
Dario melepaskan pelukannya. Ia mengamati istrinya yang masih memakai handuk kimono putih itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Istrinya itu masih utuh dan tak kurang suatu apapun. Ia merasa lega.
Dario menatap Julie yang menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Aku hanya khawatir," kata Dario pelan.
Julie tak tahan lagi. Ia tertawa. Ini tawa pertamanya karena Dario.
"Okay, aku ganti baju dan kamu tunggu di luar," kata Julie lalu mendorong Dario keluar menuju pintu dan menutupnya.
Dario tersenyum-senyum sendiri. Dirasakannya sikap Julie tak sedingin dulu lagi. Ia merasa senang.
Ia lalu menggulung lengan kemejanya dan duduk di ranjang itu.
Julie mengganti bajunya dengan gaun putih bercorak bunga daisy yang kecil-kecil. Gaun cantik yang membuatnya makin nampak anggun dan menawan.
Orang bilang saat hamil, aura terbaikmu akan terpancar keluar.
Julie menemukan cahaya wajahnya keluar berseri-seri. Setelah kemarin ia pucat dan lemas karena stress, sekarang semua keresahan itu telah pergi. Meninggalkan wajah ceria da bahagia itu.
Tak perlu ada yang dikhawatirkan. Ia percaya pada Dario sepenuhnya sekarang.
Julie mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan menyisir rambutnya dengan mudah.
Julie tak perlu polesan make up apapun. Wajahnya cantik alami. Bahkan lipstik hanya untuk menegaskan garis bibirnya saja.
Bibir tipis yang manis saat tersenyum itu merah menggoda tapi tak menimbulkan kesan sensual atau semacamnya.
Julie seperti barbie yang manis. Ia tampak mahal dan tak sembarangan pria berani menggodanya.
Sementara itu Dario melihat tas hitam yang tergeletak di ranjang itu. Dilihatnya sebuah kertas mencuat sedikit keluar. Juga satu kartu memori tampak mengintip dari balik tas yang terbuka itu.
Dario mengintip seklias. Isinya dokumen penting itu. Ah, Julie rupanya begitu cerdik. Ia penuh perhitungan. Jelas saja rencana kabur kemarin ia persiapkan benar-benar. Buktinya semua dokumen penting itu dibawa ke Valex dan dia kabur dari sana.
Dario membuka tas itu sedikit. Tapi begitu didengarnya suara klik pintu kamar mandi dibuka, ia mengurungkan niatnya.
Julie membuka pintu kamar mandi yang mewah dan mengkilat itu dan berjalan menuju ranjang.
Dilihatnya Dario tersenyum melihatnya datang. Ah, pria itu. Mantan bossnya yang sekarang menjadi suaminya. Betapa tak disangkanya rajutan takdir ini membawanya ke dalam posisi sedemikian rupa.
Julie lalu duduk di samping Dario. Lelaki itu terus memandanginya tak lepas-lepas.
"Dario, jangan memandangiku seperti itu. Aku merasa gugup," kata Julie.
"Aku ingin menghukum istriku yang kabur meninggalkanku dengan pandangan seperti ini sepanjang hari," kata Dario.
Julie tertawa lagi. Ia lalu meraih tasnya. Dikeluarkannya hasil foto ultrasonografi yang barusan diberikan dokter Anna saat ia mengecek kandungannya. Ia berikan pada Dario.
"Aku tidak jadi kabur karena mereka," kata Julie.
Dario memandangi foto itu dengan wajah berseri-seri. Ia lalu memandang Julie lagi.
"Mereka baik-baik saja, kan?" tanya Dario.
"Tanyakanlah sendiri pada anak-anak itu," jawab Julie.
"Bolehkah?" tanya Dario penuh harap.
Jukie mengangguk.
Dario langung turun dari ranjang dan berlutut di depan perut Julie yang membuncit itu.
Ia mengelus perut itu penuh sayang.
"Hei, ini Papa," katanya berbisik lembut.
Julie tersenyum melihat tingkah Dario. Ah, ia begitu terlihat manis sekarang. Apakah mereka bisa berkeluarga dengan normal seperti layaknya orang lain?
Julie melamunkan semua hal itu lalu ia menepiskan bayangannya sendiri. Tidak mungkin.
Julie tahu Dario adalah orang penting di kota itu. Ia bukan miliknya sendiri. Anak-anaknya tak akan bisa sebebas itu jika mereka tahu kalau Dario adalah ayahnya.
Ah, tak mengapa. Kalau semuanya baik-baik saja, hubungan diam-diam ini masih bisa berlangsung terus kan?
"Julie, jangan pergi lagi atau kalau akan gila," kata Dario sambil mendongak melihat wajah Julie.
Julie tersenyum tipis lalu mengelus rambut Dario dengan spontan.
Dada Dario berdebar begitu hebat. Ini sentuhan pertama Julie padanya.
Dilihatnya Julie yang masih menatapnya. Meraka berdua bertemu pandangan mata.
"Julie, katakan kemana kau pergi?" tanya Dario sekali lagi.
"Kamu tak perlu tahu. Yang penting aku sudah pulang, kan? Aku akan di sini dan tak akan pergi lagi tanpa izin darimu. Percayalah," kata Julie.
Dario lalu beranjak dan kembali duduk di samping Julie.
"Berjanjilah," kata Dario.
"Iya, aku berjanji," kata Julie.
Dario memandangi wajah istrinya itu lekat-lakat. Julie belas memandanginya dan mengelus pipinya. Ia membelai wajah tampan itu untuk pertama kalinya.
Julie juga merasakan debaran yang sama.
"Jangan melakukannya, Julie. Kamu membuat aku berdebar." Dario berkata dengan mata yang masih tertuju ke arah Julie.
"Aku akan terus melakukannya," kata Julie.
Dario memegang tangan Julie. Mereka berpandangan.
"Jangan, aku takut," kata Dario.
"Takut apa?" tanya Julie.
"Takut tidak bisa menahan diriku," jawab Dario.
Juli hanya tersenyum saja.
"Kalau begitu jangan ditahan," kata Julie.
Dario seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Julie makin tersenyum melihat Dario yang salah tingkah.
Dario semakin mendekat. Dibelainya rambut Julie. Tangannya yang satu kini meraih pinggang istrinya itu ke pelukannya.
Wajah itu semakin mendekat. Julie diam dan tak melakukan penolakan sama sekali.
Ciuman pertama dengan sadar dan penuh rasa sayang. Julie tak membalas dan tak menolak. Matanya terpejam.
Dario merebahkan tubuh itu ke ranjang. Julie hanya memandanginya dengan matanya yang teduh dan sayu.
Dario seperti hilang akal. Gaun putih menawan itu menggodanya.
Julie meraih pundak lelaki itu dan meraka semakin mendekat lagi dan lagi...
......................
......................
Author nggak mau bikin pembaca tegang lagi di akhir episode dengan ending gantung. Eh, tapi ini bikin tegang nggak ya?😂
Jangan lupa tinggalkan jejak Gengs. Aku butuh like, komentar, vote, gift, favorit dan juga kritik dan saran. Sampai jumpa di eps berikutnya?🌻