Monarchy In Indonesia

Monarchy In Indonesia
Utusan Kesultanan Banten



di rapat adipati ini firdaus masih diam dan tak merespon dari banyaknya protes para adipati itu


1 jam kemudian..


Para Adipati itu terus melontarkan fakta demi fakta tentang manfaat kehadiran mereka semua


"Yang Mulia Raja. adanya kami(para adipati) bisa membantu anda dalam pengurusan wilayah Dan kami akan terus menerus tunduk atas perintah anda!" kata Adipati Bhyakta


BRAK( meja di gebrak begitu kencang ).


Gebrakkan meja membuat para adipati itu protes menjadi terdiam


"Sudah pantas kalian memprotes kepada seorang Raja?" Tanya Raja Firdaus dengan tatapan pembunuh


"Sudah pantaskah diri kalian di depan wajah ku dengan protes sampah kalian?" Tanya Raja Firdaus


Tak ada satupun yang menjawab dan hanya terdiam hening


"kerajaanKu yang telah menyelamatkan Warga. Wilayah kalian. Dan kalian sekarang memprotes diri ku dan mencoba mengendalikan ku? Apakah kalian sadar bahwa kalian itu hanya sampah keparat yang dipelihara oleh musuh!" kata Raja Firdaus dengan menggebrak meja sekali lagi..


"aku. Firdaus Raja Zalvia XI akan menurunkan setiap diri kalian(kecuali kesultanan Banten karena itu tidak termasuk) menjadi masyarakat umum! kalian bukan lah adipati sebuah wilayah mulai hari ini!" Kata Raja Firdaus


para adipati yang mendengar itu pun terkejut kecuali raja yogyakarta dan Banten..


"Baste. Umumkan ke semua pulau java & sumatera. Dan sebutkan nama-nama masing wilayah mereka kepada masyarakat umum. Bahwasannya mereka(setiap para adipati) tidak menjadi adipati lagi. Masyarakat hanya perlu patuh pada Mahkota Ku!" Titah Raja Firdaus dengan Pistol mengarah ke tembok


DOOOOOR


Sebuah suara ledakkan kecil tapi tak pernah mereka dengar sebelumnya itu membuat mereka terkejut


"Dan siapapun yang membantah perintahKu. Bunuhlah" kata Raja Firdaus dengan aura seperti siap pembunuh dan mengkuliti mereka semua..


Para Adipati itu ketakutan bukan main.. Mereka kira mudah bagi mereka mengendalikan raja yang masih berumur 20 tahun yang dimana usia mereka dan firdaus berbeda. Tapi salahnya mereka adalah salah memilih orang untuk yang dikendalikan..


Firdaus Tersenyum puas ketika melihat wajah - wajah jelek para adipati itu yang setelah mendengar oeputusannya


Firdaus melirik baste dan baste mengangguk mengerti..


"Baik. Tuan?" Tanya Rayyan bingung


"Baste. Saya lebih muda dari anda. anda bisa memanggil saya Tanpa sebutan formal" kata Baste


Baste pun keluar dari Ruangan itu dan menuju kereta kuda lalu rayyan mengikutinya..


Tok


Tok


Tok


"Yang Mulia Raja. Utusan Banten telah hadir didepan anda" kata Baste setelah mengetuk 3 kali


"Masuklah" kata Raja Firdaus dari dalam


Baste membuka pintu untuk rayyan lalu membungkuk


"Silahkan!" seru Baste


Rayyan sekilas melihat dekorasi kereta kuda itu sangat amat mewah sungguh mewah tapi ia heran mengapa tak ada satupun senjata didalamnya bahkan senjata yang mengeluarkan suara keras itu tak hadir sejauh mata rayyan melihat.


'Sepertinya ini benar-benar sebuah diskusi. Bukan ancaman' gumam Rayyan yang mulai percaya akan situasi yang telah ia analisa


"Selamat Siang. Tuan Rayyan. Utusan Kesultanan Banten. Aku Firdaus. Raja Zalvia XI. Senang bertemu dengan anda!" kata Raja Firdaus.


"Selamat Siang. Raja Firdaus Zalvia XI. Saya adalah Rayyan. Utusan Kesultanan banten. NegeriKu mengutusku untuk berdiskusi dengan anda" kata Rayyan


dan tolong jangan panggil saya tuan. Sungguh malu diri saya jika dipanggil Tuan oleh seorang raja seperti anda" Lanjut Rayyan Berkata


...----------------...


...BYE...


...----------------...