My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 57



"bi, aku pergi," ucap Moza menatap kepala pelayan sambil mengeluarkan cincin pernikahan yang ada di jari manis nya.


"Nyonya, nyonya ku mohon jangan," ucap kepala pelayan tersebut mencegah Moza.


"Saat laki-laki itu kembali ke mansion, serahkan ini kepada nya," ucap Moza sambil menyerahkan cincin pernikahan nya yang di berikan oleh Samuel kepada kepala pelayan.


"Nyonya," lirih sang kepala pelayan sangat sedih atas kejadian yang menimpa Moza yang padahal selalu baik dan menciptakan kenyamanan di mansion sejak keberadaan dirinya.


Moza pun akhirnya benar-benar angkat kaki dari mansion itu, dia tidak tau entah akan pergi ke mana, sementara dirinya saat ini sedang dalam keadaan hamil, meskipun perut nya masih belum kelihatan besar yang jelas kini dia juga harus menjaga sang buah hati yang ada dalam kandungan nya.


Cuaca mulai gelap, sementara Moza masih menyusuri pinggir jalan raya dengan menarik koper nya.


Duarrrr ...


Suara petir yang secara tiba-tiba mengelegar, membuat Moza kaget dan mendongak kan kepala nya ke atas langit, ternyata gerimis pun mulai turun.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku harus ke mana?" batin Moza gelisah karena cuaca semakin buruk.


Moza pun bergegas untuk segera mencari tempat berteduh, ia pun melihat ke seberang jalan dan hendak melangkah untuk menyebrangi jalan raya tersebut.


Namun pandangan nya tiba-tiba menjadi buram, bukan karena hujan yang semakin deras,tapi karena kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini sangat lemah.


Bertepatan di saat itu, sebuah mobil pun melintas dengan kecepatan tinggi, sementara Moza masih saja berdiri di tengah-tengah jalan sambil memegang kepala nya yang pusing.


"Awassss!" teriak beberapa perjalan kaki di sebrang jalan yang sedari tadi melihat ke arah Moza yang seperti nya sedang tidak baik-baik saja.


Brak ... Dukh ... Dukh ...


Suara koper Moza yang mental beberapa meter jauh dari tempat Moza tadi berdiri.


"Astaga!" jerit orang-orang di sebrang jalan yang kaget melihat kejadian itu,


Ya Moza tertabrak, tubuh nya mental ke samping jalan, dengan kepala dan kaki yang bersimbah darah,


Dengan sekejap beberapa orang datang mengerubungi Moza yang sudah tergeletak tak sadar kan diri di tepi jalan tersebut.


Sementara mobil yang menabraknya berhenti, pemilik nya pun bergegas turun dari mobil tersebut dan menghampiri Moza.


"Astaga, aku benar-benar tidak sengaja, tolong minggir aku ingin melihat nya!" ucap wanita tersebut yang masuk ke dalam kerumunan yang mengerumuni Moza.


"Kau yang membawa mobil itu ya? Mengapa kau ngebut-ngebut di hujan seperti ini! Lihat apa yang kau lakukan, kau menabrak nya," ucap orang-orang marah kepada wanita yang mengendarai mobil yang menabrak Moza.


"Mo, Moza!" kaget perempuan itu saat melihat siapa yang menjadi korban tabrakan nya.


"kau kenal dengan nya? Kalau kenal ayo cepat bawa dia ke mobil mu dan bawa dia ke rumah sakit segera!" ucap salah satu orang yang ada di situ.


"Tolong, tolong bawa dia masuk ke mobil ku, aku akan membawa nya ke rumah sakit, dia adalah sahabat ku, cepat tolong!" ucap perempuan tersebut yang mengaku bahwa dirinya mengenal Moza dan dia juga adalah sahabat Moza.


Beberapa orang pun buru-buru mengendong Moza untuk masuk ke dalam mobil perempuan tersebut, dan yang lain nya mengambil koper Moza dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.


Tidak butuh waktu lama, perempuan itu pun membawa mobil nya kembali dengan kecepatan tinggi, namun kali ini demi Moza yang saat ini terbaring lemah di dalam mobil nya.


"Moza aku mohon bertahan lah, aku minta maaf, niat ku mencari mu karena ingin minta maaf aku malah menabrak mu," ucap perempuan itu sambil mengemudi mobil.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di rumah sakit, perempuan itu pun meminta bantuan para suster untuk segera membawa Moza ke dalam agar bisa mendapatkan perawatan sesegera mungkin.


