Mama'S Twin

Mama'S Twin
Awal Musim Dingin



Bayi-bayi cantik itu sudah bisa ditimang. Dario mendekapnya di dada bergantian.


Sungguh, bayi adalah seperti obat sedih baginya. Darah dagingnya, anak yang ia inginkan dari bertahun-tahun yang lalu.


Siapa sangka ia kini memiliki dua sekaligus. Ditambah bonus ibu bayi yang tentu saja tak hanya cantik. Julie teramat cerdas dan bukan perempuan yang menyulitkan. Betapa Dario amatlah bersyukur.


"Apa perasaanmu sudah membaik, Dario?" tanya Julie pagi itu.


Salju makin turun tak terkendali. Cuaca makin dingin tapi di dalam apartemen dengan penghangat ruangan itu, suasana jadi nyaman-nyaman saja.


"Baik, Julls. Maaf membuatmu khawatir," kata Dario sambil menaruh Bertha kembali ke box bayinya.


"Syukurlah. Aku cemas karena kau tak pernah terlihat seperti itu selama bertahun-tahun kukenal. Tenangkan dirimu dulu. Butuh proses untuk menerima itu semua," kata Julie.


Julie lalu beranjak menuju dapur untuk meminta dua cokelat panas kepada pelayan.


"Kemarilah dan minum," kata Julie sambil duduk di tepi jendela lebar itu. Dua mug cokelat panas megepul dan aromanya tampak menggoda.


Dario menutup box bayi itu dan memastikan kedua putrinya tertidur lelap. Ia lalu berjalan ke arah Julie duduk.


"Julie, mengapa kau begitu baik padaku. Lihat, aku begitu lemah sebagai laki-laki," kata Dario pada akhirnya.


Julie menyeruput minumannya yang hangat dan lezat itu. Ia lalu tersenyum simpul.


"Dario, masa laluku yang yatim piatu memang pedih sekali. Tapi aku tahu masa kecilmu tak kalah pahit. Kamu begitu belia saat menyaksikan ayahmu diracun dan kapal itu tenggelam. Pasti sulit sekali menerima mimpi-mimpi buruk itu sampai sekarang hingga kamu tahu bahwa mimpi itu sungguhan terjadi. Aku tahu kamu pasti cukup terguncang dengan banyak hal membingungkan ini," ucap Julie.


Dario hanya menunduk. Ia juga ikut meminum cokelat panas itu.


"Mengapa harus menutupi kelemahanmu di depanku. Aku istrimu," ucap Julie lagi sambil menggengam tangan itu.


"Terimakasih, Julls," kata Dario.


"Bicaralah apapun padaku. Jangan memendamnya sendiri," kata Julie.


Dario mengangguk. Setidaknya di balik semua kesulitannya ini, ada Julie di sampingnya. Tak bisa ia bayangkan kalau istrinya masih Celia, ia pasti hanya akan bertambah stress saja.


***


Hari ke tiga setelah salju turun dengan lebat.


Asisten nyonya Sanio yang tak bisa menghubungi Dario karena kantor tak beroperasi penuh selama awal musim dingin itu tampak kebingunan.


Shan yang biasanya selalu standby untuk dihubungi itu nyatanya seperti menghilang ditelan bumi. Padahal Shan sedang menemani istrinya yang sudah berada di rumah sakit untuk persiapan kelahiran bayinya.


Mereka ingin mencari kesana-kemari tapi terhalang oleh cuaca buruk. Pemerintah Suresh juga rupanya melarang semua akses jalan. Sungguh kota ini kolaps, seperti keadaan biasa pada awal musim dingin di negara bagian manapun.


Tapi bagi Julie dan Dario yang tinggal di apartemen serba ada itu, semuanya jadi biasa saja.


"Shan tak bisa dihubungi. Aku harus bagaimana?" James tampak kebingunan.


"Saya juga tidak tahu," kata Dona sang kepala pelayan di tempat itu.


"Nyonya sudah diperiksa dokter tapi kondisinya semakin menurun. Kemana orang-orang ini pergi?" James nampak putus asa. Tugas bergaji besar ini rupanya juga beresiko besar juga. Kalau ia tak berhasil menemukan Shan atau Dario, ya habislah dia.


"Sebenarnya ada satu pelayan di sini yang beberapa kali pernah ditugaskan untuk mengantarkan sesuatu ke apartemen baru tuan Dario. Mungkinkah dia kita minta mencari saja?" Dona menyarankan


"Tapi bagaimana di situasi yang buruk seperti ini? Salju lebat sekali," kata James.


"Tidak begitu. Maksudku pelayan itu sekarang sudah keluar dan ia bekerja di tempat tuan barunya yang kebetulan berada di gedung apartemen yang sama." Dona menjelaskan.


"Kau yakin?" James nampak tertarik dengan ide ini.


Dona mengangguk mantap. "Ya, kebetulan dia dekat dengan saya. Kami sering bertukar kabar."


Dan akhirnya sebuah rencana disusun.


Mantan pelayan itu benar-benar diminta mengunjungi unit apartemen Dario dan memencet bel.


Kosong.


Entah hendak dipencet berapa kalipun, pintu itu tak akan terbuka. Jelas saja, Dario tinggal di apartemen Julie dan apartemen miliknya itu kosong.


Sang pelayam kembali pulang lalu melapor kepada James.


James tampak geram sekaligus takut.


"Apakah aku perlu lapor polisi kalau pencarian ini sia-sia. Maksimum sudah tiga hari mereka tak bisa dihubungi," gumam James.


Dona yang merupakan pelayan senior itu tampak mengangguk menyetujui ide itu. Nyonya Sanio tak bisa dibaca bicara. Kondisinya makin lelah.


"Baiklah, lapor polisi!" James lalu meraih gagang telepon di kantornya itu.