Monarchy In Indonesia

Monarchy In Indonesia
Aku Seorang Raja



"Tuan Yima. Apakah anda memiliki seekor burung pengirim surat?" Tanya Baste


"saya punya 2" kata Yima


"bolehkah saya memakai dari salah satu burung itu untuk mengirim surat?" Tanya Baste


Yima pun menggeleng kepala


"Semenjak penyerangan musuh kini pihak Istana memperketat udara. Burung sejenis apapun yang terdapat surat kemungkinan akan dijatuhkan" kata Yima dengan menjelaskan


"lalu bagaimana kalian pengirim kabar?" Tanya Baste


Yima sekali lagi menggeleng kepala


"Itu adalah rahasia sesama Prajurit Kesultanan. Pada akhirnya jalan satu-satunya adalah menggunai kuda atau berjalan kaki melewati jalan-jalan kecil pegunungan yang dapat memangkas hitungan jarak hari tetapi itu sedikit berbahaya bagi yang belum terbiasa" kata Yima


Baste pun menyederkan dirinya ke sebuah tembok bangunan dengan otaknya perpikir keras


"jadi apakah anda ingin tetap mengunjungi Sultan kami?" Tanya Yima


Baste tidak menjawab tapi otaknya kini telah memiliki 3 jalan yang berbeda.


'jika melewati laut ada kemungkinan para musuh bisa memanfaatkan keadaan. Perperang dengan melindungi raja adalah kerugian' gumam Baste


'aku melewati Pegunungan namun jika gagal siapa yang akan menggantikan ku mengurusi adminstrasi Raja nantinya?' gumam Baste


"Tuan Baste?" Yima mencoba memanggil Baste dari lamunan pikirannya


"Ehh ya? Apa ?" kata Baste yang terkejut


Yima sedikit tertawa melihat baste yang terkejut padahal Yima memanggil baste dengan sopan dan pelan tapi begitu terkejutnya hingga yima paham bahwa Baste memikirkan banyak kemungkinan


"Saya ingin bertanya. Apa tujuan raja anda bertemu sultan kami?" Tanya Yima


"oh ya. Anda sudah membuat keputusan?" Tanya Yima tentang bagaimana baste berjalan ke istana


"dan aku tidak tahu apa yang diinginkan rajaKu mengunjungi negeri mu akan tetapi kemanapun ia pergi aku akan setia di sampingnya" kata Baste dengan nada bangga


"baiklah. Saya hantarkan anda kembali ke gerbang sebelumnya" kata Yima


Yima pun kembali berteriak kepada Yama. saudaranya yang membuka pintu dari atas dengan kekuataan tenaga nya..


Firdaus melihat gerbang terbuka dan pertanyaan kenapa baste kembali dengan prajurit sebelumnya


"apa yang membuat kamu kembali. Baste?" Tanya Raja Firdaus.


"yang mulia raja. hamba kembali dengan beberapa pertanyaan dan 3 pilihan" kata Baste sambil menunduk


"katakan" Titah Raja Firdaus


"Yang Mulia Raja. Hamba telah berbicara dengan Tuan Yima. Dan Tuan Yima mengatakan jarak antara gerbang ke istana memakan 3 hari perjalanan. Jika ingin memangkas waktu maka di perlukan untuk mendaki gunung dengan jalan yang terjal dan saya khawatir apabila terjatuh saya akan menyusahkan anda. Ketiga. Saya bisa membawa anda melalui laut yang terdekat dengan istana tetapi saya takut akan musuh yang mendekat dan terjadi perperang. Sungguh akan merugikan bagi pihak kita mempertahankan keselamatan anda dan keluar dari zona perang. Dan terakhir. Jika anda benar - benar ingin menunggu saya dalam 3 hari. Saya akan menggunakan kuda bersama Yima sebagai penjaga saya selama perjalanan" kata Baste menjelaskan


"Hhahahaahahahah" kata Raja Firdaus Tertawa


Baste kebingungan melihat Rajanya tertawa tanpa alasan yang ia pahami


"Kita punya Helikopter. Jadi kau tidak perlu khawatir. Baste" kata Raja Firdaus dengan nada wibawanya


"saya seorang raja. Raja tidak boleh mati terlebih dahulu sebelum memajukan bangsanya" kata Raja Firdaus


"jadi jangan banyak mengkhawatirkan diri saya karena saya harus bertahan hidup demi bangsa zalvia yang perlu saya majukan yang lebih baik dan lebih besar" kata Raja Firdaus


...----------------...


...BYE...


...----------------...


'