"Tolong tunggu di luar nona, kami akan menangani pasien," ucap sang dokter yang kemudian menutup rapat pintu ruang ICU.


"Ya Tuhan, mengapa harus aku yang menabrak nya, aku memang mencari nya untuk minta maaf, tapi mengapa aku malah membuat nya menderita seperti ini?" Batin perempuan itu gelisah.


"Tapi apa yang terjadi dengan dia? Mengapa dia berjalan dengan membawa koper besar itu sendiri di tengah hujan, apa ada hal yang terjadi lagi?" batin perempuan itu lagi.


Lama mondar mandir di depan ruang ICU, tak tau harus menghubungi siapa dia benar-benar kehilangan akal sekarang,perut kelaparan serta rasa dingin yang menusuk membuat perempuan tersebut meningal kan ruang ICU untuk pergi ke kantin rumah sakit agar dirinya bisa membeli minuman.


Namun di perjalanan menuju kantin rumah sakit, perempuan tersebut melewati beberapa ruang rawat, tampa sengaja dirinya pun melihat sosok yang tentu saja dia kenali.


" Samuel, apa yang dia lakukan di sini? Apa dia tau Moza ada di sini? Tapi tunggu, mengapa dia malah berdiri di ruang rawat orang lain?" Batin nya sambil bersembunyi di balik tembok perbatasan antara lorong RS.


Ia pun akhirnya menguping Samuel yang sedang berbicara dengan dokter dan seorang perempuan paruh baya di depan ruang rawat tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan nya?" tanya Samuel kepada dokter yang ada di hadapannya.


"Pasien sudah melewati masa kritis nya, jangan khawatir kami akan merawat nya sebaik mungkin," jelas sang dokter yang merasa lega sudah berhasil menyelamatkan nyawa pasien nya.


"Bagaimana dengan kandungan nya dok?" tanya Samuel lagi kepada sang dokter tersebut.


"Hamil?" Dokter tersebut terlihat kaget dan kebingungan.


"Ah Samuel, sekarang jangan tanyakan itu dulu,ayo, dokter apa kami bisa melihat keadaan nya sekarang?" tanya mama Ema kepada dokter tersebut.


"Baik lah, silahkan masuk," Tutur sang dokter kepada Samuel dan mama Ema.


Mereka pun terlihat berjalan masuk ke dalam ruang rawat tersebut.


"Siapa yang sakit? Dan mengapa Samuel malah menanyakan tentang kehamilan? Mengapa sekarang Moza sendiri dan Samuel malah sibuk dengan urusan nya sendiri," gumam perempuan itu.


"Permisi nona, dokter ingin bertemu dengan anda," ucap seorang suster yang menepuk pundak perempuan itu.


"Astaga," kaget nya sambil menoleh ke arah suster tersebut.


"Maaf, dokter memangil anda nona," jelas suster itu mengulang kalimat nya.


"Baik lah ayo suster,"ucap nya sambil berjalan mendahului suster tersebut, jujur dirinya khawatir dengan Moza tapi hal yang terjadi secara bersamaan di lihat nya hari ini membuat nya sangat kebingungan.


Tidak butuh waktu lama,ia pun kini sampai di depan ruang ICU tempat Moza sedang di tangani.


Dokter sudah menunggu nya di depan ruang ICU tersebut dengan wajah yang sedikit tegang.


"Ada apa dokter? Bagaimana keadaannya?" tanya perempuan itu kepada sang dokter.


"Cedera nya cukup parah, apalagi bagian dalam perut nya, setelah memeriksa aku baru tau kalau dia sedang hamil, aku tidak tau bisa menyelamatkan mereka atau tidak," ucap sang dokter kepada perempuan itu.


Deg ... Jantung nya seakan berhenti berdetak, tak di sangka bahwa Moza saat ini sedang hamil." Dokter aku mohon tolong selamatkan sahabat ku, apapun caranya berapapun biayanya aku mohon tolong aku akan membayar mahal untuk itu," jelas nya sambil memegang tangan dokter tersebut.


Dokter itu terlihat sangat lesu, dia juga tau ini rasiko nya parah dan ini di luar kemampuan nya, jika harus menyelamatkan keduanya itu tidak mungkin karena kandungan nya baru saja menginjak dua bulan, sang dokter terlihat tertekan akan rasa bersalah dan khawatir.


Bersambung ....