
"Samuel, apa yang harus kita lakukan? Sampai sekarang kita belum menemukan titik terang, motif penculik tersebut pun masih belum kita ketahui," ucap Naya.
Saat ini, Naya Samuel, dan BI Juni sedang duduk di luar, semua ponsel di kumpul kan oleh Samuel, dia mengira di antara mereka pasti akan mendapatkan telpon dari penculik tersebut.
Sementara mama Ema menunggu Moza di dalam kamar.
"Tenang Naya, ini masalah serius, kita tidak boleh menghadapi nya dengan perasaan panik, aku tau penculik itu menculik Hansel dengan motif tersendiri, mereka akan menghubungi salah satu dari kita, tunggu saja, dan kita juga tau plat nomor mobil nya, tapi tidak bisa langsung menghubungi polisi karena aku khawatir mereka akan menelpon dan melakukan penawaran," jelas Samuel yang pintar dalam menangani masalah seperti ini karena ini pernah terjadi dengan Celsy keponakan nya.
"Kau benar, mereka tidak mungkin melakukan nya dengan begitu saja, aku pikir ada udang di balik batu," jelas Naya lagi.
"Dan bi Juni, apa kau melihat orang itu? Kau bisa menyebutkan ciri-ciri nya kepada ku," ucap Samuel kepada BI Juni.
"Tuan, aku tidak bisa melihat wajah nya, dia mengunakan masker, topi dan berpakaian serba hitam," jelas BI Juni lagi.
Samuel terdiam mendengar ucapan bi Juni, orang yang di sebut oleh BI Juni ini, rasanya tidak asing bagi Samuel.
"Tunggu, apa benar ciri-ciri yang kau sebut seperti itu?" ucap Samuel menatap BI Juni.
"Iya tuan benar," Jawab bi Juni yakin.
Kini Samuel tau, bahwa orang yang bener saat sudah mengawasi Moza dan dia ada kaitannya dengan penculikan ini, meskipun dia belum bisa yakin apakah itu orang yang sama atau tidak.
Namun di dalam kamar Moza ...
"Hansel ... Kau di mana nak?" Lirih Moza yang baru saja tersadar dari pingsan nya dan membuka mata sambil mencari Hansel.
"Moza, tenang lah, ada aku di sini, biar kan Samuel dan Naya yang mencari Hansel, kau harus istirahat, kondisi mu sangat lemah," ucap mama Ema kepada Moza.
Moza terdiam mendengar perkataan mama Ema, dia tidak menyangka kejadian ini akan membuat nya kembali dekat dengan Samuel atau mama Ema, tak mau egois, jujur saja sekarang dirinya memang membutuhkan mereka di sisi nya.
"Moza, aku tau ini bukan saat yang tepat untuk bicara dengan mu, tapi, tapi aku takut tidak punya waktu lagi, aku minta maaf, aku sangat menyesali perbuatan ku di masa lalu, dan aku sudah mendapatkan kan pelajaran yang setimpal atas kejahatan yang aku lakukan kepada mu," ucap mama Ema kepada Moza sambil memegang tangan Moza.
"Mengapa kau minta maaf?" tanya Moza seolah ia melupakan kejadian tiga tahun lalu.
"Karena aku salah kepada mu, Moza mama mohon, jika kau memang tidak biasa memaafkan mama, setidaknya tolong maaf kan Samuel, dia sama sekali tidak bersalah, semua yang terjadi karena aku, aku yang melakukan kesalahan dan melibatkan dia, dan kau harus tau, betapa menyesalnya dia setelah kepergian mu," jelas mama Ema lagi.
Lagi-lagi Moza terdiam, jujur saja pikirkan nya saat ini hanya tertuju kepada Hansel, bukan yang lain.
"Aku tidak ingin mengingat nya lagi,aku hanya ingin fokus dengan Hansel, setelah dia ketemu,aku baru akan mempertimbangkan nya, tolong suruh Samuel ke sini, aku ingin bicara dengan nya berdua," ucap Moza dengan suara lemah.
Mama Ema pun memahami kondisi saat ini, dia pun sedikit berteriak memanggil Samuel, tidak lama kemudian, Samuel pun datang ke kamar tersebut untuk melihat Moza.
