Monarchy In Indonesia

Monarchy In Indonesia
Kuda



-diperbatasan


"siapa gerangan anda. Wahai tuan?" Tanya Prajurit dengan wajah garangnya.


Baste turun dari kuda hitamnya dan menemui Prajurit itu


"Tuan Prajurit. Kami dari Kerajaan Zalvia. Kedatangan kami datang untuk bertamu dengan Sultan Anda. Sekiranya kami diizinkan masuk. Kami sangat berterimakasih" kata baste dengan tutur sopan


Baste sudah mempelajari budaya dan gaya orang lokal aceh berbicara.


Prajurit itu terkejut ketika mendengar bahwa rombongan yang ia lihat adalah Kerajaan Zalvia. Rumor mengatakan bahwa kerajaan Zalvia berhasil menguasai 90% Pulau Sumatera dan yang tersisa adalah Aceh.


"Jadi rombongan anda yang di rumor kan itu ya?" Kata prajurit dengan gemilang


"Yang di rumorkan? Apa maksud anda?" Tanya Raja Firdaus yang tiba-tiba bersuara


"maaf Tuan. dengan siapa saya berbicara?" Tanya Prajurit itu dengan sopan


Firdaus menatap ke baste lalu menghelas nafas


"Baste. Katakan siapa aku" Titah Raja Firdaus


Baste pun mengangguk patuh


"maaf Tuan Prajurit. Perkenalkan beliau adalah Raja kami. Raja Dari Kerajaan Zalvia. Pernahkah anda mendengar bahwa Seorang Raja Zalvia mengirimi sebuah surat kepada sultan anda? Jika iya. Beliau lah raja yang di katakan itu" kata Baste Menunjuk kepada Firdaus


"Beliau adalah Raja Kami. Firdaus ZI" kata Baste lanjut memperkenalkan Firdaus


Prajurit itu pun sedikit terkejut


"Maafkan saya Raja Firdaus. Saya tidak mengenal anda. Tetapi saya tidak memiliki kuasa penuh untuk membuka pagar ini untuk sebuah rombongan. adakah diantara rombongan anda yang bersedia untuk menjadi utusan rombongan ini?" Tanya Prajurit itu dengan sopan


Firdaus menyipitkan Baste dan Baste yang mengetahui itu pun langsung mengajukan diri sebagai utusan rombongan firdaus..


Prajurit itu pun mengangguk dan mencatat informasi dasar tentang Baste untuk memenuhi formalitas dan juga untuk keamanan..


Yama yang mendengar itu pun bergegas mengeluarkan seluruh tenaganya untuk membuka gerbang perbatasan


Greeeeekkkkkkkk


Pintu telah terbuka dan terlihatlah wilayah hijau dan tampak begitu indah


"sungguh rumput yang indah" Celetuk Baste..


"Terimakasih. Tuan Baste. Tuhan kami menyediakan banyak berkah dan kasih sayangnya kepada kami dan kami juga berharap untuk tetap melestarikan pemberianNya" kata Prajurit itu


"dan sebelumnya maafkan saya tidak sopan memperkenalkan diri. Mohon anda manggil saya Yaitu Yima. jika anda mendengar ini pasti anda akan perpikir apa hubungannya nama Yama yang sebelumnya adalah penjaga gerbang. Yama adalah adik kandung saya dan saya adalah kakanya" kata Yima dengan tersenyum


Yima terlihat muda seperti dirinya(baste).


"berapa lamanya dari perbatasan hingga sampai kediaman sultan anda?" kata Baste


"jarak antara Istana Sultan dan Perbatasan memakan 3-7 hari lamanya dengan berjalan kaki akan tetapi anda bisa menggunakan kuda untuk pempangkas waktu sekitar 3 hari saja jika itu pun tanpa istirahat" kata Prajurit


"saya memiliki kuda tapi anda tidak mengizinkan saya membawa kuda saya. kenapa?" Tanya Baste


"Saya tidak merekomendasikan anda membawa kuda yang belum mengenali jalan menuju Ibu Kota. Dari perbatasan anda membutuhkan setidaknya melewati 3 hutan. 2 gunung. Terakhir adalah 1 sungai. setelah sungai. Anda membutuhkan 2 jam lagi untuk bisa sampai ke ibu kota" kata Prajurit


"apakah kuda di wilayah ini mengenali jalan ke ibu kota" kata Baste


Yima Mengangguk dan mengajaknya ke sebuah kandang kuda


"lihatlah yang kuning ini. Dia adalah kuda pengunjung. Yang artinya. Kuda yang siap menghantarkan anda untuk ke ibu kota. Anda hanya perlu mengendalikannya kapan harus berhenti atau melepaskan ketika lari. kuda-kuda ini seperti memiliki pikiran yang tertanam tentang jalan yang mereka lalui" kata Yima sambil mengelus2 bulu kuda.


...----------------...


...BYE...


...----------------...