
Julie benar-benar menunggu sampai Dario selesai makan. Iya tak tega lelaki itu menjadi sangat pucat dan wajahnya murung terus. Julie takut Dario sakit karena ia tak mau makan.
Sambil menunggu Dario selesai makan, ia membaca ulang pesan itu.
Tapi pesan suara itu belum ia dengar. Sungguh sangat penasaran ia dibuatnya.
"Apa kau sudah selesai makan?" tanya Julie pada Dario.
"Ya, Julls. Ada apa?" tanya Dario.
"Mari kita bicara di kamar," kata Julie.
Dario menatap Julie dengan dahi berkerut. Ada apa ini? Dario terlihat penasaran. Mereka lalu duduk di tepi ranjang kamar mereka itu.
"Shan menghubungiku. Aku tak tahu ini soal apa, tapi istrinya kritis karena melahirkan. Aku harap semuanya baik-baik saja. Aku sudah mengirimkan pesan balasan untuk itu tapi ia mengirimkan sebuah pesan suara. Kamu ingin mendengarnya? Sepertinya ini penting," tanya Julie.
Dario mengangguk. Julie lalu menekan tombol play itu dan suara dari James terdengar.
"Pak Shan. Dimana anda dan tuan Dario? Nyonya jatuh sakit dan tak sadarkan diri. Petugas sedang berusaha mengevakuasi kami yang terjebak di badai salju. Dokter juga tak bisa datang. Beri tahu tuan muda secepatnya. Nomornya juga tak bisa dihubungi dan apartemennya kosong."
Dario mengerutkan alisnya.
"Mama sakit?" katanya pelan seolah ia tak percaya. Wajahnya berubah menegang begitu pesan itu usai ia dengar.
Julie mengangguk. "Sepertinya iya."
Ia turut prihatin juga atas keadaan ini. Cuaca seburuk ini. Bagaimana ia akan menerobos salju?
"Cepat hubungi James. Aktifkan teleponmu kembali. Mungkin ia juga sedang panik," kata Julie menyarankan.
Dario walaupun tahu fakta sebenarnya kalau ia bukan anak kandung dari nyonya Sanio itu, tapi ia tetap saja merasa sedih. Nyonya Sanio adalah ibu yang merawatnya dari bayi. Mendengar wanita itu jatuh sakit tentu saja ia juga cemas.
Julie rupanya sangat bijak. Ia tidak pernah membenci. Ia justru mendorong Dario agar dia menghubungi James cepat-cepat.
Dario lalu mengaktifkan handphonenya. Rupanya banyak pesan masuk dari James.
Ia lalu segera menekan tombol telepon. Dario menghubungi James dengan tak sabar. Nada tunggu tak juga diangkat. Dario sambil ia mondar-mandir tampak gelisah.
Julie menatapnya dengan wajah tak kalah cemas.
"Halo, James," serunya cepat begitu telepon itu diangkat.
"Halo, Pak. Akhirnya anda menelponku. Akhirnya ada bisa dihubungi. Di mana anda, Pak?" James bertanya dengan resah.
Dari suara latar belakang panggilan telepon itu, Dario bisa mendengar sirine ambulans meraung-raung.
"Aku berada di ambulans. Polisi membantuku mengevakuasi nyonya Sanio. Kita akan segera ke rumah sakit. Tapi beliau belum sadar sampai sekarang," kata James.
"Ke rumah sakit biasa, kan? Bagaimana aku akan bisa kesana?" tanya Dario dengan panik.
"Aku akan mengabarkan pada anda, Pak. Tunggu saja di apartemen ada. Di apartemen anda, saya mengirim orang untuk ke sana tapi tidak ada jawaban," kata James cepat.
Dario terdiam sejenak.
"Ah ya, saya sedang di kamar mandi jadi tidak mendengar atau mungkin karena saya tidur," Dario mengarang cerita, ia beralasan tentu saja. Ia tidak mendengar apa-apa karena aparteman itu kosong. Ia berada di apartemen Juli
Telepon lalu ditutup karena James bilang mereka sudah akan sampai di rumah sakit sebentar lagi. Dario menutup telepon lalu kembali duduk di tepi ranjang. Wajahnya tak tertebak.
Sedih,panik, cemas, resah menjadi satu.
Julie mengelus-elus punggung suaminya itu
"Kata James ada apa?" Dengan wajah ikut cemas, Julie mencoba bertanya.
"Entahlah tiba-tiba tak sadarkan diri sejak beberapa hari yang lalu. Kondisinya makin menurun lalu ia sama sekali tak terbangun. Terakhir kali dia datang ke apartemenku, kulihat keadaannya baik-baik saja. Ada apa dengannya?" Dario tambah bingung.
***
Sementara itu di rumah sakit, dokter terlihat sedang memeriksa semuanya.
Mereka langsung membawa pasien ke ruang khusus. Entahlah, James tampak cemas. Hanya ia yang bisa menjadi wali dan penanggung jawab atas pasien karena Dario sedang tidak ada di tempat.
Beberapa saat menunggu, akhirnya dokter keluar.
"Dokter, ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya James dengan tak sabar.
Sang dokter tampak membenahi letak kacamatanya dengan bingung.
"Sebaiknya anda menunggu, Pak. Kami baru akan melaksanakan tes di laboratorium. Sampel dari tubuhnya sudah kami ambil. Saat ini dia sedang di bawah pengawasan khusus dari tim dokter kami. Tenang saja. Saya akan mengabari secepatnya." Dokter menjelaskan lalu berlalu pergi, meninggalkan James yang terdiam memegangi handphonenya.
***
Di saat Dario sedang resah dan tak bisa berpikir jernih, Julie berusaha menghubungi dokter Anna. Walaupun panggilan itu tak segera terjawab, Julie terus mencobanya.
"Dia pasti stand ny di rumah sakit. Akan kumintai tolong dia agar menengok keadaan nyonya Sanio," ucap Julie.
____________
Bersambung...