
Julie sedang duduk di tepi ranjang rawatnya. Dario duduk di kursi di sampingnya. Keduanya saling berhadapan dan saling pandang.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk menghadapinya?" Julie bertanya. Mereka sedang membicarakan masalah yang tadi sempat terputus.
Dario menggeleng lemah. "Seperti detektif Andrew belum menemukan titik terang. Shan selalu memantaunya. Aku mengerti karena kasus itu sudah cukup lama, Julls. Tapi setelah sekarang aku tahu kalau Frans Adams mencuri kunci dari mama, aku semakin yakin. Dialah dalang di balik kematian papaku," kata Dario.
"Apa Nyonya Sanio pernah bertanya soal kunci itu padamu?" Julie bertanya lagi.
"Tidak. Kupikir dia mengira kalau benda itu hanya perhiasan emas semata yang bentuknya seperti kunci. Mungkin ini juga harus kuselidiki. Tapi aku sudah pindah dari rumah itu. Atau akan berkunjung sesekali," kata Dario.
"Pindah?" Julie terdengar heran.
Dario mengangguk lalu menjelaskan soal apartemen Xavier. Apartemen yang letaknya dua lantai di atas apartemen yang Julie tempati.
"Aku membelinya dan memindah barang-barangku ke situ. Aku bisa keluar masuk apartemen itu tanpa dicurigai. Si kembar sudah lahir. Aku ingin dekat dengan mereka." Dario berkata sambil tersenyum.
"Apa ini tak terlalu beresiko?" tanya Julie cemas.
"Aku sudah mempertimbangkannya Julls. Mama membayar orang untuk memata-matai. Aku membayarnya dengan lebih besar. Besok aku bisa menjemputmu dan kita pulang ke apartemen kita. Aku sudah menyiapkan semua perlengkapan untuk bayi kita. Jangan khawatir." Dario meyakinkannya.
Lalu obrolan itu berlanjut soal rencana pertemuan Dario ke Dante Bank. Dia menjelaskan bahwa hari ini William Topper ingin bertemu. Karena besok Frans Adams ingin menemuinya.
"Temui dia sekarang lalu besok minta ia mengatur pertemuan di tempat yang kau pilih. Kamu bisa menguping. Ah, atau Shan saja agar tak terlalu beresiko ketahuan." Julie menyarankan.
Dario mengangguk menyetujui ide itu. "Kupikir aku juga ingin memalsukan isi brankas saja Julls. Kalau aku berkonfrontasi secara langsung dengannya justru akan membuatnya tahu kalau aku sedang menyelidikinya. Kau tahu maksudku, kan?" tanya Dario.
Julie mengangguk. Dario benar. Menjebak dan memergokinya hanyalah membuat Frans tahu kalau Dario berbahaya untuknya. Langkahnya bisa ditebak.
"Aku ingin bersikap seolah-olah aku tak tahu saja. Penyelidikan yang dilakukan detektif Andrew masih panjang. Aku harus mematangkan siasat. Lagipula isi brankas sudah kusimpan dengan aman."
"Kau bisa mengganti isi brankas dengan surat wasiat dengan dokumen papamu yang kau temukan di rumah lamamu di Valex." Julie menyarankan.
"Ya, Julls. Kupikir juga begitu rencananya. Lalu bagaimana jika kau membantuku menulis surat wasiat palsu. Dengan bahasa dan aksara Jepang yang pernah kau terjemahkan untukku? Frans dan papaku adalah teman kuliah di Osaka. Frans pasti lebih yakin dan mengira surat itu nyata kalau ditulis dalam bahasa Jepang," kata Dario.
Julie mengangguk-angguk. Rasanya seru dan menantang ikut terlibat di dalam rencana ini. Seperti menjadi tokoh detektif di film.
"Dario, cari kertas lama dan pena khusus. Aku bisa meniru tulisan itu. Kau masih menyimpan kertasnya?" tanya Julie.
Dario mengangguk.
