
Dario tak henti-hentinya seharian itu mengawasi Julie dan kedua bayinya dari balik kaca ruangan khusus itu. Ia tak diperkenankan masuk.
Shan terus mendampinginya. Ia terus menerus meminta Dario makan dan menawarkannya minum.
Telepon soal masalah pekerjaan dan kantor dari Grace dialihkan kepada Shan. Ia yang memutuskan apalah Dario perlu ke kantor atau tidak. Dario yang memintanya melakukannya. Karena di saat-saat genting seperti ini, ia mana bisa berpikir jernih.
Shan tampak sibuk mengamati layar ponselnya.
"Ada rapat internal pukul sebelas siang, Pak. Mau tak mau anda harus datang. Ini penting dan tidak bisa ditunda lagi. Grace bilang agenda ini sudah anda buat sebulan yang lalu," kata Shan dengan hati-hati.
Dario menatap kosong tapi telinganya mendengar dan otaknya tampak berpikir.
Dipijit-pijitnya keningnya dengan kenrnyitan di dahinya.
"Shan, Julie melarangku untuk menghubungi Athena. Tapi aku ingin menghubunginya. Biarlah ia tahu keadaan sahabatnya seperti apa. Dia berhak tahu." Dario berkata pelan.
Shan diam saja. Ia akan melakukan perintah apapun yang diminta Dario.
"Berjagalah di sini Shan. Aku akan ke kantor. Tapi sebelumnya aku akan menjemput Athena agar ia kesini. Kabari aku secepatnya kalau ada sesuatu yang penting," kata Dario lalu beranjak pergi.
Shan mengangguk dan memandangi punggung tuannya yang membungkuk itu dengan iba. Seumur-umur ia mengabdi pada Dario, tak pernah ia melihat pria itu selemah ini.
Shan memandangi Julie dari balik kaca itu.
Tubuh yang lemah dengan selang-selang menjuntai dan monitor berisi diagram yang terus naik dan turun merekam kondisi vitalnya.
Wanita itu amat ia hormati duku sewaktu ia masih menjadi sekretaris Dario. Wanita muda yang lincah dan pandai melakukan pekerjaanya. Ia juga sangat sopan dan ramah.
Lalu entah bagaimana jadinya nasib malang itu membawanya pada pernikahan yang rumit ini. Dia juga harus mengorbankan dirinya demi bayi yang dikandungnya yang tak lain adalah anak Dario.
***
Dario menyetir mobilnya dengan lesu. Ditujukannya arahnya pada Rumah Asuh tempat Athena mengabdi. Entah apa reaksi gadis itu kalau tahu sahabatnya sudah koma selama berhari-hari.
Dario menutup pintu mobilnya dan berjalan ke arah gerbang masuk. Dicarinya Athena di antara keriuhan anak-anak yang sedang bermain sepak bola.
Athena rupanya lebih dulu mengenali kedatangannya. Ia membawa baki berisi minuman untuk anak-anak itu.
"Dario !" serunya sambil melambaikan tangan. Ia menyerahkan baki pada temannya lalu turun dari tribun mini itu.
Dario langsung duduk di kursi di dekatnya saat Athena berlari-lari kecil menghampirinya.
"Hei, aku baru saja akan menghubungimu. Nomor Julie tidak bisa dihubungi dan aku sibuk sekali di sini karena ada turnamen anak-anak." Athena berkata cepat lalu duduk di samping Dario.
Dario diam saja. Athena terlihat ceria. Entah darimana ia akan memulai semua cerita ini.
"Hei, kenapa kau diam saja. Apa ada masalah?" tanya Athena yang kembali bertanya dengan raut wajah yang berubah menjadi cemas.
Dario menatapnya dengan serius.
"Julie koma," kata Dario langung ke poinnya. Ia tak bisa menyampaikan berita buruk dengan lebih halus lagi.
Athena hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat," jawab Dario.
Athena menangkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang dingin karena cuaca di luar. Ia menangis tanpa suara dengan pundak terguncang-guncang.
***
Athena menutup pintu mobil dan ia bergegas lari menuju ruangan yang diberitahukan Dario.
Sedangkan Dario melajukan mobilnya kembali menuju kantor. Ia harus menyelesaikan rapat itu dengan cepat lalu kembali lagi ke rumah sakit.
Athena melihat Shan dan Dokter Anna sedang berbincang.
Athena tampak kembali menangis sambil meratapi sahabatnya itu di balik kaca.
"Aku pikir Dario di sini. Kuizinkan satu orang untuk masuk dengan mensterilkan tubuh mereka dulu untuk memasuki ruangan." Dokter Anna berkata sambil melihat Athena dan Shan bergantian.
Shan mengangguk ke arah Athena. Ya, Athena lebih pantas masuk.
"Ajaklah bicara. Atau apapun yang mungkin akan senang jika ia mendengarnya. Pancing dia untuk bangun. Kuberi waktu lima belas menit setiap kali kunjungan. Athena, ikut aku untuk mengganti pakaianmu," kata dokter Anna.
***
Dan selama sepuluh menit itu Athena berusaha tersenyum walaupun Julie tak melihatnya. Diceritakannya panjang lebar betapa musim gugur akan segera berakhir dan salju akan turun.
Athena bilang, ia ingin menggendong puteri Julie sambil melihat salju dari balik jendela dan menyalakan penghangat ruangan.
Ia bilang akan merayakan kelahiran bayinya dan kepulangannya dari rumah sakit bersama anak-anak asuh.
Tapi ternyata menghibur orang lain saat dirinya sedang tak baik-baik saja adalah hal yang tak mudah.
Sepuluh menit itu berakhir dengan ia menangis tersedu-sedu dan meratap meminta Julie bangun.
Ia masih punya lima menit tapi ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya.
Saat Ia mengelap air matanya, dilihatnya tangan Julie bergerak-gerak dan layar monitor yang berisi garis-garis tak beraturan dan angka-angka yang rumit itu bergerak-gerak juga angkanya.
Jantung Athena berdetak cepat. Ditekannya tombol darurat yang tadi diberitahukan oleh dokter Anna.
Athena lalu berdiri dari duduknya. Beberapa detik kemudian, tampak tim dokter dan para perawat berlari-lari memasuki ruangan khusu itu dengan wajah tegang.
Athena menyingkir dan memandangi Julie yang tengah ditangani dokter dengan wajah cemas.
Julie, apakah ia bangun dari koma? Apa justru kondisinya semakin parah?
Anthena menitikkan air mata lagi untuk meluapkan rasa cemasnya.
...----------------...
...🌻🌻🌻...
Hallo selamat hari Minggu. Besok Senin jangan lupa VOTE.