang paling Nabila sukai dengan keadaan sekarang ia benar-benar dilihat sebagai seorang istri bukan jadi hiasan dalam rumah yang tak pernah dilirik apalagi disentuh.


Setelah makan, Nabila langsung membereskan piring-piring kotor  dan mencucinya di dapur, dan senyumnya pun masih terpatri dibibir manis nya. Berbeda dengan Azmi dan ibu mertuanya, setelah makan malam mereka berdua pergi untuk menonton TV di ruang keluarga yang tertata rapi dengan hiasan foto pernikahan yang tertempel di dinding tepat di atas TV, yang memperlihatkan wajah Azmi yang tersirat tidak bahagia.


"Azmi, boleh gak mama minta sesuatu?" Tanya ibu Yuni sambil melihat putranya yang masih asyik menonton acaranya di TV.


"Boleh dong ma," jawab Azmi.


"Permintaan mama sederhana kok," tambah ibu Yuni sambil mengambil cangkir yang terisi teh hangat tawar di depannya.


"Emangnya mama mau apa?" Tanya Azmi sembari membetulkan posisi duduknya yang kini terlihat lebih tagak dan siap.


"Mama pengen, besok sholat subuh kita berjamaah dan mama ingin kamu yang jadi imamnya." Ucap ibu Yuni membuat Azmi terkejut, karena ia sudah lama tidak menjalankan kewajibannya dan sudah lupa dengan tata cara dan bacaan sholat.


"Insya Allah ma," jawab  Azmi sambil tersenyum kaku dan langsung bertingkah sedikit aneh dengan tiba-tiba ia memegangi punggung lehernya.


Dulu saat Azmi masih serumah dengan ibunya, ia selalu melaksanakan kewajiban itu. Namun setelah ia pindah ke rumahnya yang baru dan tinggal sendiri tanpa pantauan sang ibu, apalagi ibu Yuni yang sibuk dengan karirnya membuat Azmi tak terpantau.


"Bagaimana ini, aku udah lama gak sholat dan udah lupa tata cara sama bacaannya. Aku harus minta Nabila buat ajarin, tapi apakah dia mau?" Batin Azmi ragu.


■■■■


  Setelah selesai berdo'a sehabis sholat magrib Nabila pun melipat mukenanya kembali. Tiba-tiba pintu terbuka dengan pelan lalu terlihat Azmi yang masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia duduk di sofa.


"Nabila, maukah kamu mengajarkan aku tata cara dan bacaan sholat?" Tanya Azmi sedikit gugup.


Nabila masih terdiam untuk beberapa saat, sebab ia tak percaya kalau Azmi mau belajar sholat lagi. "Biasanya dia selalu marah-marah bila di suruh untuk sholat." Pikir Nabila dalam hati.


"Apa aku tak salah dengar Mas?" Tanya Nabila, untuk meyakinkan dirinya bahwa telinganya tak salah dengar.


"Iya, tapi kamu jangan geer dulu, aku melakukan ini karena mama memintaku menjadi imam sholat subuh besok," jawab Azmi dingin.


Aulia terdiam lagi, namun ia kini merasa senang karena Azmi mau belajar untuk sholat lagi, walaupun itu terpaksa. Tapi lama kelamaan menjadi terbiasa, dan Nabila pun bersyukur karena kedatangan ibu mertuanya kesini membawa perubahan, walaupun hanya sandiwara.


Dengan semangat, Nabila mengajarkan Azmi tata cara dan bacaan sholat. Dan alhamdulillah, Azmi bisa mengingat tata cara dan bacaannya walaupun belum terbata-bata. Namun Nabila tak putus asa, dia terus berusaha sampai suaminya akan terbiasa dan bisa.


"Terima kasih Nabila karena telah mengajarkanku." Ucap Azmi sembari tersenyum lega karena telah berhasil mengahafal semuanya.


"Akhirnya aku berhasil." Ucap Azmi tanpa sadar memegang tangan Nabila erat.


Dan akhirbya Azmi sadar kalau dirinya sedang memegang tangan Nabila.


"Maaf." Ucap Azmi seadanya sambil melepaskan genggamannya.


Nabila malah sebaliknya, ia hanya tersenyum dan ikut berbahagia dengan melihat suaminga senang dan sempat walaupun sesaat Azmi memegang tangannya tanpa harus dihadapan sang ibu mertua.


"Tak apa-apa, malahan itu mendapatkan pahala." Ucap Nabila sambil tersenyum. Lalu pergi ke ranjang karena rasa kantuknya sudah muncul setelah mengajari suaminya bacaan dan tata cara sholat.


Karena sudah waktunya Nabila istirahat, ia pun melepas kerudungnya dan untuk pertama kalinya Azmi melihat Nabila tanpa kerudung yang selama ini ia kenakan. Karena selama mereka menikah dan walaupun sekamar, Nabila tak pernah melepas kerudungnya karena Azmi melarangnya.


Azmi pun terpukau saat melihat Nabila tanpa hijabnya. Rambut hitam bagai malam, bergelombang bagai ombak, panjang terurai sedikit menutupi punggungny, yang membuat Azmi mulai bergikir. "Mungkin bila Nabila tak memakai hijab semua laki-laki akan jatuh hati padanya." Pikir Azmi sembari menatapi wanita yang sudah menjadi istrinya.


■■■■


  Akhirnya sholat berjamaah pun telah usai. Azmi bisa memimpin sholat untuk kedua kalinya dengan lancar dan tanpa ada yang keliru. Yang pertama saat berada di rumah Nabila dan kedua saat ini. Bedanya saat di rumah Nabila, Azmi tidak lancar membaca bacaannya. Namun di saat ini Azmi sudah lancar dalam melafalkan bacaan sholatnya.


Senang sekali perasaan ibunda Azmi saat usai sholat berjamaah. Azmi mencium tangan ibunya dengan ikhlas, begitupula Nabila. Ia mencium tangan suaminya dengan ikhlas dan penuh kasih, itu sangat terlihat jelas ketika ia benar-benar mencium punggung dan telapak tangan suaminya dengan mata tertutup.