Mama'S Twin

Mama'S Twin
Ketakutan Julie



Nyonya Sanio mematikan ponselnya. Ia lupa. Dario bilang Julie sudah resign dan sekarang Grace yang menjadi sekretarisnya.


Ia segera mencari nomor Grace dan menghubunginya. Perusahaan bisa kacau kalau Dario tak ada.


***


Julie melihat ponsel itu dengan wajah tegang. Ia pikir sudah aman sekarang untuk menyalakan ponsel lamanya. Dario sudah menemukannya dan mereka sudah sepakat untuk menikah. Tapi ternyata ia melupakan satu hal. Ya, Nyonya Sanio. Ia berbahaya untuknya.


Dario naik ke atas. Ia mengambil handuknya. Julie masih tampak syok.


" Julie, tenanglah. Kamu aman. Mungkin Mama cuma bingung mencariku karena aku kabur dari rumah," kata Dario. Ia lalu duduk di kursi samping Julie.


"Kamu kabur?" tanya Julie dengan wajah terkejut.


"Ya. Celia kembali ke rumah dengan sandiwaranya. Ada Antonio dan juga Ludwig. Dibayar berapa mereka sampai mau menuruti kemauan Celia untuk berbohong. Dasar perempuan gila," kata Dario dengan kesal.


Julie terdiam. Ia menyimpan ketakutan dalam hatinya. Bagaimana kalau Celia tahu tentang dia? Bagaimana kalau Nyonya Sanio tahu? Julie sedang mengandung anak Dario. Jantungnya berdebar dan ia gelisah.


"Celia  menolak dicerai. Surat cerai yang sudah disiapkan entah disimpan dimana. Mama membelanya karena percaya. Entah bagaimana bisa mengubah hatinya. Tapi kamu tenang saja, aku pakai mobil isteri Shan, pengawalku. Kita tak terlacak," kata Dario.


"Aku matikan lagi ponsel lamaku," kata Julie lalu mematikan ponsel itu. Dario bisa mengerti. Julie pasti sangat khawatir. Entah mengapa Nyonya Sanio menelponnya.


***


Julie mandi dengan cepat. Hatinya tiba-tiba goyah. Kemarin ia setuju dinikahi Dario. Apa ini keputusan yang tepat? Apakah karena ia iba saja melihat kegigihan Dario padanya? Ah, ia kini merasa terjebak.


Pernikahan ini di sisi lain menguntungkan Dario. Julie tentu saja melihat kesungguhan pria itu untuk bertanggungjawab. Tapi bagaimana jika setelah anak itu lahir Dario mengambilnya. Surat perjanjian memang sudah ditandatangani dengan Shan dan Athena sebagai saksinya. Bukti hukumnya memang kuat. Tapi ia melupakan satu hal. Keluarga itu punya super power. Bisa saja ia diracun, bisa saja ia diculik. Maka surat itu tak akan ada artinya lagi. Ia akan lenyap tanpa seorangpun tahu. Ah, seperti cerita Dario tentang mimpinya bahwa Papanya diracun oleh Papa Celia.


Bulu kuduk Julie merinding membayangkannya. Ia melihat bayangannya di kaca. Perutnya makin membesar, sepasang anak kembar yang ia nantikan ada di dalam perutnya.


Julie menghela nafas panjang. Ia merasa cemas sekarang. Ia lalu menuju lemarinya. Ada tempat laci tersembunyi. Ia mengambil kuncinya lalu membukanya. Surat perjanjian itu ada di sana, surat hasil tes DNA janinnya dan Dario. Juga ada sekeping memori kamera berisi video dan foto pernikahan mereka. Mengenai surat bukti pernikahan sudah disepakati agar Thomas Dean yang menyimpan.


Julie mengambil tasnya yang agak besar. Ia memindahkan ke situ. Ada satu kantong tersembunyi. Hatinya berdebar. Bukti itu menguntungkannya karena ia yang punya kuasa untuk menyimpan. Tapi di lain sisi, bukti-bukti itu bisa membunuhnya.


Dario mengetuk pintu kamarnya. Julie tergagap lalu memasukkan tas itu ke tumpukan baju-baju agar tersembunyi.


Julie melangkah ke pintu dan membukanya. Dario membawakanya segelas smoothies.


