
Dario sedang di dalam mobilnya. Shan menyetir dan Dario tampak mengamati berita yang baru terbit soal klarifikasi perceraiannya dari layar yang tersambung ke siaran televisi di mobilnya.
Telepon masuk dari dokter Anna rupanya tak terdengar karena mereka sedang fokus.
"Shan, apa Celia langsung diamankan di kantor polisi?" tanyanya.
"Ya, begitulah menurut keterangan Pak Sandro. Nyonya Sanio langsung pulang. Tadi pengawalnya melapor. Keamanan di rumah akan diketatkan lagi. Begitu juga untuk anda, Pak," ujar Shan.
"Saya? Untuk apa?" Dario tampak tak nyaman. Ia tak terbiasa dengan banyak pengawal. Shan saja dan tiga pengawal yang menyamar dengan pakaian biasa sudah cukup.
Ditolehnya ke belakang mobil yang dikendarai Shan ini. Nampak satu mobil berwarna hitam mengikuti mereka.
"Ini perintah Nyonya, Pak. Beliau khawatir soal kenyamanan anda kalau wartawan banyak mengintai. Begitulah yang dia bilang."
Dario mendesah kesal. Banyak pengawal berarti akan mempersulit ruang geraknya untuk bisaย bertemu dengan Julie.
Bagaimana ia akan menemui Julie di apartemen? Rasanya mobil khusus untuk menyamar saja tidak cukup.
"Mereka dari tim Mama? Bisakah kau alihkan perhatian mereka? Aku ingin ke apartemen Julie," kata Dario.
Shan menggeleng. Hal ini tak duduganya sebelumnya. Ternyata Nyonya Sanio merekrut banyak pengawal baru tanpa sepengetahuanya.
Walaupun ia kepala keamanan, tapi jabatannya tentu kalah dengan kuasa Nyonya Besar.
Pengawal bagaikan pisau bermata dua. Mereka bisa saja menjadi mata-mata.
Tentu bisa melatih dan mengendalikan mereka nantinya untuk melihat kepada siapa mereka sebenarnya mengabdi dan berpihak. Tapi untuk waktu yang sesingkat ini, tentu tak mudah.
"Bisakah semua pengawalku diganti dari timmu?" tanya Dario.
Shan menggeleng lagi. Ini di luar kuasanya.
"Aku tidak bisa, Pak. Rupanya Nyonya Sanio punya siasat sendiri untuk memasukkan orangnya begitu anda dulu kabur. Dia tidak ingin kejadian itu berulang lagi," kata Shan.
Di dunia pengawalan sendiri, banyak kerumitan dan dua sisi kubu. Banyak mata-mata tak kasat mata. Seperti Mark misalnya.
Mark mungkin tak tampak mencurigakan. Tapi diam-diam ia melapor pada Celia Adams. Selalu ada celah untuk membelot.
***
Dario kembali ke ruangan di kantornya. Hanya ruangan itu yang aman.
Grace sekretaris kepercayaannya dan Shan saja yang boleh di ruangan itu.
"Pak, Pak Roy menelpon," kata grace begitu Dario masuk ruangan.
Dario menghentikan langkahnya yang hendak duduk di kursi kerjanya.
Dilihatnya Grace dengan alis memgernyit. Kalau Roy menelpon Grace, berarti ada sesuatu yang penting sekali.
"Roy?" Dario bertanya untuk memastikan sekali lagi.
"Ya, dia bilang anda dan Shan sulit dihubungi," kata Grace.
Dario langsung menyambar handphone di kantong jasanya begitu mendengar ucapan Grace.
Dilihatnya layar handphonenya penuh notifikasi. Ya, Roy menelponnya berkali-kali.
Shan juga melakukan hal yang sama. Dilihatnya handphonenya. Roy juga menelponnya. Ia melewatkan semua panggilan itu karena fokus mengamankan Nyonya Sanio dan Dario dari serbuan wartawan tadi. Mereka memang tak pernah puas, padahal hasil konferensi pers sudah jelas.
Dario segera menghubungi Roy secara langsung. Ia menunggu nada sambung yang terdengar itu dengan gelisah.
"Roy. Ada apa?" serunya tanpa basa-basi saat telepon diangkat.
"Nona Julie di rumah sakit," jawab Roy.
"Rumah sakit? Dia kenapa?" tanya Dario dengan wajah tercekat.
"Hanya pingsan saja. Dokter Anna sudah menanganinya. Sekarang sudah membaik tapi dokter bilang harus dirawat inap. Anda mungkin bisa menghubungi ke nomornya sendiri, Pak," kata Roy.
Dario menutup telepon dan melihat Shan yang ikut tegang mendengar percakapan itu.
"Shan, apa aku bisa ke rumah sakit tanpa pengawalan itu? Apa mereka bisa diminta di sini saja?" tanya Dario. Ada satu mobil pengawal lagi yang diperintahkan Nyonya Sanio.
Shan menatap bossnya itu dengan penuh rasa bersalah.
Sayangnya tidak bisa. Pengawal khusus itu juga punya atasan yang melapor kepada Nyonya Sanio.
Shan tak kuasa menjawab, ia hanya menggeleng saja.
Dario mendesah kesal.
***
Di kamar rawatnya, Julie memandangi handphonenya. Ia tahu Dario pasti sedang sibuk menangani banyak hal.
Apakah ia harus menelponnya? Ia terlihat ragu. Dielusnya perutnya yang membuncit itu.
...----------------...
...๐ป๐ป๐ป...
Hallo pembaca. Selamat berakhir pekan. maafkan Author kemarin tidak terbit karena dunia nyata menyita perhatian.
Besok hari Senin. Jangan lupa VOTE karya ini kalau suka ya. Tinggalkan jejak kalian.๐ Terimaksih sudah selalu mendukung sampai sejauh ini.