My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 9



Tak terasa sudah satu minggu ibu Yuni berada di rumah Azmi. Rumah yang kini penuh dengan sandiwara. Dimana sepasang suami istri harus bersandiwara dengan bersikap seharmonis mungkin di depan ibu mereka.


Nabila masih merasa bersalah karena harus membohongi ibu mertuanya, yang membuat Nabila selalu memohon ampunan kepada Allah atas apa yang ia lakukan sejauh ini. Semenjak ibu Yuni berada di rumahnya, Nabila merasa sedikit bahagia karena diperlakukan baik oleh Azmi walaupun itu hanya sandiwara belaka.


"Sayang, tolong buatkan aku kopi ya dan juga teh tanpa gula untuk mama," perintah Azmi pada Nabila dengan nada lembut.


"Baik mas," sahut Nabila sambil pergi ke dapur membuatkan kopi dan teh untuk suami dan ibu mertuanya.


Untung saja Nabila tahu takaran pas kopi dan gula untuk Azmi. Karena semenjak ibu mertuanya tinggal disini, Nabila sering membuatkan kopi untuk Azmi.


Sekitar lima belas menit teh dan kopi pun telah terhidang di atas meja.


"Duduklah disini," ucap Azmi sambil menepuk kursi di sebelahnya, meminta Nabila duduk di sampingnya.


Sebenarnya Azmi tak ingin melakukan itu semua. Tapi ia tak ingin melihat ibunya sedih dan marah saat melihat dirinya memperlakukan Nabila bak patung di rumah ini.


●●●●


Malam semakin larut. Semenjak ibu Yunu tinggal disini, Nabila dan Azmi tidur dalam satu kamar, walaupun Nabila tidur di ranjang sedangkan Azmi tidur di sofa yang ada di kamarnya.


Ketika semua orang tertidur dan sedang bermimpi. Nabila bangun untuk melakukan sholat tahajjud, karena itu sudah menjadi kebiasannya saat dulu di pesantren. Ia tak perlu menggunakan alarm untuk membangunkannya karena ia sudah terbiasa seperti saat dulu.


Setelah sholat tahajjud. Nabila tak lupa berdo'a dan mencurahkan keluh kesahnya kepada Sang Pencipta. Mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada di dalam hatinya. Dengan begitu, hati Nabila akan merasa lebih tenang dan sedikit menghilangkan beban yang ditanggungnya, karena sudah membohingi seorang ibu.


Setelah mencurahkan segala sesuatu yang ada di hatinya. Nabila langsung melanjutkan dengan tadarrus.


Suara nan merdu dan menenangkan hati, membuat Azmi membuka matanya. Sayup-sayup terdengar suara indah seseorang yang membaca ayat suci Al-Qur'an.


Azmi membuka matanya saat mendengar Nabila mengaji. Setelah kesadarannya pulih. Mata Azmi menangkap seorang Nabila sedang duduk membelakanginya sembari membaca Al-qur'an dengan suara indahnya yang bisa membuat siapa saja yang mendengar akan


Entah mengapa ketika mendengar Nabila mengaji, hati Azmi merasakan ada hawa hangat yang tiba-tiba muncul entah dati mana asalnya, ia merasa tenang dan damai. Kini senyuman tipis terlukis dibibir Azmi yang tipis merona.


Azmi kemudian berpura-pura tertidur saat Nabila menyelesaikan bacaan dan membalikkan badannya. Azmi tak ingin Nabila tahu kalau dirinya sedang memperhatikannya sedari tadi. Bahkan dari bacaan awal sampai selesainya Nabila tadarrus.


Suara alarm membangunkan Azmi dari tidurnya. Terlihat jam wekernya menunjukkan pukul 05:30, dan Azmi langsung beranjak dari sofa dan pergi ke kamar mandi untuk melakukan kegiatan yang biasa dilakukan di pagi hari setiap harinya.


Sedangkan Nabila, sehabis sholat subuh dirinya langsung berkutat dengan wajan dan alat dapur lainnya. Tak lama ibu Yuni datang dan membantu Nabila memasak. Awalnya, Nabila melarang ibu mertuanya membantunya tapi dengan bujukan maut sang ibu mertua akhirnya Nabila pun memperbolehkannya.


Setelah beberapa saat berkutat di dapur, kini makanan telah tertata rapi di meja makan. Dan tak lama kemudian Azmi datang dengan pakaian kerjanya dan langsung bergabung ke meja makan untuk sarapan dengan wajah segar dan terlihat bahagia.


"Pagi semua," ucap Azmi menyapa istri dan ibunya.


"Pagi." Sahut kompak ibu Yuni dan Nabila bersamaan.


"Hari ini mas Azmi terlihat lebih tampan dibanding hari sebelum-sebelumnya." Batin Nabila sembari tersenyum dengan pipi yang merona.


Setelah selesai sarapan. Azmi pun langsung pamit kepada pada ibu Yuni dan Nabila. Tak lupa ia menyalami ibunya dan ia pun mencium kening Nabila sembari memberikan pelukan hangat yang baru beberapa lama ini ia sering lakukan.


■■■■


Handpone Azmi berbunyi, ada pesan masuk.


■ My Mella♡


: _Halo Azmi, Azmi nanti siang bisa gak temenin aku belanja?_


■ My Azmi♡


: _Bisa kok, kalo jam makan siang gimana?_


■ My Mella♡


: _Beneran, ok aku tunggu kamu di tempat biasa, see you sayang_


Seperti itu kiranya isi pesan dari Mella. Bibir Azmi pun membuat senyuman saat Mella mengirimkan pesan singkat padanya.


■■■■


Seperti janjinya tadi. Azmi dan Mell pun pergi berbelanja ke salah satu pusat perbelanjaan yang tak jauh dari kantor Azmi. Dan untung saja jam makan siang hari ini agak lama. Jadi Azmi bisa menemani Mella berbelanja.


Saat mereka berbelanja, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka dari kejauhan.


"Bukankah itu Azmi?" Gumam pria itu sambil melihat ke arah sepasang kekasih yang sedang berbelanja.


"Iya, tak salah lagi itu Azmi," ucap orang itu sambil menghampiri Azmi.


"Azmi." Panggil pria itu saat berada di belakang Azmi.


Merasa namanya di panggil Azmi pun membalikkan badannya.


"Maaf anda siapa?" Tanya Azmi saat nelihat pria itu.


Pria itu pun membuka kacamata hitam yang di pakainya dan tak lama senyum pun terukir di kedua bibir mereka.


"Ini gua Danu, sobat lo waktu SMA." Ucap Danu sambil menepuk bahu Azmi.


Azmi tak menyangka akan bertemu dengan sahabat seperjuangannya dulu di pusat perbelanjaan.


"Wahhh, sekarang lo beda sama yang dulu," ucap Raka sambil memeluk sahabatnya itu.


"Ehmmmm."


"Oh ya kenalin Mella pacar gua," ujar Azmi memperkenalkan Mella kepada Danu.


Danu hanya tersenyum kepada Mella. Begitu pun Mella hanya tersenyum tipis. Dan kemudian Danu pun berjalan menjauh pergi setelah sedikit berbincang karena ada hal lain yang harus ia kerjakan.


Setengah jam lagi jam makan siang akan berakhir. Azmi pun pamit kepada Mella untuk pergi ke kantor dan meminta maaf karena tak bisa mengantarkannya pulang.