"Hai, pelayan bilang kamu menyukai ini," katanya sambil mengacungkan gelas itu. Nampak menggoda. Julie menelan ludahnya.


"Boleh aku masuk?" tanya Dario lagi.


Julie mengangguk dan melebarkan pintu kamarnya. Dario masuk dan duduk di sofa lebar itu. Pemandangan kota Suresh yang padat di pagi hari ini tampak terlihat indah dari atas sini.


"Ini," katanya menyerahkan gelas smoothies itu untuk Julie. Jukie menerimanya dan duduk di sampingnya.


Julie menikmati makanan itu dengan senang. Ya, nafsu makannya makin tinggi seiring perkembangan janin di perutnya.


"Julie, kamu membuat saya senang hanya dengan mrmnadangimu makan dengan lahap. Kamu tahu semalam saya begitu marah dan menyetir seperti orang gila? Tapi saat kamu di samping saya, masalah apapun yang saya hadapi nampak bisa diselesaikan dengan mudah," kata Dario dengan manis.


"Lalu apa solusi dari masalah kamu sekarang?" tanya Julie.


"Kabur, sembunyi, menghilang. Sampai Mama sadar kalau perusahaan akan kacau kalau tak ada saya. Sampai ia sadar kalau Celia itu licik dan pembohong. Mama mungkin mampu mengambil alih perusahaan. Tapi kemampuannya banyak berkurang. Seberapa tahan dia. Saya hanya akan memantau," kata Dario.


Julie kini makin cemas. Ia ingin kabur saja. Tapi Dario pasti akan sembunyi di sini. Ia tak bisa pergi dengan bebas atau mengakalinya dengan pergi bersama Athena lalu kabur.


Sejak telepon Nyonya Sanio itu, hatinya menjadi tak tenang.


"Lalu kamu akan sembunyi dimana?" tanya Julie.


"Tentu saja di sini. Aku ingin melihat istri dan bayiku," kata Dario dengan tersenyum.


Julie diam saja. Ia memandangi langit biru lewat jendela lebar itu sambil kembali menikmati smoothiesnya.


"Saya juga akan pergi ke Stone dan Valex untuk menyelidiki kecelakaan kapal itu. Rumah lama itu menyimpan banyak kenangan tentang Papa dan juga barang-barangnya," kata Dario.


"Aku ikut," kata Julie spontan. Entah mengapa, ia ingin kabur dari Dario tapi ia merasa tertantang mengetahui kasus ini.


"Berbahaya Julie, kamu sedang hamil," kata Dario dengan khawatir.


"Dokter Anna bilang aman saja. Trimester kedua adalah bulan paling aman. Aku ikut," katanya tanpa bisa dibantah.


"Oke. Besok bersiap. Kita akan berangkat pagi-pagi benar. Saya akan sendiri. Shan tidak ikut. Saya memberinya libur karena istrinya juga sedang mengandung. Rupanya sedang mengalami fase mual seperti di awal kehamilan. Tapi Detektif yang Shan sewa sudah menyepakati. Kita hanya tinggal membuat janji temu," kata Dario.


Julie mengangguk. Suapan terakhir smoothies itu ia habiskan.


"Oke, berapa hari kita akan pergi? Aku akan minta pelayan untuk siapkan banyak makanan di mobil. Aku akan banyak makan, sekarang aku makan untuk 3 orang," kata Julie sambil tertawa.


Dario ikut tersenyum sambil memandang perut Julie yang membuncit.


"Boleh aku menyentuhnya lagi dan menyapanya?" tanya Dario penuh harap.


Julie mengangguk sambil tersenyum. Dario berlutut di dekat perutnya. Ia tersenyum lembut sambil menyentuh perut itu.


Julie sebenarnya tak tahu bagaimana perasaanya yang sebenarnya pada Dario. Kadang ia takut dan khawatir kalau Dario akan mengambil anaknya lalu menyingkirkannya.


Tapi melihat tingkah manisnya seperti ini membuatnya luluh juga.


"Hallo, anak-anak. Ini Papa," kata Dario dengan mata berkaca-kaca.


...----------------...


Hai pembaca, tunggu update besok ya. Petualangan ke Kota Valex dan Stone untuk menyelidiki kecelakaan kapal.


Yuk mari tinggalkan jejak.