Dan perbincangan hari itu yang terinterupsi dengan kedatangan Celia sudah berakhir. Semuanya seperti baik-baik saja dan Julie serta Dario mampu menghadapi apapun bersama.
Dario berniat menemui William Topper ditemani Shan. Sedangkan pengawal di apartemen dialihkan untuk menjaga Julie lagi.
Athena datang pada siang hari setelah selesai mengurus anak-anak di rumah asuh. Mereka berbincang sambil tertawa-tawa. Rasanya semua mendung gelap di hari-hari mereka itu berganti dengan langit cerah dan pelangi warna-warni.
"Julls, apa lain sudah berbicara adegan Dario soal nama si kembar?" tanya Athena.
Julie menggeleng. Ia sedang menikmati potongan buah dan mengunyahnya.
Athena tertawa. Ia beranjak mengamati jendela. Ramalan cuaca mengatakan kalau salju akan turun malam ini.
"Aku tidak tahu Julls. Kau yang dulu suka menamai anak-anak yang terbuang dan ditinggalkan tanpa nama itu." Athena berkata sambil menerawangkan ingatannya.
Athena selalu lemah melihat bayi-bayi tak berdosa yang ditinggalkan tanpa nama atau identitas apapun itu. Julie selalu berbesar hati. Ia merasa nasibnya sama. Julicia adalah nama pemberian Nona Allie, penjaga rumah asuh itu. Sanders adalah nama dermawan yang suka membantu anak-anak di sana.
Sedangkan Athena Morin adalah nama pemberian orangtua kandungnya. Athena berasal dari keluarga lengkap dan juga bahagia. Ia adalah satu-satunya anggota keluarga yang selamat dari peristiwa kebakaran itu.
Julie pikir ia ingin tetap menggunakan nama Sanders untuk kedua putrinya. Nama Axton begitu ekslusif dan pasti akan mengundang banyak perhatian.
Julie merencanakan mereka akan hidup di bawah bayang-bayang saja. Biarkan ia menjadi orang tua tunggal di mata orang-orang. Dario akan tetap mendapatkan perannya sebagai seorang ayah untuk anak-anak mereka secara sembunyi-sembunyi.
Entah bagaimana takdir akan membawa nasib mereka.
"Brenda dan Bertha. Bagaimana dengan nama cantik itu Athena?" tanya Julie.
Athena tersenyum lalu berbalik dan berjalan ke arah ranjang lagi. Meninggalkan jendela kotak-kotak yang terang itu.
"Bagus. Apa artinya?" tanya Athena dengan wajah tertarik.
"Brenda dalam bahasa Irlandia artinya pedang. Bertha dalam bahasa Jerman artinya cerdas."
Athena mengangguk setuju.
"Anak-anak itu spesial, Julls. Mereka bertahan sekuat ini sampai detik ini. Maksudku mereka lahir sebelum waktunya dan harus berjuang lagi dengan alat-alat mengerikan itu. Aku ingin menangis saat melihatnya. Sekarang aku lega saat dokter Anna bilang mereka bisa tumbuh seperti anak-anak lain," kata Athena sambil mengusap air matanya.
Julie juga tak kuasa menahan harunya.
"Kombinasi nama yang cantik. Kekuatan dan kecerdasan. Ya, Julls. Kalian harus kuat dan cerdas. Yang kalian hadapi ke depannya sulit. Kalian harus bisa bertahan dan melawan dunia," kata Athena.
Julie mengangguk.
Rasa haru itu berubah menjadi pandangan penasaran dan cemas saat suara langkah-langkah tampak menuju ke arah kamar ini. Athena pergi menengok lewat jendela.
Dilihatnya Julie yang menatap dnegan cemas. Ia trauma dengan kedatangan Celia yang tiba-tiba.
Athena menatap sahabatnya itu dengan air mata yang menetes deras. Bahkan ia menahan isak tangis itu dnegan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
Dilihatnya ke arah jendela sekali lagi.
......................
...💙💙💙...
Hallo bab baru meluncur. Jangan lupa jejaknya teman-teman.
VOTE 👍💕💯🎁