Mama'S Twin

Mama'S Twin
Sadar



Shan dengan cepat melihat ke arah ruangan yang ramai oleh dokter itu. Dari balik kaca ia melihat Athena menyingkir keluar sementara dokter dan perawat menangani Julie.


Shan dengan sigap menelpon Dario. Athena memandanginya dengan tatapan wajah cemas.


***


"Ya, Shan?" jawab Dario sambil mengemasi berkas-berkas. Rapat ini diakhirinya dengan cepat dan dia bilang hal lainnya akan dikirim via surel.


Grace walaupun heran tapi mengangguk saja. Ini semua pasti karena keadaan Nona Julie. Ia harus pura-pura tidak tahu. Ia telah disumpah.


Shan mengatakan kondisi Julie. Dario menerima telepon itu dengan sekali lompatan keluar. Ia turun menuju lift dengan gusar.


Grace melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan bossnya itu. Ia rapikan semuanya dan ia siapkan pekerjaan yang menanti pria itu esoknya.


Dario menunggu lift terbuka dengan tidak sabar. Ia dengan cepat masuk begitu pintu lift terbuka.


Ia lari ke tempat parkir dan mengambil mobilnya. Dikendarainya mobil itu menuju rumah sakit dengan perasaan tak menentu.


Sesampai di rumah sakit, ia memarkirkan mobilnya asal saja lalu berlari menuju ruangan Julie dirawat.


Nafasnya turun naik saat dilihatnya Athena menangis sambil melambaikan tangan ke dalam.


"Dia bangun, Pak," kata Shan sambil tersenyum.


Dario langsung melihat dari balik kaca itu. Beberapa selang dan peralatan di tubuh Julie dicabut.


Dari dalam Julie, melihat ke arah mereka dengan tubuh masih terbaring sambil melambaikan tangan juga. Selang oksigen masih terhubung ke hidungnya.


Dokter Anna lalu keluar. Dari wajahnya terlihat kalau ia tentu saja juga merasa teramat sangat lega.


Dario dan Athena memandanginya penuh tanya dan menuntut penjelasan.


"Ya, dia bangun. Tunggu sampai kondisi kembali normal dan dia bisa kalian tengok. Sekarang tinggal memulihkan dirinya." Dokter Anna menjelaskan sambil tersenyum.


"Terimaksih, Ann." Dario membalasnya dengan mulut bergetar menahan haru.


Dokter Anna menepuk pundaknya dan berlalu pergi ditemani salah satu perawatnya


***


Semetara itu di Valex, Nyonya Sanio tengah menggeledah tuang kerja suaminya sebelum ia memutuskan untuk kembali ke Suresh.


Ia merasa putus asa. Tak ada jejak apapun yang ditemukannya. Mungkin Dario sudah menemukannya lebih dulu. Begitu pikirnya.


Tapi ada satu hal aneh yang ditemukannya. Sebuah struk pembayaran dari sebuah minarket ditemukannya terjatuh di ruangan itu. Lokasi minimarket itu di kota antara Valex dan Suresh.


Yang  lebih membuatnya penasaran adalah siapa yang membelinya. Ada sekotak susu hamil dan beberapa minuman dan makanan biasa. Untuk apa dan untuk siapa susu itu dibeli? Apa istri Shan benar-benar kemari? Tapi untuk apa?


Ucapan Bibi Joan soal istri Dario membuatnya bertanya-tanya. Siapa gadis itu? Bibi Joan adalah orang yang jujur. Iya yakin mereka menyembunyikan kebohongan. Dario pasti mengancam mereka.


Hasil USG yang ditinggalkan Dario di saku jasnya itu kini menjadi diragukannya. Shan mengaku kalau bener itu punya istrinya. Tapi bisa saja mereka berbohong, kan?


Seandainya Dario punya simpanan dan wanita itu hamil, apa mau dikata.


Ia akan mengambil bayinya dan membesarkannya sebagi pewaris Axton. Lalu bagaimana dengan sang wanita simpanan? Akan ia tendang keluar satu wanita itu.


Perceraian Dario dengan Celia Adams saja baru diumumkan. Kalau gadis simpanan sudah hamil, jelas ia selingkuh dan merebut suami orang.


Wanita semacam itu amat dibenci dan dikutuknya seumur hidup.


Apa bedanya simpanan Dario dengan Casaandra? Sama saja. Merebut suami orang dan hamil anaknya adalah perbuatan yang tak akan pernah ia maafkan.


Nyonya Sanio memandangi ayunan tempat dulu Dario bermain. Ya, anak kecil tak tahu apa-apa. Buktinya ia tak pernah sedikitpun membenci Dario. Ia menganggpnya putra kandungnya sendiri. Ia bertekat, kalau Dario punya anak dengan simpanannya, akan ia ambil anak itu.


Ia mulai menyusun siasat untuk menyelidiki sendiri. Ia penasaran.


Ditelnponya nomor telpeon HRD di kantor Axton itu. Ia orang yamg tepat yang bisa ia tanyai.


"Ya, Nyonya," jawab Pak Edo dari seberang telepon dengan suara cemas. Siapa yang tak cemas ditelpon Nyonya Besar tiba-tiba.


"Aku ingin alamat rumah Shan? Kau tahu Shan kan? Pengawal pribadi Dario. Tentu namanya dan alamat lengkapnya ada di sistem. Segera kirimkan padaku," kata Nyonya Sanio dengan suara tegasnya.


Pak Edo rupanya memberikan alamat itu dengan cepat. Ia segera membuka data sistem informasi karyawan.


"Sudah dicatat, Nyonya? Nanti akan saya kirim via teks lagi."


"Baiklah dan jangan bilang ini pada siapapun. Kau akan berurusan denganku kalau smapai Dario atau Shan tahu. Mengerti?"


Pak Edo mengiyakan lalu telepon ditutup. Sekarang Nyonya Sanio sudah memegang alamat rumah Shan. Saatnya ia bertanya menyelidik pada istri Shan. Biarkan ia mengaku apa yang ia tahu.


Nyonya Sanio tersenyum licik. Kali ini ia harus cerdas dan tak kalah pandai dengan Dario.


Kalau anak itu bisa membohonginya diam-diam, ia tentu saja juga bisa membuat tabir dan rahasia ini terungkap dengan tangannya sendiri.


Akan ia temukan wanita yang diduga simpanan Dario itu. Akan dia buat wanita itu mengakuinya.


...----------------...


...🌻🌻🌻...


...Selamat hari Senin jangan lupa VOTE ya dan tinggalkan jejak....