Mama'S Twin

Mama'S Twin
Pertemuan di Kamar 66



Dario duduk di samping bangku kemudi. Ia melirik Shan yang telah siap.


"Anda siap?" tanya Shan.


Dario mengangguk. Diliriknya di belakang, mobil pengawal mengikuti mereka.


Shan mengendarai mobilnya perlahan. Ia mengambil jalan memutar. Di antara lampu lalu lintas yang menyala, mobilnya berada di paling depan.


Shan nampak agak tegang. Saat lampu hijau menyala ia langsung tancap gas dan menyelinap mobil di depannya dengan lihai.


Shan adalah pengawal yang multitalenta. Maklum saja itu karena ia pernah menjadi pasukan khusus.


Dario melihat ke belakang, mobil pengawal itu tak bisa menyusul mobil yang dikendarai Shan.


"Bagus, Shan," seru Dario memuji kemampuan pengawalnya itu.


Mereka berbelok ke rumah sakit. Dario turun dan mobil itu melaju lagi untuk mengecoh pengawal Nyonya Sanio.


***


Dario segera berjalan cepat menuju ruangan dokter Anna.


Dokter Anna yang sedang membawa dokumen pasien itu terlihat akan keluar dari ruangannya.


Saat tangannya hendak meraih pintu, di saat yang sama Dario muncul dan membuatnya terkejut.


"Hei, Ann. Dimana Julie-ku?" tanya Dario.


Dokter Anna melihatnya dengan wajah serius dan menariknya masuk.


"Dia sedang tertidur. Kita perlu bicara, Dario," kata Anna Tomya.


"Soal Julie?" Dario jadi ikut serius. Ia lalu duduk di kursi di depan meja periksa.


"Bayinya harus dilahirkan secepatnya karena komplikasi di rahim dan preeklampsia yang diderita Julie menambah keadaan jadi makin kompleks. Aku butuh persetujuanmu sebagai suaminya," kata dokter Anna sambil menyerahkan dokumen.


"Julie tahu soal ini?" tanya Dario. Ia berkata sambil membaca dokumen itu dan berusaha memahaminya.


"Aku hanya bilang soal bayinya harus dilahirkan lebih awal. Biar kamu saja yang tahu kondisi sebenarnya. Istilah medis ini dan itu yang kujelaskan kepadanya hanya akan membuatnya semakin down dan gelisah. Dia butuh ketenangan," kata dokter Anna.


"Apa kemungkinan terburuk?" tanya Dario.


"Bayinya tak selamat atau salah satu tak selamat. Atau Julie yang tak selamat. Aku dokter, Dario. Aku bukan cenayang. Aku hanya memberitahu statistik kasus yang pernah ditangani dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tapi tetep saja kan, aku hanya bisa berusaha. Kelahiran dan kematian tetaplah di tangan Tuhan," katanya lagi dengan serius.


Dario mengetuk-ngetukkan kukunya di meja marmer itu. Ia gelisah bukan kepalang setelah mendengar semua ini.


"Tetaplah tersenyum di depannya. Jangan menunjukkan kesedihan atau apapun yang membutanya khawatir," kata dokter Anna.


Dario menatap mantan kekasihnya itu. Anna Tomya adalah dokter paling profesional yang ia temui. Dario percaya kalau ia berjanji akan melakukan yang terbaik untuk istrinya.


"Kapan semua tindakan dilakukan, Ann?" tanya Dario.


Dario lalu mengangguk. Ia memantapkan hatinya untuk menandatangani dokumen itu.


Ia segera meninggalkan ruangan itu begitu Anna Tomya memberitahukan nomor kamar Julie.


Sepanjang koridor menuju kamar Julie, dilihatnya pohon-pohon yang mulai melanggar dan angin sejuk permulaan musim dingin yang sudah terasa menerpa kulitnya.


Ya, hatinya juga sedingin itu. Pikirannya kalut.


Dilihatnya nomor kamar Julie sudah terlihat di depan matanya. Kamar rawat VVIP no 66.


Anna bilang Julie sedang tertidur. Tentu ia tak ingin mengganggunya dengan ketukan di pintu.


Dario langsung membuka pintunya begitu saja. Apapun kondisinya, dipaksakannya bibirnya untuk tersenyum di depan Julie.


Dibukanya pintu lebar-lebar.


"Julls," sapanya sambil tersenyum begitu dilihatnya istrinya itu sudah terbangun dan duduk di ranjang rawatnya itu.


Julie terlihat kesulitan menyisir rambutnya. Dario melangkah mendekatinya dan mengambil sisir itu dari tangan Julie.


Ia menyisir rambut pirang yang panjang seperti barbie itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Julie diam saja tapi ada desiran di dalam dadanya.


Mereka telah menghabiskan malam bersama dengan hangat dan romantis.


Apalah arti pernikahan kontrak itu kalau mereka sudah sedalam itu. Tanpa kata-kata, mereka tentu tahu sama tahu kalau mereka sudah saling mencintai sepenuh hati.


"Maaf aku terlambat," bisik Dario.


Julie diam saja. Ia hanya mengangguk.


"Sekarang semua sudah beres, Julie. Yang jahat sudah mendapat karmanya. Jangan takut akan apapun. Aku akan ada selalu di sampingmu dan bayi kita," bisik Dario lagi.


Julie menoleh ke arah Dario. Matanya berkaca-kaca. Ia tahu dari gelagat dokter Anna kalau ia sedang tak baik-baik saja.


Dilihatnya mata Dario yang tak bisa berbohong. Bibirnya mungkin tersenyum tapi sorot matanya jelas berbeda. Dario pasti mencemaskannya.


Julie berusaha berpikiran positif. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Dario sudah berjanji akan ada si sampingnya.


Dipeluknya tubuh pria itu. Dario membalas pelukannya.


...----------------...


...🌻🌻🌻...


Yuhuuuu. Sudah Senin. Ayok yang berkenan VOTE VOTE VOTE karyaku ya.😍😘🙏🔥


Jngn lupa tinggalkan jejak berupa like, favorit dan komentar.🌻🌻🌻