Mama'S Twin

Mama'S Twin
Rencana Kabur



Julie membaca dokumen rahasia itu dengan wajah amat serius. Jantungnya berdegup cepat.


"Dario," panggil Julie.


"Ya?" Dario bertanya ada apa. Ia berdiri dan menghampiri Julie yang duduk di meja kerja Papanya.


"Apakah kamu Pernah ke Dante Bank?" tanya Julie.


"Tidak. Mendengar namamya saja belum pernah. Apa itu Dante Bank?" tanya Dario penasaran.


"Sebuah bank rahasia," kata Julie menjawab. Ia masih fokus membaca dokumen itu.


"Di Swiss?" tanya Dario.


"Bukan. Di Suresh. Lantai 11 Nava Tower. Seharusnya kamu tahu itu dimana. Ada dokumen penting untukmu. Papamu menyimpannya di brankas," kata Julie.


"Bagaimana aku bisa kesana? Ada kartu atau semacamnya?" Kini Dario makin bingung.


"Cukup sebutkan nama Omar Axton dan akan nomor khusus untuk kodenya. Bisa ambilkan aku kertas dan pulpen?" pinta Julie.


"Bisa," kata Dario cepat. Tak lama kemudian kertas dan pulpen itu berada di tangannya.


"Ini kode. Hurufnya dibalik," kata Julie serius sambil menyalin huruf dari dokumen rahasia itu.


Dario makin serius. Kini ia menyesal mengapa tak menuruti Papanya untuk kursus bahasa Jepang.


"Dario. Nomor kodenya adalah nomor punggung pemain rugby favoritmu semasa kecil. Angka itu di kali 7 dan dikurangi 2." Julie menjelaskan.


Dario mencatat dalam ponselnya. Ia terkagum dengan kecerdasan Julie.


"Tertulis di sini bahwa ada satu kode lagi untuk membuka brankas. Isinya adakah dokumen rahasia perusahaan. Dan juga wasiat Papamu. Kodenya adalah nama hewan kesyanganmu sewaktu kecil," kata Julie lagi.


"Tapi bukankah kode itu seharusnya angka?" tanya Dario.


"Mungkin urutan ejaan abjadnya. Siapa namanya?" tanya Julie yang sudah siap dengan pulpen di tangannya.


"ABBY? Dia adalah anjing kecil peliharaanku."


"Oke A berarti 1. B berarti 2. Y berarti 25. Kodenya 1225."


Dario mencatatnya. Ia seperti tak percaya kalau ada dokumen semacam itu yang disimpan Papa untuknya. Untung ada Julie. Wanita cerdas itu berhasil memecahkan teka-tekinya dengan mudah.


"Apa lagi yang tertulis di sana?" tanya Dario.


Julie membaca banyak kebusukan Frans Adams di sana. Omar juga punya firasat akan disingkirkan, maka dari itu ia membuat wasiat sebelum tewas. Banyak ancaman pembunuhan, teror dan orang-orang suruhan. Ia tahu pelakunya adalah Frans Adams, tapi ia tak bisa mengungkapnya karena ia begitu licin dan di depannya mengaku sebagai sahabat.


Bulu kuduk Julie merinding. Ini gila sekali. Fakta yang terkuak makin membuatnya takut pada keluarga itu. Frans Adams mungkin lumpuh sekarang karena stroke. Tapi ia masih punya Celia. Lihat saja Timos. Ia disingkirkan dengan bersih dan tanpa bukti yang mengarah pada siapapun. Mayat itu bahkan dinyatakan tenggelam. Itu saja kesimpulan berita itu. Tapi mana mungkin? Iya yakin Timos dibunuh.


Julie makin membulatkan tekatnya. Ya, ia akan kabur dan menghilang. Di tempat dirinya tak bisa ditemukan oleh siapapun. Di desa kecil di Green Valey, ada rumah asuhnya semasa kecil. Miss Allie pasti akan mau menampung dirinya dan bayinya.


"Menurutmu apa yang disimpan Papa di brankas itu, Julie? Maksudnya, jika brankas itu untukku, pasti memang akan disimpan berpuluh-puluh tahun. Aku masih kecil saat Papa meninggal."


"Mungkin bukti," kata Julie singkat. Ya, ia yakin begitu. Biarlah selama Dario sibuk menyelidiki kasus itu, ia akan kabur pergi. Keselamatannya dan anaknya lebih penting. Saat ini ia belum punya cara lain selain bersembunyi.


Ia bukan pengecut. Ia hanya ingin anaknya selamat. Julie merasa putus asa sekarang.


Sementara Dario sibuk membongkar barang-barang Papanya, Julie bilang ia lelah dan ingin istirahat di kamar. Dario bilang segera hubungi dirinya kalau ada sesuatu. Karena ia akan sibuk seharian di situ.


Julie melihat pasangan tua Paman Michael dan Bibi Joan sedang memotong rumput dan merawat tanaman. Ia menyelinap masuk ke kamarnya.


Julie meraih ponselnya. Athena sudah membalas pesannya beberapa menit yang lalu.


[[ "Juls, ada apa? Butuh bantuan untuk ke Green Valley? Ada stasiun kereta di Valex. Kamu bisa naik jalur 3 dan sampai di stasiun Valley. Aku akan bilang Miss Allie untuk menjemput." ]]


Julie bergegas melihat map di ponselnya. Stasiun Valex berada tak jauh dari rumah Dario ini. Julie mencari nomor telepon perusahaan taksi setempat untuk memesan taksi diam-diam.


[[ "Athena. Situasi berbahaya. Aku hanya bisa mengandalkanmu. Bersumpahlah untuk tutup mulut apapun yang terjadi. Dario tak boleh tahu kalau aku kabur. Buatlah alibi seolah-olah kamu memang tak tahu apa-apa. Ponsel ini akan kutinggal. Dario mungkin akan menyimpannya. Ingat ponsel baru dan nomor baru yang kemarin kamu belikan? Aku akan memakai nomor itu. Pesan ini akan dihapus. Jangan balas apapun." ]]


Julie mengatur nafasnya. Ketegangan mulai menjalari pikirannya. Ya, tekatnya sudah bulat. Ia harus kabur dan menghilang.


***


Sementara di rumah mewahnya yang megah, Nyonya Sanio sedang menatap murka. Celia sedang pergi. Ia menggeledah kamar Dario dan menemukan selembar foto ultrasonografi berwarna hitam putih itu.


Milik siapa gerangan? Mengapa ada di saku jas Dario? Nyonya Sanio melihat tulisan kecil di pojok kiri.


dr. Anna Tomya.


Nyonya Sanio tak menemukan nama siapapun lagi. Dokter Anna mungkin yang memeriksanya. Tapi ini milik siapa? Mengapa nama pasien tak dicatat di sana?


Nyonya Sanio mengambil ponselnya. Ia tahu harus menghubungi siapa.


...----------------...


Tinggalkan jejak ya. Akan ada update berikutnya.