Mama'S Twin

Mama'S Twin
Koma



Dario memandangi dua bayi mungil dari balik kaca transparan ruangan NICU.


Bayi kecil itu anaknya. Hatinya seperti menghangat tiap melihat meraka.


Tapi anak-anak itu harus terus berjuang. Memang anak kembar adalah anak spesial. Mereka harus berbagi rahim dan kasih sayang ibu sejak dalam kandungan.


Dan saat mereka sudah lahir ke dunia,  sentuhan kasih sayang orangtuanyapun belum boleh meraka rasakan.


Mereka rentan dan harus mendapat perawatan khusus di suhu yang telah diatur oleh pihak dokter. Agar nyaman dan aman seperti di dalam perut ibu. Banyak selang terhubung ke tubuh kecil mereka. Dokter Anna bilang perlu beberapa minggu sampai mereka bisa seperti bayi normal yang bisa disentuh dan ditimang penuh kasih sayang.


Dilihatnya dua pasang telapak kaki kecil yang sungguh mungil itu. Mungkin hanya seukuran tiga jari orang dewasa.


Dario yakin, meraka akan tumbuh secara normal dan baik-baik saja.


Lalu bagimana dengan Julie-nya?


Julie belum bisa ia temui. Dokter Anna bilang kalau sudah dipindahkan ke ruang biasa, Dario boleh masuk tapi harus berpakaian steril.


Julie masih koma. Sudah dua hari ini ia terbaring tak berdaya. Dan Dario tak bisa menelan makanan apapun atau memejamkan mata sekejappun saja. Bagaiman ia bisa hidup semerana ini?


Dokter Anna menepuk punggungnya. Dario yang berada di balik kaca dan memandangi istrinya yang tengah terbaring koma itu langsung menoleh ke belakang.


"Ann," panggilnya lemah.


"Makanlah. Ayo minum kopi dan mengobrol," katanya lalu melangkah pergi begitu saja.


Dario mengikutinya ke mesin kopi. Satu cup ia terima dari dokter Anna dengan tak berselera.


"Minumlah walau sedikit. Makanlah juga walau satu sendok. Jangan sakit. Kamu nanti akan tambah merepotkanku," katanya sambil mencoba bercanda.


Dario diam saja. Mereka kembali duduk di kursi kayu di bawah pohon di depan cafetaria rumah sakit.


"Hei, tenanglah. Julie akan bangun. Dia hanya lelah. Dia tidak mungkin meninggalkan anak-anaknya sendirian di dunia ini," katanya menenagkan.


"Bagaimana kau bisa yakin, Ann? Apakah kondisi vitalnya dan yang lainnya bagus?" Dario bertanya dengan penuh harap.


Sudah dua hari. Ia bisa gila kalau harus menunggu dengan cemas lebih lama lagi.


"Ya. Cukup bagus. Tapi aku yakin Julie akan bangun. Dario, kamu tidak bisa mengurus bayi itu."


"Kenapa? Meraka anakku," kata Dario tak mengerti.


"Ya, tapi lihat ibumu. Aku pikir Nyonya Sanio tak akan menyingkirkannya kalau tau? " Anna Tomya tertawa kecil. Ia tahu benar seperti apa Nyonya itu menindas dan mengintimidasi orang yang tidak berdaya seperti Julie dan dirinya.


Dario terdiam. Ya, ibunya tidak boleh tahu dulu. Inilah yang ditakutkan Julie selama ini.


"Bwrapa persen kemungkinan ia tidak bangun, Ann?" tanya Dario.


"Hei, aku sudah menyaksikkan ratusan kematian ibu atau bayi di depan mataku. Bukannya aku tak maksimal menjalankan tugas. Tapi karena sudah garis takdirnya. Aku berdoa untuk Julie dan yakin. Berpikirlah positif. Kita adalah apa yang kita pikirkan," tambahnya lagi.


Dan angin musim gugur itu membuat mereka merasa tak terlalu nyaman berada di luar terlalu lama.


Menurut perkiraan cuaca, beberapa minggu lagi salju pertama akan turun.


***


Sementara itu Nyonya Sanio termenung di ruang kerja mendiang suaminya itu.


Dilihatnya beberapa barang malah tergeletak di meja. Dario pasti habis membongkarnya. Apa yang anak itu cari?


Sebenarnya kedatangannya kemari juga karena penasaran soal suatu hal. Selain juga karena menghindar dari wartawan tentunya.


Beberapa tahun setalah kematian suaminya dan ia pindah, ia menemukan sebuah kunci emas.


Kunci itu bentuknya aneh dan unik. Dipikirnya hanya logam emas biasa yang disepuh agar menyerupai bentuk kunci. Tapi kunci itu hilang entah kemana. Ia sudah mencari ke seluruh penjuru rumahnya di Suresh dan bahkan mendesak semua pelayan untuk mengaku.


Ia menduga kunci itu diambil pelayan karena memang logam emas asli mahal harganya untuk dijual. Tapi tak ada yang mengaku walau ia sudah mendesak dan bahkan mengancam mereka semua.


Desakan dan interogasi kepada puluhan pelayan rumah itu hanya menghasilkan dua pelayan wanita yang menangis tersedu-sedu memohon ampun karena mereka sebagai juru cuci sering mengambil uang tunai yang terkadang tertinggal di saku jas atau kemeja Dario.


Anak itu memang masih sering menggunakan transaksi tunai. Pantas saja.


Nyonya Sanio tentu saja mengampuni. Beberapa lembar dollar tak ada artinya baginya atau Dario. Ia hanya butuh kunci itu.


Yang tak ia tahu adalah kunci itu diambil Frans Adams yang lancang dan licik itu saat pesta di rumahnya dan saat keadaan aman digeledahnya ruang kerja Sang Nyonya.


Diingatnya kembali bentuk kunci itu. Pipih dan ujungnya agak runcing. Tulisan kecil berukiran nama Dante Bank itu rupanya tak terbaca olehnya yang kurang teliti.


Sekarang Sang Nyonya tampak mengamati kotak-kotak kayu di ruangan itu. Apakah ada salah satu yang terkunci dan menyimpan sesuatu rahasia?


Atau mungkin Dario lebih dulu mengetahuinya?


Tiba-tiba ia merasa takut. Bagaimana kalau Dario mengetahui rahasia terkelamnya?


Bulu kuduk di tangannya merinding.


...----------------...


......🌻🌻🌻......


Wah sudah Jum'at. Selamat menyambut akhir pekan. Tinggalkan jejak ya. Author akan upload sesering mungkin. Yuhuuu😍