
Julie duduk manis di sofa apartemennya yang nyaman.
Ia yang sedang menyaksikkan siaran langsung konferensi pers itu lewat sebuah media online hampir tersedak saat ia melihat Celia masuk ke tempat konferensi pers itu.
Julie mengelap tumpahan yogurt di bibirnya lalu menutup botol minuman itu dan meletakkannya ke meja tanpa melihatnya.
Matanya fokus melihat layar komputer itu. Celia Adams dilihatnya berpenampilan kacau dan berteriak seperti wanita gila.
***
"Aku tidak selingkuh," teriak Celia Adams dengan stress dan frustasi.
Kamera wartawan terus menyorotnya. Dario dan Nyonya Sanio tertawa sengak.
Mark menunggu dibalik pintu. Ia bertemu dengan teman-temannya sesama pengawal keluarga besar Axton itu.
Mereka heran mengapa Mark yang sedang cuti bisa sampai ke gedung itu. Mark bilang ia melihat berita dan khawatir. Ia ingin membantu mengamankan Dario.
Ia tak mau mengambil resiko dengan membela Celia atau menenangkannya dan membawa pergi.
Biar perempuan itu menuai karmanya sendiri. Kalau ia semakin lemah posisinya, Mark bisa balik memperdayanya. Begitulah setidaknya apa yang dipikirkannya.
Nyonya Sanio tentu saja tak hanya membawa pengawal pribadinya yang bisa saja sekompi itu. Ia juga memanggil polisi lokal yang berwenang.
Nyonya besar itu menjentikkan tangannya ke atas. Mereka keluar dengan seragam lengkap dan mengamankan Celia. Celia makin berteriak keras karena kedua tangannya dikunci oleh polisi bertubuh besar itu.
"Stop. Saya tidak mengerti mengapa kamu muncul di sini. Untuk membuat saya seolah-olah jahat dan kamu menderita? Saya tidak peduli Celia," kata Dario lewat microphone sambil mengacung-acungkan dokumen bukti di satu map itu.
Celia terdiam dan memandang Dario dengan tatapan mata nanar.
Wartawan kini mengalihkan kameranya ke arah Dario. Ini lebih penting daripada menyorot wanita gila yang berteriak-teriak.
Celia seperti bungkam dan melihat mantan suami dan mertuanya itu duduk di depan meja berisi puluhan microphone wartawan.
"Saya lelaki pengampun. Dia berselingkuh tak hanya sekali. Mengelak dan membela diri, lalu saya maklumi. Tapi saya punya semua buktinya. Bukti yang mungkin tak cukup kuat seperti foto yang beredar. Hanya foto mesra yang diam-diam anak buah saya ambil. Di bandara, di klub malam, di restoran, di lobby hotel, di dalam pesawat," kata Dario sambil menunjukkan bukti foto itu.
Wartawan terdiam hening. Hanya suara blitz kamera yang berebut memotret ulang gambar itu. Dario merasa di atas angin. Celia diam mematung.
"Saya punya batasan. Tidak mungkin menyelipkan alat penyedap di kamar hotel. Itu ilegal dan melanggar hukum. Video dan foto yang tersebar di internet jelas bukan ulah saya. Saya sebagai suami yang normal tentu ingin mengetahui apakah istri saya berbohong atau tidak. Nyatanya dia berbohong," kata Dario sambil melirik ke arah Celia yang berdiri memucat.
"Mereka berlibur bersama ke Macau. Saya membekukan semua akses keuangan istri saya setelah mendapati uang jutaan dollar keluar dari rekening saya untuk Ludwig Cello. Saya selama ini terlalu percaya. Saya tidak ingin mengumbar ini semua tapi karena rumor dan skandal telah terlanjur tersebar, saya hanya mengkonfirmasi saja. Bukan bermaksud menambah nyala api yang telah tersulut," kata Dario.
Nyonya Sanio melirik mantan menantunya yang sedang dipegangi polisi itu dengan senyum menyeriangi. Gadis manis yang sewaktu kecil ia sayangi itu kini tampak tak bernilai lagi di matanya. Ia sudah tak mempedulikannya.
"Saya menceraikannya diam-diam dan tak ingin membahas masalahnya. Tapi karena ini terungkap sendiri dan nama Axton ikut terbawa, tentu saja saya tak mau diam saja. Ini bukti tiket pesawat dan tagihan-tagihan yang dibayarkan atas nama Ludwig Cello dengan uang saya," kata Dario sambil menunjukkan pada wartawan.
Blitz kamera dan bunyi klik dimana-mana kembali menggema di seluruh ruangan.
Ia menunggu Mamanya beranjak dari duduk dan pengawal segera mengamankan mereka meninggalkan ruangan itu.
Sekarang kamera wartawan mengarah ke arah Celia yang wajahnya memerah menahan marah.
Tentu saja ia terbungkam. Tak disangkanya Dario akan membuka seluruh aibnya. Sungguh ia terlalu berprasangka baik pada lelaki itu. Ternyata Dario sudah benar-benar membuangnya dan tak mengampuninya lagi.
Celia berpaling mencari-cari sosok Mark. Ia berharap pria itu akan menolongnya. Tapi Mark tak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
Sial. Ternyata Mark juga tak secinta itu padanya. Celia merasa nelangsa dan tak berdaya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Ia dengan bodohnya masuk ke dalam perangkap dan tak mungkin bisa lolos lagi dengan polisi yang mengamankannya dan puluhan wartawan mengarahkan moncong microphone dan lensa kamera padanya.
Suara wartawan yang bertanya seperti dengungan di kepalanya. Ia ingin membenturkan kepalanya saja ke tembok rasanya.
Polisi tampak berbicara padanya dengan nada keras karena suaranya tentu saja kalah oleh wartawan yang beringas itu.
"Nona akan kami bawa ke kantor polisi untuk mengamankan anda dan mencari keterangan lebih lanjut. Ludwig Cello juga akan kami panggil."
Celia tak ingat apa-apa lagi. Pandangan matanya gelap dan ia pingsan.
***
Julie menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Semua ini sungguh membuat bulu kuduknya berdiri.
Tak bisa ia bayangkan kalau ia yang berada di posisi Celia.
Apakah seluruh negeri juga akan menghujatnya karena ia menjadi selingkuhan Dario dan hamil anaknya?
Perutnya tiba-tiba mulas dan badannya berkeringat dingin dengan aneh. Jantungnya berdebar hebat.
Bagaimana jika rahasianya terbongkar sama seperti Celia?
🌻🌻🌻
Tinggalkan jejak guys.
Jangan lupa like, favorit, vote dan komentar untuk kritik saran.
Di eps berikutnya akan membahas KELAHIRAN BAYI.
Mohon maaf karena Author tak menyangka kerangka cerita yang dibuat akan berkembang sejauh ini. Eps 60 Bayinya baru mau muncul. 🙏🙏🙏
Jangan timpukin Author pakai telur ya.🥚🥚🥚