Mama'S Twin

Mama'S Twin
Diskusi Menegangkan



Pagi-pagi benar Dario keluar dari apartemen Xavier. Ia berusaha mencari celah.


Mamanya tak semudah itu melepaskannya. Pasti dia punya rencana untuk mengawasinya. Dario tak ingin lengah lagi.


Ada seorang petugas yang sedang menyapu. Dario mengawasinya dengan aneh.


"Hallo, Pak," sapa Dario.


Petugas kebersihan itu mengangguk. Ia nampak gugup. Dario merasa ada yang tak beres.


"Anda baru?" tanya Dario.


"Tidak Tuan. Saya sudah tiga tahun bekerja di tempat ini."


Dario mengamati gerak-gerik lelaki itu. Ia yakin Mama membayarnya untuk mata-mata. Terlalu kentara dan perasaanya sudah peka. Shan yang mengasahnya dan ia belajar banyak.


"Berapa Nyonya Sanio membayarmu?" tanya Dario sambil menatapnya dengan wajah penasaran.


Pria itu terus menunduk.


"Hei, Pak. Sudah mengaku saja. Tidak ada orang yang membersihkan apartemen sepagi ini. Aku tahu dan tidak bodoh. Apartemen akan dibersihkan tengah malam oleh petugas, jadi paginya bersih. Mengaku atau kucari namamu. Aku punya nomor atasanmu. Aku punya saham di gedung ini." Dario berbohong. Ia hanya menakut-nakuti pria itu.


"Ma...maafkan aku, Pak. Aku hanya disuruh." Pria itu berkata gugup sambil memegangi alat pelnya.


Dario mendengus pelan. Sudah ia duga.


"Lihatlah aku, Pak. Aku orang baik. Aku akan memberimu uang dua kali lipat dari yang Nyonya Sanio berikan. Jadilah orangku. Laporkan sesuai apa yang kukatakan. Anda mau?" tanya Dario.


Ia tahu mamanya hanya mengincar orang yang lemah dan butuh uang saja. Biarkan pria tua ini mendapatkan dua sumber uang sekaligus.


Pria tua petugas kebersihan itu mengangguk dengan takut.


"Aku butuh namamu, Pak? Boleh kulihat? Nanti orangku akan mencari dan menjelaskan."


Pria tua itu kembali mengangguk.


Dario meraih ponselnya dan memotret ID card di baju seragam pria itu. Diam-diam ia mengambil gambar wajahnya juga dan mengirimkannya pada Shan. Biar dia saja yang mengurusnya.


Dario menepuk pundak pria tua itu sebelum berlalu.


"Selamat bekerja, Pak. Ingat! Pegang janjimu dan aku akan mengawasinya diam-diam. Paham?" tanya Dario.


"Ya, Pak. Aku paham," sahutnya.


Dan Dario pun segera berjalan pergi menuju lift. Ia bersiap ke rumah sakit sebelum ke kantor dan mengurus soal Dante Bank.


***


"Bayinya baik, besok kita akan pulang." Julie menunjukkan hasil pemeriksaan dokter Anna kepada Dario.


Dario mengangguk. Pikirannya agak terganggu sebenarnya oleh pesan dari William Topper itu.


"Apa yang mengganggu pikiranmu? Apa ini soal Celia?" tanya Julie dengan cemas.


Dario menggeleng. Ia ragu. Apa ia perlu bercerita soal Dante Bank? Julie sebenarnya tahu karena ia ikut ke Valex waktu itu. Julie bahkan berhasil memecahkan teka-teki dan ia jadi berhasil membuka brankas itu karena kode darinya.


"Julie, aku membuka brankas di Dante Bank atas saranmu. Kau ingat soal itu? Saat kau kabur di rumah lamaku di Valex?" Dario berkata dengan pelan walau hanya ada mereka berdua saja di ruangan itu.


Julie mengangguk.


