
Hai readers. Jangan lupa tinggalkan jejekanya dan like serta komen ya.
Tayang lebih pagi untuk menemani hari liburmu. Jadi bab selanjutnya tayang sore/malam ya?
Bab ini akan sedikit bikin emosi dan geregetan.🙏
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Celia tertunduk lesu di kamar lamanya yang sempit dan pengap.
Di pinggiran kota Suresh yang hingar-bingar, rumah kecil itu tampak menyedihkan.
Itu adalah rumah lama keluarga Celia sebelum keluarganya sukses.
Rumah dan aset sudah ditarik oleh Nyonya Sanio. Mereka jatuh miskin. Uang tak seberapa bagi keluarga itu tentu saja cukup untuk hidup bertahun-tahun bagi orang biasa. Tapi tidak untuk keluarga Adams yang terbiasa hidup bermewah-mewahan.
Semenjak perusahaan lama meraka itu sukses, kehidupan mewah dan serba enak itu membuat mereka lupa dengan hidup sederhana.
Setelah kejatuhan perusahaan itu pun mereka masih bisa tetap bergaya mewah karena uang Dario.
Sekarang mereka kembali ke rumah lama dan hanya ada satu asisten yang membantu Papanya yang lumpuh.
Ia memutuskan untuk keluar dan duduk di halaman rumahnya yang banyak pohon itu.
Ia melamunkan nasib buruknya kini. Ia bukan lagi Nyonya Besar Axton Group yang disegani.
Sekarang Celia Adams hanyalah anak dari mantan korup dan tersangka penggelapan uang.
Kaum-kaum sosialita juga sudah tak sudi mendekat padanya.
Nyonya Sanio yang kejam itu hanya memberikan baju-bajunya saja. Tas mahal, sepatu mahal, jam tangan dan perhiasan itu bisa laku jutaan dollar kalau ia jual. Cukup untuk hidup nyaman bertahun-tahun. Tapi Nyonya Sanio tentu tak bodoh. Ia menendang Celia keluar dari rumah itu dengan handuk hotel yang lusuh saja. Bahkan kunci mobilnya juga diminta.
Tiba-tiba suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
"Mark?" Celia memandang sosok itu dengan heran. Untuk apa Mark datang?
Mark adalah salah satu tangan kanan dan orang kepercayaannya sewaktu ia masih menjadi Nyonya Axton.
Mark semakin mendekat. Ia mengangguk hormat pada Celia.
"Mark, siapa yang menyuruhmu ke sini? Nyonya Sanio?" tanya Celia penasaran.
"Saya sendiri, Nyonya. Saya sudah keluar dari Axton," kata Mark.
"Duduk, Mark," kata Celia sambil menujuk kursi kosong di sebelahnya.
"Untuk apa kau datang, Mark?" tanya Celia penasaran.
"Saya ingin mengabdi pada Nyonya saja mulai sekarang," kata Mark dengan serius.
Celia hanya tertawa kecil.
"Mark, saya diusir dan jatuh miskin. Apalagi yang kamu harapkan dari saya. Saya tidak bisa mempekerjakan kamu karena tak ada uang," kata Celia dengan tawa sedihnya.
"Sudahlah, Mark. Saya bukan nyonya kamu lagi," kata Celia.
"Saya bahkan melakukan tugas-tugas kotor yang telah anda perintahkan. Timos Gerrard saya lenyapkan di danau tanpa jejak sekalipun. Saya bisa melakukan apapun untuk anda," kata Mark serius.
"Apa alasan kamu, Mark? Nyonya Sanio atau Dario yang menyuruhmu? Kamu hanya ingin memata-mataiku, kan? Atau kamu disuruh mengingkirkanku diam-diam seperti kau melenyapkan Timos?" tanya Celia penuh curiga.
"Nyonya, saya ingin mengabdi karena balas budi. Anda telah menolong saya dan ibu saya beberapa tahun yang lalu." Mark bicara sungguh-sungguh.
"Soal apa ini?" tanya Celia tak mengerti.
"Anda memberi saya segepok uang untuk ibu saya operasi. Beliau hidup dengan sehat setelahnya sampai beberapa bulan lalu meninggal. Saya tak akan pernah bisa membalasnya, Nyonya. Saya ingin mengabdi," kata Mark.
Celia tampak berpikir. Benarkah ia melakukan hal itu? Apa ia melakukan hal itu sewaktu mabuk? Sebenarnya ia tak cukup bermurah hati.
Celia lalu melihat ke arah Mark lagi. Ia mengamati pria itu diam-diam.
Mark masih muda. Mungkin seusia Dario. Badannya tegap dan gagah.
Tentu saja semua pengawal Axton harus orang-orang yang terpilih.
Mark cukup tampak untuk dijadikan kekasih. Celia membatin dalam hati sambil tersenyum.
"Mark, salah satu caramu berguna untukku adalah dengan tetap di Axton. Mengabdilah pada Nyonya Besar itu atau Dario. Informasikan apa saja yang berguna untukku," kata Celia.
"Tapi, Nyonya. Saya ingin bersama anda. Saya menyukai Anda sejak lama," kata Mark bersikeras.
Celia hanya tertawa saja. Ia melihat Mark dengan tatapan tak percaya.
"Apa yang kau lihat dari saya, Mark? Kamu bahkan lihat sendiri kalau saya jahat dan licik. Saya juga tukang selingkuh." Celia tampak tak mengerti.
Mark hanya menatap pepohonan itu dengan wajah sendu. Celia mengamatinya dari samping. Mark yang selama ini pendiam ternyata punya garis ketampanan yang lumayan juga.
"Saya junior anda sewaktu SMA. Saya sangat kagum dengan Celia Adams yang cantik dan populer. Saya mengidolakan anda sejak lama." Mark berkata agak pelan. Dirasakannya wajahnya agak memerah menahan malu.
Celia tersenyum lalu berdiri.
Celia bagai wanita penggoda memeluk Mark dari belakang. Ia membisikkan kata-kata manis dengan nada yang lembut di telinga Mark.
"Mark, saya mungkin dulu tak setia. Tapi saya sudah berubah. Setialah pada saya. Bergabunglah kembali ke Axton. Lebih bagus lagi kalau kamu punya posisi bagus," bisik Celia.
Mark tampak memerah wajahnya. Mana pernah ia bayangkan Celia akan memperlakukannya seperti ini. Hatinya berdesir.
"Mark, pulangkan kesini diam-diam. Bawalah kabar yang baik yang membuat saya senang. Saya akan perlakukan kamu layaknya seorang kekasih," bisik Celia lagi dengan nada membujuk yang manis dan menggoda.
Mark seperti kerbau dicocok hidungnya. Tentu saja ia langsung menuruti kata-kata Celia tanpa pikir panjang.
Celia tersenyum penuh kelicikan. Ya, ia tak berkuasa lagi karena tak punya uang banyak lagi.
Tapi kini ia punya lelaki setia yang memujanya dan takluk kepadanya dalam sekali sentuhan.
Mark adalah harapannya kini untuk membalas dendam pelan-pelan.