Monarchy In Indonesia

Monarchy In Indonesia
Shuzen



Firdaus mendapatkan sang ayahanda terbaring lemas setelah 5 bulan dari kemenangan Firdaus atas Sumatera.


"Ayo kita balik. Ayahanda ku sakit" titah Firdaus.


Firdaus menyampaikan untuk meninggalkan 4 Ribu pasukan dan 30 helikopter dan 30 Pesawat tempur.


Bersama sebas. Firdaus pulang dan menuju istana.


Sesampainya di istana. Firdaus pun mendekati ayahanda nya


"Ayahanda. Putra mu membawa berita kemenangan" kata Firdaus sambil mempegangi Tangan ayah nya


"Putra ku. Apakah itu kamu?" Tanya Ayah Firdaus sambil membuka mata.


"Benar. Ayahanda. Ini putra mu" kata firdaus.


Seorang pria tua datang di saat firdaus sedang bersama ayahanda nya tersebut.


"Yang Mulia Firdaus. Bolehkah hamba berbicara dengan anda?" Tanya pria tua itu.


"Maaf. Siapa kamu?" Tanya Firdaus bingung


"Maaf kelancangan saya yang belum memperkenalkan diri. Perkenalkan nama hamba adalah Shuzen. Hamba adalah tabib kerajaan semenjak mendiang Yang Mulia Raja X(10). Kakek anda" kata Shuzen


"baiklah shuzen. Apa yang kamu katakan?" Tanya Firdaus


"Tidak disini. Yang Mulia Firdaus" kata Shuzen


Firdaus paham dengan maksud shuzen mengajaknya berbicara.


"Ayahanda. Putra mu akan mengobrol dengan tabib kerajaan. Mohon bersabar" kata Firdaus.


Hendak firdaus berdiri. Raja Aztoth menahan tangan putra nya


GRAP!


"Putra ku. Ayahanda tahu. Tidak lama lagi. Ayahanda akan menyusul ibu mu. Tapi sebelum itu. ayahanda ingin meneruskan tahta kerajaan kepada dirimu. ayahanda bertanya sebagai raja mu. Apakah kamu siap mewarisi tahta ini?" Tanya Ayahanda firdaus.


"Ayahanda. Ketahuilah. Bahwa aku. Firdaus Azatoth Zalven. Bersumpah untuk selalu siap menerima Tahta & Mahkota kebanggaan Kerajaan Zalvia. aku juga berjanji akan mencari cara untuk membuat ayahanda sembuh" kata Firdaus bersumpah di depan ayahnya


Aztoth yang mendengar hal tersebut tersenyum


"tak pe--ahukkk- perlu. Ayahanda sebenarnya sudah lama merindukan ibu mu tapi ayahanda menunda itu untuk mendidik mu terlebih dahulu sebagai Putra Mahkota" kata Ayahanda.


"Yang Mulia Firdaus?" Shuzen menyapa kembali untuk mengingatkan jika ia perlu berbicara dengannya.


Firdaus pun tersenyum lalu berdiri untuk mengikuti shuzen


"disini aman. Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Firdaus.


"Yang Mulia Firdaus(menunduk). hamba mohon maaf & menyesal tidak dapat menyembuhkan yang mulia raja. Ayah anda. Penyakit ayah anda adalah penyakit sudah merogoti anggota dan sel-sel dalam tubuh ayah anda" kata shuzen dengan nada menyesal


"Hamba Telah Gagal Menjadi Tabib Kerajaan! Lebih baik Hamba Mati" kata Shuzen menyesal lalu mengambil pisau kecil untuk menggorok lehernya sendiri


GRAP!


Firdaus pun menghentikan aksi Shuzen yang hendak membunuh diri nya sendiri.


"Apakah ini tanggung jawab dari seorang tabib kerajaan? setelah gagal menyembuhkan raja tapi kamu malah lari tanggung jawab ke neraka yang tidak ku kejar. Begitu mau mu? Aku minta bertanggung jawab mu sebagai anak nya. Aku minta kamu harus menemukan obat yang dialami sang raja. Jika kamu berhasil menemukan obat tersebut. Maka kamu boleh mati dengan tenang!" kata Firdaus tegas.


Firdaus ingin mempertahankan salah satu tabib terhebat kerajaan zalvia miliki. Bagaimanapun Ilmu kedokteran dari abad 24. Tidak akan berguna jika ada tabib seperti shuzen.


"Y--Yang Mulia firdaus. Sungguh hamba mu ini berterimakasih telah diberi kesempatan untuk menjawab tanggung jawab hamba sebagai Tabib Kerajaan!" kata Shuzen bersujud didepan Kaki firdaus.


Shuzen telah bersumpah dengan dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dari firdaus. Putra Mahkota Kerajaan itu.


...----------------...


...BYE...


...----------------...