"Sebenarnya ada kunci khusus untuk membukanya. Tapi aku tak punya. Kita juga tak tahu soal itu, kan? Dan sekarang pemilik kunci itu sepertinya ingin membuka brankas yang telah kuambil dan kuamankan itu." Dario berkata dengan nada pelan tapi dengan tekanan yang tajam si setiap kalimatnya.


Matanya membulat. Julie merasa tegang. Ia ingat kejadian hari itu. Hari dimana ia dan Athena hampir saja ketahuan karena telah membuntuti dan menguping Frans Adams yang sedang berdiskusi dengan Travis Topper di cafetaria rumah sakit.


Dario merasa bingung. Julie menelan ludahnya dengan sulit. Awalnya ia ingin memberi tahu Dario soal ini tapi ia sibuk memikirkan janin yang dikandungnya. Ia jadi terlupa.


"Pemegang kunci itu adalah Frans Adams." Julie berkata dengan yakin.


Dario menatap istrinya itu dengan sorot mata penuh tanya. Ia butuh penjelasan lebih lagi.


"Aku berpapasan dengan Athena di rumah sakit dan Tuan Frans Adams menyebut-nyebut nama Dante Bank. Aku penasaran dan merasa kalau aku harus tahu informasi ini untuk kuberitahukan padamu."


Dario makin menatapnya dengan perasaan bergejolak di dalam dadanya.


"Dia memegang kunci dan ditunjukanya pada sesorang laki-laki tua yang anaknya bekerja di Dante Bank . Aku lupa siapa namanya tapi seseorang dengan nama belakang Topper."


Dario makin tercekat. Jadi ini maksud William Topper. Seseorang yang memegang kunci memberitahukan pada ayahnya dan minta bantuannya.


"Julls, ini serius?" Dario masih seperti tak percaya saja.


Julie mengangguk.


"Dia bilang dia mencurinya dari Nyonya Sanio bertahun-tahun yang lalu." Julie menambahkan.


Dario makin terkejut.


"Jadi awalnya mama yang menyimpan kunci itu? Tapi isinya masih utuh saat ku ambil. Lalu apa yang harus kulakukan. Petugas bank itu menghubungiku dan minta bayaran kalau aku ingin mengurusnya. Menurutmu aku harus bagaimana Julls?"


"Bagaimana apanya?' Julie tampak tak mengerti.


"William Topper menawariku untuk mengganti isi brankasnya. Atau aku menjebaknya saja dan menemui Frans Adams mata dengan mata?"


Julie menggeleng mendengar ide yang terakhir. Ia pernah melihat Frans Adams dan pria itu penuh tipu muslihat serta mengerikan. Jangan berurusan langsung dengan orang yang menghalalkan segala cara unyuk merebut yang bukan miliknya.


"Jangan mudah percaya pada siapapun, Dario. Termasuk pada William Topper. Rekam diam-diam percakapan kalian. Atau bukti kalau dia menghubungimu. Kalau dia macam-macam kamu bisa melaporkannya ke bank dengan bukti itu. Tindakan yang dia tawarkan kan melanggar kode etik? Ya kan?" Julie berpendapat.


Dario memgangguk-angguk. Ya, Julie benar. Jangan percayai siapapun.


"Aku akan mengganti isi brankasnya melihat reaksinya. Tapi dengan apa yang harus kuganti?" Dario menggumam.


Julie tampak membantu berpikir saat pintu kamarnya diketuk.


Tok...Tok...Tok...


Dario terperanjat. Siapa yang mengetuk pintu sepagi ini? Ia tak melihat siapapun saat menyelinap masuk tadi. Sudah ia pastikan semua aman.


Semua penjaga dan pengawal yang mengawal tentu saja tak bisa berkeliaran di rumah sakit sepagi ini.


"Siapa?" tanya Julie.


Tak ada jawaban.


Ia dan Dario saling berpandangan.


...----------------...


...🎁🎁🎁...


Yok yang mau VOTE masih bisa. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.🔥🔥🔥