Mama'S Twin

Mama'S Twin
Jatuh Cinta dan Patah Hati



Dario melihat mobil merah itu meninggalkan kediaman orangtua Celia. Ia memutuskan untuk mengikutinya lagi. Tapi, setelah ia tahu mobil itu mengarah ke rumah, ia berbelok arah apartemen Julie. Ia takut membawa Julie terlalu lama keluar rumah. Kehamilannya lebih penting.


***


Nyonya Sanio memasuki rumahnya yang megah itu. Kepalanya pusing. Frans Adams kembali mengungkit kebaikannya. Ia menyebutnya tak tahu terimakasih. Celia hanya sekali melakukan kesalahan. Itu juga karena salah paham.


Tadi, Celia tampak memohon padanya. Ia akan meluruskan salah paham itu.


Nyonya Sanio kaget setalah tahu bahwa surat cerai itu belum ia tandatangani. Celia yang licik menyimpannya.


"Mama, saya bisa jelaskan kalau saya dan Ludwig hanya teman. Ya, kami memang sedekat itu, Ma. Soal uang yang ditransfer itu, sebenarnya untuk membuat usaha bersama. Mama harus percaya," kata Celia memohon.


Tentu saja Nyonya Sanio tak bergeming. Ia masih dingin.


Ia keluar dari rumah itu dengan perasaan tak karuan. Mengapa semua jadi begini? Hatinya seolah luluh lagi. Ah, sial.


"Laila, saya ingin pergi golf sore nanti. Siapkan semua," katanya memerintah asisten pribadinya.


Golf adalah pelampiasan stressnya. Ia memijit kepalanya sendiri yang pusing.


Ia meraih ponselnya. Ia ingin berbicara dengan Dario. Dicarinya nama putranya. Nada sambung terhubung.


"Ya, Ma?" tanya Dario menjawab telepon itu.


"Kamu dimana? Bagaimana surat perceraian itu?"


"Celia masih tidak bisa dihubungi. Dia menghubungi Mama?" tanya Dario menyelidik. Tentu saja ia berpura-pura tak tahu. Padahal ia melihat Mamanya mengunjungi rumah itu.


"Tidak," jawab Mamanya.


Dario tersenyum dengan jengah. Mama membohonginya. Telepon itu ditutup. Dario melihat ke arah Julie. Pasti dia juga mendengarnya.


"Mama bohong. Pasti ia bertemu Celia. Bagaimana kalau perempuan itu menghasutnya lagi?" Dario menggerutu kesal. Julie memandanginya dengan kasihan.


"Dario, kamu harus melihat ini," kata Julie sambil menyodorkan ponselnya ke arah Dario.


Dario mengambil ponsel itu dan melihat berita di situs berita online dan semua media sosial.


Ludwig Cello dan skandalnya. Ia terlihat sedang bermesraan dengan Antonio Fabian, perancang busana ternama.


Berita gila. Dario mengumpat kesal dalam hati. Matanya memerah menahan marah.


"Menurutmu berita ini benar?" tanya Dario pada Julie. Ponsel itu dikembalikannya.


"Tentu saja tidak. Ludwig kakak tingkat saya saat saya kuliah. Dia straight. Pacarnya perempuan-perempuan cantik. Mantan pacar terakhirnya bahkan finalis Miss World. Bagaimana bisa?" kata Julie mengeluarkan pendapatnya.


Dario makin lemas. Ia menyandarkan punggungnya di sofa apartemen itu dengan lemah. Celia yang licik membuatnya kembali pusing.


"Pintar sekali Celia. Berita ini memang hanya gosip. Akan hilang dengan sendirinya beberapa bulan lagi. Tapi efeknya ke publik bisa sangat besar. Nyonya Sanio pasti akan langsung terhasut dan merasa ia salah paham selama ini. Celia akan menang. Dario, kamu kalah cerdik kali ini," kata Julie dengan iba.


"Apa yang harus saya lakukan Julie?"


"Terserah kamu. Dia mungkin tak akan berulah lagi dan akan lebih menurut padamu. Ia takut ditendang lagi dari rumah itu," kata Julie. Ia sudah terbayang bagaimana akal bulus Celia ini.


"Bagaimana kalau Mama tidak percaya dan tetap memintanya bercerai?"


Julie tertawa pelan. "Kemungkinan Nyonya Sanio percaya pasti lebih besar. Antonio adalah salah satu designer favoritnya. Dan Antonio memang begitu. Kamu tahu kan maksud saya. Ludwig bisa berpura-pura atau semacamnya untuk meyakinkan Nyonya Sanio," kata Julie.


"Julie, kata-kata kamu sama sekali tidak mengibur saya," kata Dario dengan lemas.


"Dario, saya hanya realistis. Untuk apa berpura-pura keadaan baik-baik saja? Jelas-jelas langkah Celia lebih unggul darimu sekarang," kata Julie.


"Pulanglah dan bujuk Mamamu," kata Julie.


"Tidak mungkin membujuk. Dia orang paling keras hati sedunia. Dia akan luluh karena hatinya sendiri, karena keinginannya sendiri," kata Dario.


"Kalau begitu jangan pulang. Bilang kalau kamu tahu dia habis menemui Celia dan keluarganya. Bilang kalau kamu telah kecewa dibohongi." Julie menjawab dengan asal lalu meminum susu di gelasnya.


