
berbagai rintangan telah dilalui oleh Pasukan Aceh di hutan belantara negeri siam ini tapi dikatakan bahwa hutan ini lah sebagai pembatas alami dari Barat ke ibu kota..
"Sehari lagi kita telah sampai ke ibu kota. dengarkan baik-baik perintah saya selama kita di ibu kota. Kita hanya megincar para ksatria Kerajaan Siam dan jangan membunuh Rakyat sipil siapapun kecuali jika Rakya Sipil itu membahayakan kalian" kata Arman
setelah arman berkata sekarang Rhin mengeluarkan sebuah Benda kecil yang lalu diberikan ke setiap para pasukan
"Benda yang berada didada kalian adalah Kamera dengan alat ini kalian akan terhubung oleh tim pusat demi menjaga apapun yang ada di medan tempur. Jika sewaktu kalian terdesak maka Kamera ini akan menyelamatkan kalian. dan apabila kalian gugur dalam medan tempur. Kamera ini akan memberikan lokasi sama halnya anda terdesak. mayat yang telah gugur akan dibawa pulang dan keluarga kalian akan diberikan 150 keping emas dan 3 karung gandum untuk 5 bulan" kata Rhin menjelaskan benda yang dirinya sematkan kepada para prajuritnya..
"Sebelum kita menyerbu ibu kota. ada pertanyaan?" Tanya Rhin
seorang prajurit mengangkat tangan dan dirinya pun langsung diminta maju oleh arman..
"siapa kamu dan apa pertanyaan mu?" Tanya Arman dengan tatapan tegasnya.
,
"Tuan Arman & Rhin. Saya adalah Quira. Saya adalah prajurit istana yang mulia sultan daud. Saya bergabung dengan prajurit ini dari perintah beliau. Dan saya tidak memberi pertanyaan melainkan sebuah saran" kata Quira
"saran? saran apa maksud mu. Quira? Dan aku tidak menyangka yang mulia sultan daud ingin bertempur walaupun dari tangan anda" kata Rhin.
Jika kami tidak diizinkan membunuh ataupun melukai rakyat sipil. Bolehkah saya menyarankan agar kita menyamar hingga kita melakukan menyerbuan apabila sudah berada tepat di gerbang istana mereka?" Kata Quira lanjut
Arman & Rhin saling menoleh dan keduanya perpikiran sama
'ternyata ada prajurit yang jenius' gumam keduanya..
Arman & Rhin sengaja memberi celah kepada prajuritnya tentang rencana penyerbuan ibu kota hanya untuk melihat dan membuktikkan tentang prajurit jenius ditengah medan perang
"ingatlah Prajurit! Disalah satu dari kalian akan menjadi pintar dan juga akan menjadi bodoh. Bagaimana situasi itu nantinya!" kata liamsu teringat di kepala keduanya..
PUK
PUK
PUK
Arman berdiri dan menepuk pundak Quira selama tiga kali dengan tersenyum
"baiklah. kita akan menjalankan rencana Quira apa ada yang keberatan?!" kata Arman dengan teriak tegasnya
Tiada satupun yang berani menjawab..
"baiklah. Kita akan menyamar sebagai seorang pedagang dari desa yang bodoh!" kata Rhin dengan tegasnya..
Arman pun melakukan pembagian pasukkan. Total Prajurit adalah 270 dan jika semuanya menyamar akan terlihat mencurigakan. Maka Arman membagi sebagai berikut..
"total kita adalah 270. 200 dari kalian akan mencari setiap tempat - tempat kamp Ksatria atau juga tempat yang penting bagi ksatria atau keluarga kerajaan. pembagian kedua. aku meminta kepada 70 prajuritnya untuk memisahkan diri hingga 30 prajurit. 30 prajurit ini aku meminta kepada kalian untuk melakukan informasi informasi penting yang rakyat bicarakan" kata Kata Rhin
"pembagian Ketiga. tersisa 40. Aku minta kepada 30 lainnya adalah untuk mengambil dokumen penting yang berhubungan dengan ekonomi. Keluarga kerajaan negeri ini. Dan setiap rencana ksatria. Dan sisa 10nya adalah ikut kami sebagai pedagang" kata Arman melanjutkan.
"apakah kalian paham tentang rencana ini?" kata Rhin dengan lantang bertanya
"Yes Sir! Yes!" setiap Prajurit menjawab
"baiklah. Setiap langkah kalian akan terpantau dan berhati-hati dengan alat komunikasi kalian karena dengan alat itu kalian akan terlihat bagaimana situasi dan seberapa pentingnya anda akan membutuhkan bantuan" kata Arman dengan tatapan seperti ingin memakan orang..
