
Sesampainya di bagian utara. Hendrik turun dari kendaraannya dan mencoba mencari kebenaran Informasi lokal yang sebelumnya memberitahu tentang adanya gandum dan emas dua peti.
"Maafkan saya. Pak. saya sedang mencari dimana gandum & Emas peti berada?" Tanya Hendrik
Pak Tua yang melihat itu terkejut
"S--siapa kau? Aku tidak tahu" kata Pak tua tersebut menolak
Joy yang melihat itu paham akan penolakkan.
"Pak. kami bukan musuh. Kami teman. Kami datang membebaskan tanah air kalian. Kami datang dari selatan. Tepatnya Kekaisaran Zalvia" kata Joy sambil melihat kan lencana
ini visualnya)
"Kekaisaran Zalvia? Saya tidak pernah mendengar hal tersebut tapi benar saya tidak tahu" kata pak tua sama dengan menolakkan pertama
"kami dapat berikan anda gadum jika anda ingin bekerja sama dengan kami. Cukup katakan dimana gandum dan emas dua peti itu berada dan kami akan berikan dan anda bisa bertahan selama beberapa bulan" tawaran dari Joy
Joy pun memperlihatkan sekarung gandum yang besar dimana pak tua itu juga
"Ahem baiklah. pergilah ke timur laut disana ada Beberapa penjaga Musuh kalian cari" kata Pak Tua
"Apakah anda akan berbicara kosong?" Tanya Hendrik
"Kenapa saya harus omong kosong dengan kalian yang sebentar lagi mati oleh penjajah asing itu?" Tanya Pak Tua dengan nada tersinggung
"Baiklah. Joy. Berikan gandumnya" kata Hendrik.
"Maju!" kata Hendrik
Pasukan Hendrik meninggalkan pak tua tersebut.
"Apakah anda akan mempercayainya. tuan?" Tanya Hernya
"Percaya atau tidak kita harus memperiksanya" kata hendrik
15 menit kemudian.
Perjalan ke timur laut dibutuhkan 15 menit dan Hendrik memberhentikan semua pasukannya ketika melihat beberapa penduduk dipaksa untuk membuat sebuah jalan.
"Berhenti. Lihat mereka" kata Hendrik.
Sekitar 15 tentara musuh yang mengawasi penduduk lokal yang terlihat kini semakin dikit yaitu 100 orang.
PLAK!
"Ayo Cepat Kerja!" kata Salah satu perwira tentara musuh
Banyak tentara musuh yang tak segan-segan menyiksa penduduk lokal yang malas bekerja.
Hendrik yang melihat memandangan tersebut membuat dirinya marah.
"Kapten. Kita tidak bisa menggunakan Tank. Tapi kita bisa lumpuhkan mereka" kata Joy.
"biarkan satu keparat itu hidup. Aku ingin mencari informasi darinya" kata hendrik mencoba mempertahankan wibawanya.
Dooor
Tembakkan Meletus dari beberapa bawahan hendrik ketika melihat lampu kehijau dari kapten mereka.
"Musuh Harus Musnah!" Teriak Joy bergebu-gebu.
Dooor
Dooor
Tembakan terus meletus tanpa adanya balasan.
Penduduk lokal yang melihat situasi ini pun bergegas lari dari lokasi tersebut.
"STOP!" kata Hendrik.
Hendrik pergi ke tempat musuh yang sudah diserbu oleh banyak tembakan tapi harapan hendrik sirna
"Arggh sialan. kenapa kalian bunuh mereka semua? Sekarang kita tidak tahu dimana markas mereka" Teriak Hendrik Marah
Semuanya hanya terdiam
"Kapten! Disini masih ada yang sekarat!" kata seru salah satu bawahan Hendrik
Hendrik mendengar seruan dari bawahannya tanpa babibu pun segera menemui musuh sekarat tersebut.
"Katakan! Dimana markas kalian!" kata Hendrik dengan nada penduduk lokal
"Ke--keparat kalian semua(meludah kepada hendrik). Aku tidak akan memberitahu kalian bahkan aku mati pun" kata Perwira musuh
"panggil tim medis. Kita tunjukkan kepada bajingan ini kalau dirinya tidak dapat mati begitu tenang" kata Hendrik
Joy menggunakan pluit merah yang berarti tim medis dibutuhkan.
"Kalian cepat sembuhkan bajingan ini dan setelah itu pergi" kata joy sambil menunjukkan perwira musuh tersebut.
Tim medis mengangguk.
Operasi Mengeluarkan peluru berhasil dilakukan.
"Kapten Hendrik. Dia akan bertahan 2 hari. lebih dari itu. Itu tidak bisa lagi" kata Tim medis
"Baiklah. Terimaksih" kata Hendrik.
Hendrik tersenyum puas dan melihat perwira itu
"Sudah ku katakan. Kamu tidak akan mati tenang sebelum memberikan informasi kau tahu" kata Hendrik dengan serangaian di wajahnya
...----------------...
......BYE......
...----------------...