
Dario sedang mengurus pekerjaan saat dua anak kembarnya itu sedang asyik berebut perhatiannya melalui panggilan video.
"Aku mau sama Papa," kata Brenda.
"Aku dulu yang mau bicara," kata Bertha tak mau kalah.
Kadang sepasang saudara kembar itu saling dorong atau saling menjambak kalau bertengkar. Hal yang tidak bisa terhindarkan lagi terjadi sehari-hari di rumah.
Hal itu bukannya membuatnya pusing dengan segala keributan, tapi Dario justru gemas. Saat di kantor, ia selalu rindu pulang. Tapi bagaimana lagi, ia harus tetap bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Dario yang sebenarnya pusing itu tapi demi sang buah hati, sericuh apapun suara mereka, ia akan tetap menyalakan handphonenya itu. Karena mereka bilang mereka rindu papa.
Julie akhirnya mengambil alih handphone itu.
"Sudah ya. Papanya mau kerja. Nanti kita menjenguk nenek, oke?" Suara Julie terdengar menenangkan si kembar.
"OK." Dua suara teriakan nyaring terdengar saling bersahutan. Dario tertawa-tawa sambil melihat layar handphonenya, dimana sekarang wajah Julie yang muncul di layar.
"Sudah dulu ya," katanya lalu ia melambaikan tangan ke arah Dario.
Dario tersenyum manis sambil menutup telepon.
Sungguh dunia anak-anak yang seru dan menyenangkan sekali. Sekejap pun, ia tidak bisa kalau tidak memikirkan anak-anak itu. Dan juga memikirkan Julie tentu saja.
Nanti malam mereka memang mengunjungi nenek mereka di rumah sakit. Setiap sebulan sekali, mereka selalu berkunjung. Hal ini dilakukan sejak mereka berumur 3 tahun.
Mereka sengaja memilih malam hari untuk waktu kunjungan agar lebih menjaga privasi. Dokter Anna yang memang mengurus langsung nyonya itu memberikan akses tentu saja.
Sudah 4 tahun nyonya itu terbaring di rumah sakit. Tapi perawatan terbaik tetap diberikan. Dario punya banyak uang untuk membayar rumah sakit agar memberikan fasilitas terbaik khusus untuk mamanya.
Entah mamanya atau bukan, nyonya Sanio tetaplah wanita yang merawatnya dari bayi.
Kini perempuan itu terbaring tak berdaya. Mungkin kalau alat-alat yang tersambung di tubuhnya dicabut, nyonya itu akan pergi selama-lamanya.
Tapi Julie selalu menguatkan Dario. Dia bilang, selalu ada keajaiban. Tunggu saja. Toh mereka juga mampu membayar uang rumah sakit yang sebenarnya tidak sedikit juga jumlahnya.
Ibaratnya, alat-alat canggih itu yang memberikan nyonya itu nyawa.
***
Dario hampir menyelesaikan tugasnya saat pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Shan membukakan pintu. Ia melihat ada Grace-sekretarisnya.
"Silakan masuk, Grace," kata Dario.
Grace lalu masuk. Ia memberikan jadwal untuk satu minggu ke depan.
"Ada beberapa calon klien yang mungkin bisa kita menangkan tendernya, Pak. Daftar yang bawa minta saya sudah saya susun. Daftar nama siapa saja yang potensial kita dapatkan," kata Grace lalu memberikan satu dokumen lagi.
Dario menerimanya. "Duduklah dulu Grace," katanya.
"Shimmar Group adalah perusahaan yang sebenarnya tidak terlalu baru. Mereka mengadaptasi produk-produk yang sudah terkenal di mancanegara dan mengaplikasikannya secara lokal. Banyak contoh produk yang sudah berhasil. Saya pikir kita bisa menjerat mereka untuk menjadi klien," kata Grace.
"Kebetulan sekali orangnya sedang di lapangan, Pak. Dia sedang mengecek tempat produksi yang kemarin sudah saya perlihatkan lewat meeting. Tentu meetingnya tanpa anda, karena waktu itu anda sedang berkepentingan dengan anak-anak anda. Mau bertemu dengannya langsung sekarang? Dia sudah ditangani oleh pak Evan. Tapi alangkah baiknya kalau anda turun juga." Grace menyarankan.
"Baiklah, jadi di factory berapa dia?" tnya Dario sambil bersiap.
"Factory 1. Biar saya bilang Shan. Biar dia menyiapkan mobil untuk mengantar anda ke sana," kata Grace lalu bersiap juga untuk keluar dari ruangan.
Singkatnya, mereka melakukan perjalanan menuju tempat produksi.
Axton Group adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Perusahaan itu sudah mempunyai banyak cabang dan klien-klien dengan nama besar sudah mereka dapatkan.
Di tangan Dario, dalam beberapa tahun masa kepemimpinannya itu, perusahaan itu sudah menjelma menjadi perusahaan raksasa.
Mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju. Dario ditemani Shan masuk ke dalam tempat produksi.
Pak Evan menyambut mereka dan memperkenalkan mereka dengan Devano Shimmar, pemilik perusahaan Shimmar Group.
***
Devano adalah sosok pria matang metropolitan yang dari penampilannya saja orang-orang sudah tahu bahwa dia ini adalah contoh lelaki mapan yang sukses.
Tentu penampilannya tidak jauh berbeda dengan Dario. Ya 11-12. Mereka juga sepertinya seumuran.
"Halo, saya Dario Axton," kata Dario memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Devano dengan ramah.
Tentu ia harus ramah. Devano adalah calon klien besar yang mungkin bisa Axton dapatkan.
"Saya Devano Shimmar, pemilik Shimmar Group," katanya sambil tersenyum.
Jabatan tangan itu adalah permulaan-permulaan cerita yang panjang.
Mereka berdua lalu berjalan mengitari tempat produksi dan Dario menjelaskan semuanya dengan menyakinkan.
Devano tampak terkesan, bahkan sampai seorang CEO saja turun tangan. Selain itu ia juga melihat profil Axton yang sudah berhasil. Tentu tidak salah lagi kalau ia memilih Axton untuk proyek besar yang sedang ia kerjakan itu.
Akhirnya sebuah kesepakatan ditandai dengan jabatan tangan. Devano diminta datang lagi untuk menyelesaikan masalah administrasi lainnya besok.
"Ya saya harus ke luar negeri mingu depan. Saya harus ke Swiss untuk liburan dengan keluarga," kata Dario.
"Wah kebetulan sekali saya juga akan ke Swiss minggu depan. Mungkin kita bisa bertemu di sana kalau berjodoh. Salam untuk keluarga anda, Pak," kata Devano sebelum ia berlalu pergi.
Padahal ia tak tahu saja keluarga yang Dario maksud adalah Julie.
Julicia Sanders, mantan kekasihnya yang ia cari-cari dengan susah payah itu.
Sungguh apa dunia memang seseempit ini?
...****************...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Guys. 🌻🌻🌻...