Prajurit itu hanya ketakutan melihat atasannya tidak memberikan ruang sedikit untuk mereka..
setelah setiap kelompok pembagian melakukan rencana mereka masing-masing akhirnya mereka pergi dan tersisa hanya 12 saja. Termasuk Arman. Rhin. Dan Quira.
Arman hanya tertawa dan kita dia membuka tas nya...
"setiap musuh mati ditangan kita. aku telah mengumpulkan berbagai persenjataan musuh dan aku sangat yakin dengan ini bisa membuat kita masuk ke dalam" kata Arman..
"Tuan Arman. Senjata apa yang mereka pakai?" Tanya Quira..
"senjata ini hanya satu tipe yang telah aku tahu dari informasi musuh membawanya" kata Arman.
"bagaimana aku memperkenalkan mu dengan Gras M1874 senjata ini tidak jauh beda dengan senjata yang kita miliki yaitu ZAR-89. Yang Mulia Raja Firdaus mengatakan bahwa ZAR-89 adalah lima kali lipat dari Gras M1874 ini. ZAR-89 ini ringan karena dengan ukuran 1.110 ini membuatnya mudah dibawa kemana-kemana. Semua orang bisa memakainya dan akurasi & Penggunaannya dipermudah dan hal itu berbeda jauh dengan Gras yang panjang dan dengan ukuran 1.310 juga kepanjangan itu membuat gerak laju pasukan sedikit lambat karena aku menyusaikan Senjata grass ini agar tidak membuat mereka lelah" kata Arman
ini visualnya)..
"Tuan Arman & Tuan Rhin. Bukankah dengan menjual senjata ini akan juga memburuk keadaan? saya melihat akan ada kemungkinan kecurigaan untuk seorang penjaga gerbang" sebuah suara dari seorang prajurit
Arman & Rhin menatap prajurit itu dengan bertanya siapa prajurit yang berani berbicara tersebut
"siapa kamu?" Tanya Rhin
"Saya Kavan. Saya Adalah Prajurit yang memiliki perintah dari Yang Mulia Raja Firdaus untuk ikut serta dalam medan perang ini. Saya adalah seorang penjaga gerbang terlatih dan mempuni. Sebelum kelahiran Yang Mulia Raja Firdaus. Setiap Prajurit penjaga Gerbang atau pintu masuk negeri zalvia. Semua barang diperiksa dan digeledah untuk dipertanyaakaan setiap benda yang mencurigakan. Dan saya yakin dengan apa yang anda perlihatkan saat ini kemungkinan akan membuat penjaga gerbang siam pun akan mencurigai setiap benda yang mereka lihat" kata Kavan..
Ucapan Kavan terdengar masuk akal dan Arman terlihat hanya tersenyum saja
"baiklah. Kavan. apa yang menjadi sarankan anda jika tidak dengan senjata itu?" Tanya Rhin
"Tuan Rhin. maaf jika prajurit kecil ini lancang. mohon lihat sekitar kita. Terdapat banyak buah - buahan yang segar dan kemungkinan ini menjadi sebuah alat menyamaran kita sebagai pedagang dari desa. Tidak mungkin seorang desa memiliki sebuah pucuk senjata atau sejenisnya kecuali mereka dari kalangan ksatria. Jika kita menjual senjata akan ada kemungkinan lain yaitu dimintainya identitas kita sebagai Ksatria" kata Kavan
Sekali lagi kavan berbicara dengan benar dan masuk di akal..
"baiklah. cepat untuk menyediakan gerobak dan kuda!" kata Titah Rhin....
Kuda mereka memiliki namun gerobak? itu sedikit membingungkan apalagi di setiap kelompok itu meninggalkan tank dan mobil lapis baja tersebut
"Tuan kita memiliki masalah lainnya" kata Prajurit lain
"apa itu?" Tanya Arman..
"anda pembagi kelompok tapi tidak memikirkan bagaimana menyembunyikan alat berat ini(mobil. Tank dan sejenisnya)" kata Prajurit itu
Rhin melihat prajurit itu dan mengetahui siapa nama prajurit tersebut
"apa ada yang kamu pikirkan. Lewisa" kata Rhin
"Kita harus membagi diri kita lagi. 5 dari kita harus menjaga alat ini dan 5 lainnya menuju ibu kota!" kata Lewisa..
Arman duduk terdiam karena perpikir bahwa rencananya telah sempurna namun memberikan celah banyak
"Baiklah. Ayo persiapan semuanya!" kata Rhin setelah melihat Arman hanya duduk diam saja..
...----------------...
...BYE...
...----------------...