Dario diam saja. Ingin rasanya dunia menelannya saja. Baru saja ia telah berbahagia karena menikahi Julie dan berhasil menceraikan Celia. Tapi semua jadi kacau lagi.


"Julie, kamu tidak sedih saya tidak jadi bercerai?" tanya Dario dengan pelan. Hatinya sedih dan sakit. Julie seperti tidak mempedulikannya.


"Dario, ini hidupmu. Kita tidak menikah karena cinta. Tapi karena keadaan. Kamu mau punya istri lima saya juga tak peduli. Yang penting kamu dan keluargamu tidak mengusik anak-anak saya," kata Julie.


Hati Dario makin sakit saja rasanya. Ya, dia telah merusak Julie, membuatnya hamil dan kini ia ingin Julie mencintainya. Ia sadar diri. Ia tahu diri.


"Julie, apa cita-cita kamu sebelum ini. Maaf, maksud saya sebelum kamu hamil karena saya," tanya Dario.


Julie tertawa. "Banyak. Saya ingin mengumpulkan banyak uang. Lalu membeli tanah di kampung halaman saya. Saya memimpikan untuk mendirikan rumah asuh yang kecil. Di pedesaan di Valey yang sejuk dan indah. Saya akan memelihara beberapa kuda dan berkebun. Ada kebun sayur di belakang rumah. Saya akan membuat kue-kue cokelat untuk anak-anak manis itu. Kita memetik buah, pergi ke sungai yang jernih airnya. Saya akan mengajari mereka membaca dan menulis. Hidup dengan damai. Ya, itu cita-cita saya sebelum 40 tahun. Nyatanya semua hancur di usia saya yang ke 25 ini," katanya sambil tertawa parau.


"Maafkan saya Julie. Saya sudah menghancurkan mimpi kamu." Kini Dario memandangnya dengan penuh rasa penyesalan.


Ya, ia mungkin patah hati karena cintanya tak terbalas. Tapi Julie diam-diam lebih hancur lagi. Mimpinya hancur, karirnya hancur, hidupnya hancur.


"Sudahlah. Sudah terjadi. Mau apa? Saya bisa saja menggugurkan bayi ini. Saya sadar saya hamil saat usai kehamilan saya masih muda. Tapi apa saya sejahat itu? Saya yatim piatu. Mungkin bisa saja dibuang. Saya tidak tahu. Saya tidak minta dilahirkan. Tapi saya bisa berbuat sesuatu yang lebih baik untuk bayi ini, tak peduli siapapun Ayahnya," kata Julie. Pandangannya menerawang. Ia melihat gedung-gedung menjulang kota Suresh yang megah dari balik kaca jendela apartemen itu.


"Saya akan mengusahakan yang terbaik untukmu dan bayi-bayi kita," kata Dario dengan tulus.


"Ya, baguslah. Jangan terlalu stress. Pelan-pelan. Satu-satu. Semua ada jalannya. Saya akan ada untuk mendengarkan dan dimintai pendapat. Tapi kamu tahu, kan kalau saya jujur dan realistis. Saya tidak bisa memberi kamu kata-kata palsu menenangkan."


Dario tersenyum. Sikap Julie sangat bersahabat padanya.


"Saya akan membantu sebisa saya. Soal kasus kapal itu, ya mungkin saya bisa bantu sedikit. Soal Celia, saya akan selalu dengarkan dan memberi pendapat dari lain sisi. Agar kamu lebih banyak pertimbangan," tambahnya lagi.


"Terimakasih Julie. Saya merasa tak sendirian lagi," kata Dario. Ia merasa lega. Ada sesorang yang menjadi tumpuan bebannya.


"Itulah salah satu tugas istri," kata Julie sambil tersenyum.


Dario seperti tak percaya Julie mengatakannya. Istri? Ia mengakuinya sebagai suaminya. Ini pertama kalinya. Senyum Dario kembali.


"Kenapa tersenyum?" tanya Julie sambil memandangi wajah Dario yang kini kembali cerah.


"Tidak. Saya senang kamu menyebut kata istri," kata Dario.


"Memang saya istri kamu, kan? Saya mungkin dingin. Kamu bisa paham kenapa. Saya sedang hamil, saya kadang masih sakit hati saat melihat kamu. Tapi kamu tetap ayah dari bayi saya. Dan bayi-bayi ini selalu suka saat kamu berada di samping saya. Meraka suka menendang perut saya," kata Julie sambil tertawa di akhir kalimatnya.


Dario kini duduk dengan tegak. Ia menatap Julie tak percaya. "Benarkah?" katanya penuh harap.


"Ya. Kamu mau pegang?"Julie menunjuk perutnya yang membuncit.


Dario lalu turun dari sofa dan berlutut di depannya. Ia meraba perut itu. 4 bulan lebih usia kehamilan itu tapi sudah terlihat sangat besar karena di dalamnya ada bayi kembar.


Julie membimbing tangan Dario untuk mengelus perutnya. Dario hampir menitikkan air matanya.


"Mereka bergerak. Sapalah," kata Julie.


"Hai, ini Papa," kata Dario. Air matanya benar-benar menetes kini.


Julie mengelapnya dengan tangannya. Dario, apa sekarang ia mulai luluh dan menyukai laki-laki ini? Hatinya berdebar.