
Rhin & Arman membuat rencana dan keduanya telah membuat beberapa rencana alternatif apabila disetiap penyerangan gagal. Terendus oleh musuh atau ada mata-mata disela-sela prajurit. ketiga rencana itu adalah bentuk kewaspadaan.
-Ke esokkan Hari.
BRAK
"Sialan! siapa yang berani menyerang wilayah selatan Kerajaan Ku?!" Teriak ??? yang bermahkota Emas di kepalanya
Semua orang yang mendengar itu terdiam dan ketakutan melihat bahwa rajanya saat ini sedang marah besar..
Seorang Pria berbaju zirah lengkap itu maju dan menundukkan kepala didepan raja yang sedang marah itu
"Yang Mulia Raja Luthai. saya telah mendengar bahwa adanya perperangan di wilayah selatan kita itu semua terjadi oleh bangsa zalvia" kata pria berzirah itu
Raja Luthai yang mendengar itu duduk di tahtanya dan mulai mengatur emosinya
"Aaut. Katakan siapa dan dimana letak wilayah Bangsa Zalvia yang telah kamu sebut itu!" Titah Raja Luthai..
"Yang Mulia Raja Luthai. Bangsa Zalvia berada diwilayah Bumi Utara dan sebagian besar berada di selatan dan di barat. Baru-baru ini saya telah mendengar bahwa bangsa itu sedang memperluas wilayahnya mereka dan kemungkinan besar wilayah selatan kita telah diserang untuk menduduki wilayah kita" Kata Aaut
Luthai. Raja Siam itu menghelas nafas kasar dan sedikit mencengkram tangan kursi tahta tersebut.
Luthai bangkit dari tahtanya dan juga mengangkat pedang emasnya itu
"Aaut dan lainnya! Aku perintahkan kalian. Perangi Bangsa zalvia dan bertahankan wilayah kerajaan siam kita yang tercinta! Sebarkan kepada Rakyat dan seluruh bangsawan untuk turut serta membantu kerajaan melindungi wilayahnya!" kata Raja Luthai memberi titah dengan keras dan lantang
.
Semua yang mendengar itu pun membungkuk dengan berteriak keras
"Hidup panjang Siam dan rajanya!" serentak orang-orang itu berteriak
-Back to Rhin & Arman.
Para pasukan Aceh itu telah bangun dan selama bermalam hari mereka semua melakukan shift bergantian. Setiap prajurit berkelompok minimal 10. Disetiap 10 kelompok wajib berpatroli. Menjaga dan lainnya selama 4 jam dan akan diganti oleh kelompok lainnya dan terus hingga pagi menjelang.
"sudah. Arman akan tetapi para tentara yang terluka tembak itu seakan tidak rela jika tidak mati di medan perang dan memilih melawan petugas medis untuk berperang" kata Rhin menjelaskan fakta lapangan di bagian tim medis
"memang semangat rakyat & tentara aceh kini ditempah baik oleh Guru Liamsu" kata Arman dengan nada menganggumi Liamsu
"apa kita akan berangkat sekarang?" Tanya Rhin
"Tidak. aku sedang menunggu pasukan bantuan dari pusat dan akan menempati di bagian ujung selatan(malaysia) untuk selalu bersiap digaris depan mereka apabila kita butuh bantuan
" lalu baga--" ingin rhin menyelesaikan perkataanya namun ia mendengar teriakkan memanggil nama nya dan arman
"Tuan Arman. Tuan Rhin. Tuan Arman. Tuan Rhin!" Teriak seseorang ??? yang memanggil keduanya terus menerus
orang itu berteriak dengan mengkipas-kipas selembaran kertas..
Doooor
suara tembakkan peringatan menancap di tanah yang dilakukan oleh prajurit penjaga
"perhatikan langkah mu! Wilayah ini bukan untuk mu. tinggalkan lah wilayah ini!" kata Penjaga Aceh dengan menyiapkan senjatanya ke arah kepala pria misterius itu
"Hai penjaga! tolong pertemukan aku dengan Tuan Arman & Tuan Rhin. Aku memiliki berita penting untuk dilaporkan!" kata ????
Pria itu hendak melangkahkan kakinya tetapi itu akan beresiko kepadanya.
"Turun senjata mu. Penjaga!" kata Arman bersuara
...----------------...
...BYE...
...----------------...