Naya membawa mama Ema keluar, dan kini tingal lah Moza dan Samuel di dalam kamar tersebut.
"Kau baik-baik saja?" tanya Samuel sambil memegang pipi Moza.
"Aku tidak baik-baik saja, bagaimana bisa aku baik-baik saja sementara Hansel di culik? Aku meminta kau ke sini untuk menanyakan apa kau sudah melakukan sesuatu untuk mencari keberadaan Hansel?" tanya Moza namun ia tidak ketus atau tidak melarang Samuel menyentuh nya.
"Tenang lah, aku tau perasaan mu, dan aku juga ingin mengatakan sesuatu, apa kau masih ingat dengan kejadian di restoran saat itu? Aku mengatakan jika ada orang yang sedang mengawasi kita," jelas Samuel kepada Moza.
"Apa hubungannya dengan dia?" tanya Moza kebingungan.
"Ciri-ciri orang yang menculik Hansel sama dengan orang yang mengawasi kita saat di restoran itu," jawab Samuel lagi.
"Ya," jawab Samuel.
"Tapi mengapa? Apa masalah nya dengan Hansel mengapa dia tidak menyakiti aku saja? Bukan Hansel?" ucap Moza lagi.
"Aku tidak bisa mengatakan apapun, aku juga belum tau tentang itu," jelas Samuel.
"Hikss, apa yang terjadi? Mengapa bisa seperti ini, aku benar-benar ibu yang tidak bisa bertanggung jawab," ucap Moza mulai kembali menyalah dirinya sendiri.
"Ssst, sudah, jangan katakan itu, sudah malam, sebaiknya kau istirahat lagi, kita akan lanjutkan pencarian besok," tutur Samuel tidak tega melihat Moza bersedih seperti ini.
"Dia anakku, aku yang membesarkan nya, aku lah yang sangat menyayangi nya, kau tidak bisa menalrang ku untuk terus mengkhawatirkan nya," ucap Moza membantah.
Namun Samuel menutup mulut Moza dengan jari telunjuk nya, agar dia diam dan tidak banyak bicara.
"Shhht, sayang, cukup, sampai kapan kau akan pemarah seperti ini, dia juga anak ku, darah daging ku, aku juga membuat nya hingga kau melahirkan nya" Tutur Samuel sambil mengelus pucuk rambut Moza.
Entah kenapa Moza menjadi lemah dengan ucapan dan tatapan Samuel yang begitu dalam.
Beberapa menit kemudian, Samuel pun berhasil membuat Moza tidur kembali, dia berhasil memenangkan Moza.
"Aku tau perasaan mu saat ini, aku tau," ucap Samuel dengan lirih.
Namun tidak lama kemudian, Naya pun dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar Moza sambil membawa ponsel Samuel.
"Ada apa?" tanya Samuel kaget.
"Ada telpon untuk mu, dari nomer asing," jelas Naya sambil memberikan telpon itu kepada Samuel.
Samuel pun mengambil nya dan kemudian menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
Call on
"Hallo," ucap Samuel.
"Hallo, Samuel, apa kau sedang khawatir sekarang? Apa kau menginginkan anak mu?" Lirih seseorang di sebrang telpon.
"Siapa kau? Kau yang menculik anak ku?" tanya Samuel dengan suara pelan karena dirinya tidak ingin Moza terbangun.
"Astaga, kau ternyata pintar, oh iya lupa, itu karena aku tudepoin ya," ucap orang tersebut.
"Jika kau ingin berurusan, berurusan saja dengan ku, jangan anak ku, kau begitu pengecut," ucap Samuel lagi.
"Aku tidak ingin banyak omong kosong, sekarang juga kau temui aku di gedung xxx aku tunggu, dan Ingat hanya kau sendiri, jika kau berani membawa polisi aku akan membunuh nya," ucap orang tersebut yang kemudian mematikan telepon nya secara sepihak.
Call of
"Sial, dia mengancam ku," ucap Samuel sambil menggenggam erat ponsel nya menahan amarah.
Sementara itu Naya yang penasaran pun angkat bicara.
Bersambung ....