Monarchy In Indonesia

Monarchy In Indonesia
Ayam panggang



banyak mata memandang ketika firdaus & stramos memasuki pintu masuk


"Stramos. dengan siapa kamu kesini?" Tanya salah satu pria yang terlihat ber-otot tapi tetap sopan


"Salam Paman. Aku hanya pengembara dari sebuah tempat di bawah selatan sana. kebetulan paman stramos ingin mengenalkan kota ini kepada ku dari alasan itu saya mengikutinya" kata firdaus dengan sopan


"haha. stramos. apakah kamu percaya dengan seorang berumur seperti 8 tahun adalah seorang pengembara? katakan siapa yang kamu culik? apakah kamu tidak takut prajurit kerajaan menangkap mu?" Tanya Pria itu


"Ahemm. Nara. Benar apa yang dikatakan anak itu. Dia tidak sendiri. dia bersama pria tua seperti diriku. dia menitipkan anaknya kepada ku" alibi stramos


Stramos takut nara akan memperpanjang cerita dengan yang mungkin bisa menyakitkan hati firdaus atau membongkar siapa firdaus


"Paman. Kata anda, anda memiliki sebuah rekomendasi tentang makanan Kota Avik ini? apakah aku dapat menemukan disini?" Tanya Firdaus


Stramos mengerti dan mencari tempat duduk dan memanggil pelayan


"Ah Tuan Stramos. sudah lama tidak berjumpa. bagaimana istri mu?" tanya perempuan tua yang seperti 60 tahun tapi tetap sehat walfiat


"Nenek Ni. Istri ku sudah meninggal tepat 1 bulan yang lalu. lupakan. apakah aku bisa memesan makana?" Tanya Stramos


"Haha tentu. Apa yang anda inginkan? tuan stramos?. dan siapa anak ini? anak mu?" Tanya pelayan Ni


Stramos sedikit menelan ludah karena ia juga tidak pernah bermimpi mendapatkan anak dari kalangan kerajaan tapi itu adalah mimpi di siang bolong


"T---Tidak. Dia Adalah seorang anak dari bawah selatan" kata stramos sedikit cukup gugup


"Oh Nak. sungguh berat ya berarti dirimu harus tinggal tanpa siapapun" kata Ni yang mulai mentetikan air mata yang lolos


"Tidak perlu khawatir. dia masih memiliki ayah yang kini mencari tempat untuk penginap malam" kata Stramos


"Baiklah(sambil menghaps air mata). lalu apa yang kamu pesan?" kata Ni berganti mode bekerja.


Firdaus yang pernah hidup di perusahaan budak koperat hanya bisa menyetujui apapun itu dari bos nya dan firdaus merasakan hal yang sama.


Akhirnya Stramos & Firdaus memesan Ayam panggang


1 jam kemudian


"Bagaimana? apakah ayam panggangnya enak?" Tanya stramos


Firdaus hanya tersenyum dan masakkan di resturant ini memang tidak terlalu buruk dan sesuai seleranya


"ini bagus. daging ayam ini matang dengan baik. daging yang empuk dan kulit nya yang empuk dan tidak terlalu keras" kata Firdaus


stramos setuju dengan komentar firdaus tentang Ayam panggang ini karena ia juga merasakan betapa enaknya ayam panggang ini


"Ah sebas. duduklah. maafkan stramos. karena aku yang lapar maka dia yang mencarikan tempat resturant terbaik untuk ku makan" kata Firdaus yang melihat & mengenali orang itu adalah sebas


Sebas & aloy pun duduk dan Stramos juga memesan kembali ayam panggang yang sama


"lalu bagaimana? apakah ada penginapan?" tanya firdaus


"Ada yang Mu--" kata sebas ingin menyelesaikan tetapi tangan firdaus berada di bibir sebas


"Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu sementara kita di banyak orang. Tidakkah kamu pikir mungkin ada salah satu musuh dari daratan sana? sekarang anggaplah aku anak mh" tanya firdaus dengan mengecil


Sebas pun menundukkan kepala dan mengangkatnya kembali


"maaf. nak. Dan penginapan kita ada. ayo habiskan ini dulu" kata


sebas mengimprovisasi tindakannya


3 jam kemudian


mengobrol 2 jam


1 jam makan


rombongan itu menghabiskan 3 jam dalam resturant dengan makan & mengobrol hal-hal yang sedikit penting & tidak penting.


rombongan firdaus keluar dengan keadaan perut yang menggenyangkan


"Baiklah. kita kembali ke penginapan" kata firdaus


semuanya pun mengangguk dan mengikuti sebas arah jalan penginapan


"bagaimana menurut kalian ayam panggang yang kalian makan sebelumnya?" tanya firdaus


"Ayam panggang? sulit dikatakan tapi ayam panggang itu adalah kenikmatan bagi seseorang yang telah berkelana jauh dan mungkin kita salah satunya" kata Aloy


"Ayam panggang seperti menyambut kita dalam ke kota ini" kata Sebas


...----------------...


...BYE...


...----------------...