
Julie ikut menegang. Ia berpura-pura mengangkat telepon lagi.
"Hei, kamu kan yang menabrakku tadi?" tanya Nyonya Maria.
Athena mengangguk. Ia merasa agak takut digertak semacam itu.
"Maaf Nyonya saya tidak sengaja tadi." Athena menjawab dengan gugup.
Frans Adams dan Travis Topper ikut menengok ke arah Athena lalu mereka melanjutkan pembicaraan lagi entah apa itu.
Nyonya Maria hanya melirik sengit. Julie berpura-pura berdiri dan pergi sambil mengangkat telepon.
Ia pura-pura mengeluh kalau sinyalnya sedang buruk. Lalu ia berlalu pergi meninggalkan cefetaria rumah sakit itu. Athena mengikutinya dengan santai. Nyonya Maria rupanya sudah tak mempedulikannya lagi. Tadi ia hanya menggertaknya sedikit karena masih kesal atas insiden penabrakan itu.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan cefetaria sambil sesekali menengok ke belakang.
Aman, tak ada yang mengikuti atau hal mencurigakan lain.
Sesampai di koridor menuju ruangan dokter Anna, mereka berpapasan dengannya.
Dokter Anna langsung membukakan pintu ruangannya dan mempersilakan mereka masuk.
"Senang bertemu kalian lagi. Apa kabar? Apa kalian sudah lama menunggu? Saya baru saja datang," kata dokter Anna sambil membuka tirai-tirai ruangannya itu.
"Ya, kami baru saja datang," sahut Julie.
Athena meliriknya. Julie memberi kode untuk diam. Biarlah hal yang terjadi tadi Athena anggap saja tak terjadi apa-apa.
"Ah, baguslah. Aku agak terlambat tadi. Jadi bagaimana keadaanmu Julie?" tanya Dokter Anna.
Mereka kini duduk berhadap-hadapan di ruang praktik itu.
"Aku menemui dokter Felana beberapa hari lalu di rumah sakit Delphi. Beliau bilang bagiku dalam kondisi bagus, tapi aku harus tetap waspada dan memantau keadaanya di trimester terakhir ini. Tapi aku mengidap preeklampsia. Dokter Felana memintaku menemuimu," kata Julie.
Dokter Anna menyimak penjelasan Julie dengan serius. Ia tahu yang dimaksud dokter Felana. Ia adalah juniornya di kampus.
Sepagian itu, dokter Anna memeriksa kondisi Julie.
Athena mendampingi dan menemaninya selalu. Ia sudah bilang pada pengurus rumah asuh kalau ia mengambil cuti beberapa hari.
Dokter Anna memberikan foto cetak ultrasonografi itu. Julie melihat sepasang bayi kembar yang sudah mulai terlihat hidung dan bentuk wajahnya. Ah, betapa canggihnya teknologi.
Athena ikut senang. Ia merasa sebentar lagi akan punya keponakan yang cantik-cantik.
"Mereka sehat dan baik-baik saja kan, Dok?" tanya Julie.
"Tentu saja baik. Pertahankan kondisimu. Nasib bayi itu tergantung padamu. Makanlah teratur dan akan kuberi vitamin dan suplemen tambahan. Aku akan menyusun jadwal operasimu di awal musim dingin nanti," kata dokter Anna.
Julie hanya mengangguk saja. Ia lalu teringat ucapan dokter Felana yang mengatakan bahwa kondisinya bisa memburuk. Ia juga bilang kehamilan ini cukup beresiko.
"Bagaimana tentang ucapan dokter Felana, Dok?" tanya Julie. Ia merasa kurang puas dengan jawaban itu.
"Julie, tak usah terlalu mengkhawatirkan hal itu. Kalau aku menjelaskan semua istilah medis itu, tentu akan membuatmu takut. Pastikan kau menuruti apa saranku dan menjaga kondisimu. Semua akan baik-baik saja," kata dokter Anna dengan nada menenangkan lagi.
Ya, Julie juga menyadari hal itu. Ia terlalu banyak memikirkan hal yang tidak-tidak akhir-akhir ini. Tentu saja itu memicu stress juga.
"Aku akan ada setiap kau butuh. Telepon aku kapanpun. Nomor ponselku tak berubah. Jangan menghilang lagi Julie, Dario menghawatirkanmu."
Julie hanya terdiam mendengarnya. Ah, ia akan pulang sekarang. Ia sudah yakin.
"Kau tahu, dia menelponku sambil menangis? Dia mencarimu setengah mati. Jangan menghilang lagi." Dokter Anna berkata lirih.
Athena melihat Julie yang terlihat sedih. Mungkinkah Julie menyesali keputusannya telah pergi dari Dario?
"Tak apa. Sebaiknya kau cepat beristirahat. Ingat, jangan stress. Athena akan mengantarnya pulang?" tanya dokter Anna.
"Ya, tentu saja. Aku juga akan memarahinya kalau dia kabur lagi," kata Athena.
Dokter Anna tertawa. Julie ikut tersenyum juga.
Ah, ternyata di balik semua kesulitan yang ia alami, ia masih punya orang-orang baik yang mendukungnya sampai sejauh ini.
"Sampai nanti, dok," kata Julie.
Dokter Anna mengantarnya sampai depan. Seorang suster yang tadi ia telepon menyerahkan sekantong obat dan memberikannya pada Julie. Julie lalu segera pergi ditemani Athena.
Mereka berjalan sambil menengok kanan kiri.
Rupanya Frans dan Maria Adams sudah pergi.
Athena membukakan pintu mobil untuknya.
"Athena, kau jadi mirip Dario," kata Julie sambil tertawa melihat perlakuan sahabatnya itu.
"Hei, aku hanya membantu sahabatku yang sedang mengandung keponakanku," kata Athena lalu menutup pintu mobil.
Ia bergegas masuk lalu memasang sabuk pengamannya.
"Baiklah. Sekarang aku akan mengantarmu ke sangkar burungmu yang mewah itu," kata Athena.
Julie hanya tertawa karena Athena menyebut apartemennya sebagi sarang burung.
"Julls, serius. Kau harus menelpon Dario sekarang." Athena berkata sambil menyetir.
Julie meraih ponselnya. Ia mengetikkan pesan kepada Dario.
"Hei, kamu tidak jadi menelpon?" tanya Athena sambil meliriknya.
"Aku akan mengirimnya pesan," kata Julie.
Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan di pusat kota Suresh itu.
***
Dario sedang sibuk membaca laporan Shan dan deketif Andrew soal penyelidikan Julie.
Anak buah Shan tidak menemukan apapun yang mencurigakan setelah menyelidiki Athena.
Detektif Andrew juga sudah menyusuri semua stasiun kereta dan teka menemukan nama Julie di daftar penumpang di hari ia pergi.
Dario nampak frustasi.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia mengeceknya. Sebuah nomor baru mengirimnya pesan.
[[ "Dario, ini Julie. Aku pulang ke apartemen hari ini." ]]
Pesan singkat yang membuat dada lelaki itu berdetak cepat.
Ia menyambar kunci mobilnya dan berlari cepat keluar dari ruangannya.
......................
......................
Yuhuuu akhirnya mereka bertemu. Yuk, tinggalin jejaknya.🔥🔥🔥