Monarchy In Indonesia

Monarchy In Indonesia
Jesi Si Perempuan Gila



Hendrik dan beserta bawahannya bersenang-senang telah menemukan peti emas yang mereka cari


"Kapten Hendrik. Kita sudah Berhasil. Lalu apa yang di lakukan kapten jesi di ujung selatan?" Tanya Joy


Joy sempat mendengar Tentang rencana yang dibuat oleh firdaus sehari sebelum melakukan operasi walaupun itu tindakan yang melanggar aturan tapi Joy tidak menyesal pada akhirnya dia lah yang akan membawa kemenangan


"Joy!. Kamu tetap sama seperti dulu. Jangan mengguping pembicaraan orang lain!. Hahaha" kata hendrik pura-pura marah lalu tertawa puas.


Setelah tertawa. Mimik Wajah Hendrik kini berubah serius


"kamu membicarakan Jesi? Joy? aku harap jesi tidak mati di medan perang. Karena aku dengar dia sangat ingin perang bahkan Yang Mulia Firdaus menyebutnya Jesi Si Gila perang. Jangan bawa namanya lagi disini. berdoa saja agar dia tetap hidup" kata Hendrik


Joy serta bawahan lainnya hanya mengangguk mengerti


-Sisi ujung Selatan. Lainnya


"Hahahahahahaha" Teriak Perempuan ditengah bingar bingar suara tembakkan


Dooor


Doooor


Dooor


"Kapten Jesi. Pasukan Musuh terlihat!" kata prajurit jesi.


(Prajurit jesi \= Jesi


Prajurit hendrik \= Hendrik)


"Sepertinya mereka mengantarkan nyawa. Baiklah. Kalian! persiapkan senjata dan maju untuk menyambut musuh kita! Hahaha" titah Jesi dengan tawa jahatnya.


Prajurit jesi manapun yang melihat Itu hanya Bergidik ngeri.


"Dimana Tank ?" Tanya jesi


Drrrtt


Drrttt


Suara Tanah yang bergetar hebat dan itu disebabkan Tank yang menuju dirinya


"Ini kapten Jesi. Apakah anda mau mengendarainya?" Tanya Supir Tank


Jesi pun mengangguk dan ingin nembak setiap ledakkan itu kepada musuh.


Jesi pun masuk dan terlihat 2 orang yang dikatakan itu untuk mengisi ulang amunisi.


"Apa kalian siap?" Tanya jesi kepada 2 orang tersebut


"T---Tentu siap!" kata Prajurit jesi yang gugup.


Drrrrttt


Drrrttt


Jesi menjalankan tank dengan melambat agar prajuritnya tidak ikut terinjak-injak.


"Posisi?" Kata Jesi


"Lock" kata Prajurit 1 jesi


"done" kata prajurit 2 jesi.


"Fireee!" titah Jesi


Duuuuaaar


Duuuaaar.


Tank mengeluarkan dua kali tembakkan dan itu berhasil membuat para musuh mati terlempar dan tubuhnya mati gosong karena terkena tembakkan.


"Hahahahaha" Jesi tertawa


Jesi tertawa puas ketika berhasil membunuh Musuh


"Kapten jesi. apakah kita perlu pindah ke pulau lainnya?" Tanya Prajurit 1 Jesi


Jesi perpikir sejenak tapi dia menggeleng kepala


"kita sudah 1 bulan sama seperti kapten hendrik. Yang kita perlukan hanya memperluaskan area musuh menjadi tiada. Lihat peta ini" kata Jesi



Visualnya)


"kita sudah 1 bulan disini bersama Kapten Hendrik. Yang Mulia Firdaus meminta kita membasmi Markas utama mereka di negeri ini. Lihatlah ini. batu-batu ini akan menjadi perjalanan kita menuju barat lalu berubah sedikit arah mata angin. Utara" kata jesi


Jesi sebenarnya ingin langsung menuju markas utama tapi ia harus patuh kepada perintah firdaus yang menginginkan dirinya mencari dukungan kadipaten lokal harus dan membuat mereka loyal kepada kekaisaran zalvia.


Srrittkkk


Pintu Besi Tank terbuka dan banyak prajurit melihat jesi keluar dari tank pun bersorak.


"Hidup Kapten Jesi!" kata Teriak serempak prajurit jesi


Jesi yang mendengar itu hanya tersenyum


"Adin. Mengapa mereka bersorak?" Tanya Jesi


Adin Adalah Asisten miliknya. Jika kapten hendrik punya joy. Maka jesi punya adin.


Adin Adalah perempuan yang berumur 2 tahun lebih tua dari Jesi tapi secara pangkat sekarang. Adin harus menghormati Jesi sebagai atasannya


"Kapten Jesi. Selamat anda telah membangkitkan semangat juang prajurit kita lebih baik" kata Adin sambil menunduk


"Baiklah. Sekarang. Sudah berapa kadipaten yang sudah bersedia?" Tanya Jesi


"Sekitar 15 Kadipaten. Kadipaten utara dan Timur akan bersumpah setia kepada kekaisaran apabila wilayah mereka dibersihkan dan dikembalikan dari Pihak Musuh" kata adin membaca laporan


"Kadipaten utara & Timur? Bukankah kedua kadipaten itu berdekatan dengan pantai?" Tanya Jesi


Adin mengangguk


"benar. Kapten Jesi. Menurut Informasi yang saya telah dapat melalui mata-mata kita. Terdapat 200 prajurit musuh berada di Utara. Dan di timur sebanyak 300 prajurit musuh" kata adin membaca ulang laporan hasil dari mata-mata mereka.


"jika di total maka 600 ya. Hmm. Adin. Perintahkan 600 Pasukan kita lalu pecahkan mereka. Sisakan 100 untuk sebagai bala bantuan. Sekarang!" Titah Jesi


"Baik. Kapten Jesi!" kata adin sambil menunduk patuh