
Julie sedang belajar berjalan dengan Athena saat dokter Anna masuk ke kamarnya.
Julie sudah boleh pindah ke kamar rawat biasa, namun bayinya harus tetap di ruangan khusus.
"Julls, great job. Kamu kan cepat pulih tapi jangan terlalu memaksakan diri. Pelan-pelan saja sampai luka di perutmu sembuh benar. Pakailah kursi roda dulu jika ingin mencari udara segar di luar. Tapi kusarankan tidak," kata dokter Anna sambil mengecek laju cairan infus yang tersambung ke lengan Julie.
"Kenapa? Apa cuacanya buruk? Apa salju sudah turun?" tanya Julie.
Dokter Anna membantu memapah badan Julie agar ia kembali duduk ke ranjangnya.
Dihelanya tarikan nafas panjang itu.
"Bukan itu maksudku. Julls, kemarin Nyonya Sanio menemuiku. Entah mengapa dia kemari lagi." Dokter Anna berkata pelan.
Athena kini berdiri di samping sang dokter.
"Untuk apa?" Wajah Julie tampak menegang.
"Sejujurnya dia pernah menemuiku diam-diam saat kalian masih di Valex. Dario sepertinya ceroboh dan meninggalkan foto ultrasonografi bayi kalian di kantong jasnya. Nyonya menggeledahnya dan menemukan foto itu dengan curiga."
Dua wanita di ruangan itu menyimak dengan tegang. Athena ikut tegang.
"Ya, ada namaku sebagai dokter periksa di selembar foto itu. Aku lupa menghapusnya sebelum mencetak hasilnya."
"Bagaimana dengan namaku, Ann?" Julie langsung panik. Darinya berkerut menunggu jawaban sang dokter.
"Namamu kuhapus tentu saja. Dia terus mencari dan mencari tahu siapa wanita itu. Entah apa yang Dario katakan soal ini. Sepertinya dia merahasiakan identitasmu. Nyonya Sanio nampaknya belum menemukan jawabannya dan dia sepertinya juga belum putus asa untuk mencari tahu." Dokter Anna berkata dengan nada sedikit cemas.
Julie menarik nafas panjang. Mengapa oh mengapa?
"Jadi dia menemuimu lagi untuk menanyakannya?" Julie bertanya sekali lagi.
Dokter Anna mengangguk.
"Dan apa jawabanmu?" Julie bertanya dengan khawatir.
"Aku bilang data pasien bersifat rahasia dan aku telah disumpah. Kalaupun ia mencari daftar pasien di sistem rumah sakit, akan ada ratusan ribu nama. Lagipula namamu sudah disamarkan oleh Dario. Bisa dibilang kita melakukan tindakan ilegal dengan menyamarkan identitas. Tapi apa boleh buat. Dario dan aku tidak mau mengambil resiko yang besar."
Julie menghela nafas lega. Dario harus benar-benar menuruti janjinya untuk merahasiakan keberadaannya dan sang bayi.
"Berhati-hatilah sementara ini. Keluarlah bersama Athena saja jika bosan di dalam kamar ini. Dia aman dan tak dikenali. Dario juga terbatas saja berkunjung karena tentu ia dikenali." Dokter Anna menyarankan.
Julie mengangguk mengerti tapi wajahnya terlihat murung.
"Hei, semangatlah. Bayimu sehat dan sempurna. Tunggu sampai masa observasi selesai dan mereka bisa tumbuh normal dalam timanganmu. Jangan kabur lagi Julls atau aku akan mengutukmu. Kembalilah ke apartemen dengan aman dan hiduplah dengan berbagai." Dokter Anna menepuk pundaknya sebelum mengakhiri kunjungan.
Athena melihat sang dokter itu berlalu pergi dan menutup pintu. Athena lalu menatap sahabatnya dengan mata menyelidik.
"Julls, aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau pasti mengkhawatirkan Nyonya itu, kan? Tenanglah. Kupikir karena anak-anak sudah aman, kau harus menghadapinya. Jangan kabur. Ikuti kata Dario. Ia menginginkan yang terbaik untukmu dan anak-anak. Aku akan memusuhimu kalau kau sampai menghilang lagi," kata Antena.
Athena sangat mengkhawatirkan dan mencemaskannya. Itu karena ia sangat menyayangi sahabatnya itu.
"Hei, apa kau mengancamku?" tanya Julie merajuk.
"Ya. Aku mengancammu." Athena berkata dengan galak lalu mereka tertawa.
***
Nyonya Maria Adams duduk di hadapan dokter Sergio dengan tegang.
Suaminya sudah lumpuh dan menyusahkannya, lalu apa lagi ini? Apa yang terjadi dengan Celia. Anak itu seperti menjadi orang lain saat terbangun. Ia bahkan tak ingat siapa dirinya.
Dokter Sergio membaca laporan medis dan hasil scan pada bagian kepala Celia Adams.
"Diagnosis saya agak ambigu. Antara amnesia lakunar atau disosiatif. Selain benturan kemarin, apa pasien sebelumnya mungkin mengalamai stress atau trauma atau mungkin peristiwa besar?" tanya Dokter Sergio.
Nyonya Maria terlihat bingung. Apa anaknya itu diam-diam menyimpan stress berat karena perceraian dan mendadak jatuh miskin? Ah. Dan juga video panas itu membuatnya menjadi bulan-bulanan masa dan dibully semua orang.
"Ya, dok. Dia sempat depresi," kata Nyonya Maria menyimpulkan sendiri.
Dokter Sergio mengangguk-angguk.
"Kalau saya jelaskan istilah medisnya dan segala macam mungkin anda akan pusing mendengarnya. Tapi ya kita lihat perkembangannya dulu. Setelah saya amati ingatannya hilang secara acak. Anda bilang dia mengingat-ingat hal di masa lalu tapi juga banyak melupakannya, kan?"
Nyonya Maria mengangguk membenarkan.
"Sepertinya ini bisa saja terjadi sementara. Semoga tidak permanen. Awasi saja dan berikan obatnya secara rutin. Temui saya lagi saja ya jika ada masalah," kata sang dokter sebelum mengakhiri sesi konsultasi ini.
Nyonya Maria mengangguk lemas.
***
Sementara itu Celia yang merasa tidak sakit dan baik-baik saja mencabut infusnya begitu para perawat sudah pergi. Ia bosan dan ingin berjalan-jalan.
Kalau Nyinya Sanio sering menyebutnya dengan wanita gila, mungkin sekarang kata-kata itu telah menjadi kenyataan.
Celia Adams benar-benar seperti wanita gila. Ia berkeliaran kesana-kemari dan tersesat di lorong-lorong rumah sakit itu.
Dario yang berjalan terburu-buru sambil menengok kanan dan kiri nampak berkejaran dengan waktu untuk menemui Julie dan menengok putrinya di ruang bayi. Ia berencana untuk pulang ke rumah tapi ia ingin menemui orang-orang terkasihnya lebih dulu.
Dari tikungan tajam itu Dario hampir terpeleset karena melihat Celia Adams dengan rambut acak-acakan menghadang jalannya.
Ia terkejut sekali. Celia memandanginya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Dario berdebar dan berjalan mundur dengan ketakutan.