
Julie membaca kembali pesan dari Davin itu lalu tertawa kecil.
Untuk apa Davin menghubunginya lagi? Bukankah dulu ia yang meninggalkan Julie.
Julie berbuat memblokir akun Davino tapi ia mengurungkan niatnya.
Memblokirnya hanya akan membuat Davin sakit hati sekali saja.
Tapi kalau cuek dan membiarkan Davin, itu akan lebih menyakitkan. Biarkan saja Davin terus melihat postingannya. Biarkan saja Davin mengirimnya pesan lagi dan hanya dibaca saja.
Julie tersenyum sinis. Dibenci itu lebih baik daripada dianggap tak ada. Jadi biarkan sekarang ia mengganggap Davino tak ada.
Ia lalu meletakkan handphonenya itu dan lanjut bersantai sambil mengelus perutnya.
Apa yang diharapkannya lagi dari Davino? Dia bahkan meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
Athena adalah saksi satu-satunya dimana ia patah hari dan frustasi berbulan-bulan pasca wisuda. Davino meninggalkannya tanpa alasan. Ia menghilang begitu saja.
Bekerja di Axton dan bertemu Dario adalah titik baliknya untuk bangkit dan melupakan lelaki itu. Julie berhasil melewati masa-masa sulit karena bergabung dengan Axton.
Lalu kini Davino muncul lagi? Julie hanya mentertawaknnya dalam hati. Ia sudah tak peduli lagi dengan lelaki itu.
Lagi pula ia sudah punya suami dan calon anak. Kedatangan Davino tak menggetarkan hatinya lagi. Mungkin akan berbeda keadaanya jika ia datang sebelum Julie menikah dengan Dario.
***
Sementara siang hari itu di gedung kantor Axton.
Puluhan wartawan tampak menguasai lobby gedung megah itu. Para security nampak kewalahan.
Apa yang membuat kerumunan ini datang? Semua pegawai terheran-heran.
"Maaf, Pak Dario tidak ada. Kalaupun ingin bertemu, harus buat janji dulu." Shan mencoba mengurai keadaan.
"Kita hanya ingin konfirmasi sebentar mengenai berita yang beredar," kata para wartawan bersikeras.
Shan pikir itu adalah efek pengumuman perceraian yang dilakukan Nyonya Sanio. Tapi ternyata bukan. Ia jadi ikut kelimpungan sendiri.
Shan mendengar penjelasan wartawan soal skandal heboh yang sedang diperbincangkan sejak beberapa jam yang lalu.
Shan lalu memutuskan untuk naik ke atas dmasuk ke ruangan Dario setelah ia mengetuknya dengan tergesa.
"Wartawan datang menyerbu kantor, Pak," kata Shan dengan cepat.
Dario mengerutkan alisnya. Wartawan? Apa berita perceraiannya sudah keluar?
"Mama saya sudah mengumumkannya? Cepat sekali," komentar Dario dengan heran.
Shan menggeleng. Tak lama kemudian Grace mengetuk pintu ruangan itu. Dario mempersiapkannya masuk.
Grace menunjukkan handphonenya yang layarnya menyala itu. Ia diberitahu Shan mengenai apa yang datang terjadi lalu berusaha mencari tahu berita yang dimaksud.
"Apa itu?" Dario terlihat heran lalu mengambil handphone Grace.
Dilihatnya berita online yang sedang ramai diperbincangkan itu.
"Apa ini?" Dario nampak makin terkejut sekaligus terheran.
***
Julie merasa lapar lagi setalah berjemur sepagian itu. Ia dan bayinya butuh mandi matahari untuk pasokan vitamin D. Apalagi sebentar lagi musim dingin tiba. Ia perlu meregangkan tubuhnya di bawah matahari musim gugur ini.
"Bibi, aku ingin makan buah," kata Julie sambil membuka kulkas besar itu.
"Ya, akan saya potongkan, Nona. Silahkan duduk dan menunggu. Jangan memotong sendiri," kata Bibi Emily lalu datang mendekat.
Julie menunggu sambil duduk di meja makan. Diraihnya kembali handphonenya itu.
Ia cukup puas dengan mengacuhkan Davin yang mencoba menghubunginya kemabli itu.
Julie lalu melihat berita lewat handphonenya. Baru saja ia ingin meraih gelas di depannya, tapi gerakannya terhenti karena membaca headline berita itu.
"ADA APA DENGAN ISTRI CEO AXTON GROUP?"
Di bawahnya ada banyak foto bertebaran. Banyak pula foto yang disensor karena mungkin tak layak tayang untuk publik.
Julie menutup mulutnya yang ternganga karena skandal mengejutkan ini.