Mama'S Twin

Mama'S Twin
Menjemput Bayi



William Topper membaca isi kertas itu. Sebuah alamat!


"Kalian belum membuat janji, kan?" tanya Dario pada William. Yang ia maksud adalah janji dengan Frans Adams untuk bertemu dan merundingkan apa keinginannya.


William menggeleng.


"Buat janjinya di tempat yang sudah kutulis di situ. Semua sudah kuatur. Aku ingin orangku atau mungkin aku sendiri datang dan menguping. Aku ingin mendengar sendiri apa yang ia mau. Kulik terus sampai aku puas dengan jawabannya. Kamu mengerti?" Dario berkata dengan nada serius.


Wiliam mengangguk.


"Ingat! Jangan macam-macam. Orangku dimana-mana. Aku akan diawasi dan terima saja akibatnya jika kau berani macam-macam." Dario menekankan lagi kata-katanya.


Ia lalu beranjak pergi dan meninggalkan William yang nampak bingung karena tiba-tiba tempat itu kembali ramai. Sungguh ia bingung.


William membaca kertas itu sekali lagi dan menyimpannya di dalam saku celananya.


Ia mengumpat dalam hati. Sialan! Ia yang berniat mendapatkan uang malah terjebak.


William masuk ke dalam mobilnya. Ia terus berpikir. Dia terjebak di dalam masalah ini. Tapi rekeningnya menggemuk seiring dengan uang Dario yang ditransfer padanya.


Entah apa iai brankas itu. Semua datanya  dihancurkan setelah brankas dibuka oleh pemilik atau pewaris.


Kalau begitu mengapa teman papanya itu bersikeras untuk membuka?


William tak mau ambil pusing. Mengikuti kata-kata Dario akan membuatnya aman dan rekeningnya menggemuk. Jadi yasudah, ikuti saja cara mainnya.


***


Roy menjemput Julie dan bayi-bayi dari rumah sakit. Hari ini mereka akan pulang.


Dario membeli mobil baru yang luas dan besar. Lengkap dengan car seat untuk si kembar.


Roy jadi ingat, dulu ia yang mengantar Julie sebelum bayi itu lahir.


Dario menunggu di depan rumah sakit untuk bertukar mobil. Mereka harus tetap waspada. Selain karena Nyonya Sanio, wartawan juga tak kalah ganasnya. Ia duda yang sedang digemari gadis-gadis di seantero negeri. Berita sedikit miring tentang dirinya akan menerusak reputasi.


Julie melihat Dario masuk ke mobil dalam sekelabat dan duduk. Roy langsung menginjak gas lagi. Di belakang sana, mobil pengawal tampak mengiring perjalanan mereka diam-diam.


Dario memandangi bayi-bayi menggemaskan itu. Julie tersenyum melihat tingkah lelaki dewasa itu. Seperti kontras dengan penampilan maskulinnya. Ia melihat bayi seperti melihat mainan berharga yang bahkan ia takut untuk menyentuhnya.


"Aku pikir Athena akan ikut?" Dario menggumam agak pelan. Ia jadi serba hati-hati karena ada bayi padahal tak akan menganggu apa-apa.


"Athena sedang menemani anak-anak untuk vaksin influenza. Sebentar lagi memasuki musim dingin. Kubilang datang saja kalau ingin dan sempat. Anak-anaknya banyak yang harus diurus. Aku tak mau mengganggunya," kata Julie.


Dario mengangguk-angguk. Ia menyentuh tangan mungil bayi itu dengan jari telunjuknya. Seperti mainan yang ia jaga benar-benar karena baru dan tak takut rusak.


"Baiklah. Aku akan menghafal bayi ini. Yang ada tahi kalau kecil di atas bibir namanya Bertha. Yang satunya Brenda." Dario berkata dengan sangat yakin.


Dario berkata takut-takut sambil sedikit menyeringgai. "Oh, maaf Julls. Aku akan mengingatnya."


Dario lalu mengambil handphonenya dan ingin memotret bayi-bayi itu. Julie langsung menampik tangan Dario.


"Dario, please. Aku tak ingin kau teledor dan ketahuan lagi. Ingat foto ultrasonografi yang sampai sekarang berujung panjang karena sebuah kelalaian. Please, kamu bisa bertemu bayi ini setiap hari. Aku takkan pernah melarang," kata Julie menyakinkan.


"Ah, maaf. Sepertinya hari ini aku terlalu bersemangat dan melupakan hal-hal penting," katanya dengan gugup.


Jadi begini ya rasanya takut dnegan istri sendiri? Dario tapi tersenyum-senyum saja. Respon Julie jadi jauh lebih manis padanya.


Ia tak takut istri seperti saat ia takut pada Celia. Ia takut Celia karena menjaga perasaan mamanya.


Sekarang Dario takut pada Julie karena perasaanya sendiri. Karena ia takut kehilangan.


***


Shan sedang dalam perjalanan pulang mengantar istrinya dari dokter kandungan.


"Apakah istri bossnya sudah melahirkan?" tanya Vanesha.


"Ya, bayinya kembar. Mereka selamat setelah berjuang cukup panjang. Bayinya harus seminggu lebih di ruangan khusus. Nona Julie juga harus koma berhari-hari."


"Ah, syukurlah. Aku takut dia kenapa-napa," kata Vanesha sambil mengelus perutnya yang membuncit.


"Apa maksudmu?" Shan betanya menyelidik dan melirik arah istrinya.


"Ah, bukan apa-apa." Vanesha menjawab dengan gugup.


"Hei, Aku tahu kau bohong, sayang. Katakanlah," sahut Shan sambil menyetir.


Saat mobil itu memasuki garasi rumah mereka, Vanesha yang mulanya ragu itu kini tampak yakin.


"Sebenarnya ada yang datang ke sini. Aku begitu takut dan memintamu untuk mengantarmu ke Dallas aja kan?" Vanesha memandang ke arah istrinya.


Shan menggenggam tangan istrinya. Ia tahu Vanesha adalah tioe orang yang


penakut dan mudah panik.


"Seorang Nyonya yang mengaku sebagai ibu Pak Dario datang ke rumah. Ia menanyakan soal wanita hamil dan mendesakku. Juga soal Valex. Aku tak ingin tahu soal pekerjaanmu karena itu membuatku cemas. Tapi aku ikut cemas memikirkan wanita hamil itu. Dia tak apa-apa?" Vanesha memandang suaminya dengan wajah cemas.


Shan memucat.


Keberadaan Nona Julie sudah terendus. Pak Dario harus tahu. Ia harus ekstra waspada.