
Julie melihat Celia yang tiba-tiba sudah berada di depannya dengan wajah terkejut. Jantungnya hampir meloncat keluar.
"Julie, kamu di sini? Kudengar kamu sudah keluar dari kantor?" kata Celia dengan nada lebih ramah.
Julie menaikkan alisnya. Celia jadi ramah padanya? Padahal duku sewaktu ia masih menjadi sekretaris Dario, wanita itu terus menindasnya dan sinis padanya.
"Ya, sudah lama aku resign," kata Julie mencoba santai. Dadanya bergemuruh hebat. Masih ada rasa kekhawatiran yang mendalam. Ia tahu keluarga Celia amat busuk dan kejam.
"Wow, dan kamu sekarang hamil?" Celia menatap perut Julie dengan penuh rasa tertarik.
"Ya, begitulah, Celia," balas Julie singkat.
Julie masih berusaha meraba kemana arah pembicaraan Celia ini. Ia juga tak memanggil nama Celia dengan sebutan Nyonya lagi. Untuk apa? Dia sudah bukan bossnya lagi.
"Oh, okay. Kamu menikah?" tanya Celia penasaran.
"Ya, begitulah singkatnya," jawab Julie.
Celia hanya mengangguk-angguk. Ia seperti ingin bersahabat dengan Julie. Sekarang ia tak punya teman atau siapapun. Para kalangan atas dan sosialita sudah membuangnya begitu ia jatuh miskin.
"Beruntungnya. Keluar dari pekerjaan, menikah dan akan punya bayi. Aku iri padamu," kata Celia sambil menepuk pundak Julie sok akrab.
Julie hanya membalasnya dengan senyuman saja.
"Oke, Celia. Aku sudah selesai dan hendak pulang. Sampai jumpa," kata Julie cepat-cepat.
Julie mendorong trollinya menuju kasir. Ia tak mau lama-lama berurusan dengan Celia.
"Julie, tunggu. Kamu tinggal di sekitar sini? Bolehkah kita makan siang bersama?" Celia mengejarnya.
Julie pura-pura tak mendengar. Ia langsung ke kasir. Petugas itu membantunya setalah melihat ia sedang hamil.
Belanjaan dihitung dengan cepat. Julie menyerahkan kartunya. Tak disangkanya dari arah seberangnya Celia menyambutnya dengan membantunya membawakan barang belanjaanya yang lumayan berat itu.
"Celia apa-apaan?" Julie berusaha meraih kantong belanjaan itu. Ia terlihat tak nyaman.
"Aku hanya membantu temanku yang sedang hamil," kata Celia.
"Aku bukan temanmu," kata Julie sambil tertawa sinis.
Celia tak mau menyerah. Ia membawa belanjaan Julie menjauh. Julie mau tak mau mengikutinya. Dasar gila, apa yang ia lakukan?
"Julie, kutraktir main siang di situ," kata Celia dengan sepihak. Ia menunjuk sebuah restoran cepat saji di lantai bawah supermarket itu.
Julie mau tak mau mengikutinya dengan kesal.
Mereka memesan menu dan menunggu. Musim panas ini begitu berangin. Dari dinding kaca itu Julie melihat daun-daun yang menguning berguguran.
"Jadi, naik apa kau kemari?" tanya Celia. Ia menaopangkan kedua tangannya ke dagu.
"Taksi," jawab Julie singkat.
"Kenapa kamu ketus sekali? Apa kau masih mendendam karena dulu aku menjambak rambutmu?" tanya Celia tertawa seolah-olah itu adalah hal yang lucu.
Julie masih diam saja. Ia melihat mobil yang berlalu-lalang menuju perbatasan kota Delphi.
"Oh, maaf. Dulu aku pencemburu dan obsesif pada Dario. Sekarang tidak lagi. Kita sudah bercerai," kata Celia sambil tertawa lagi.
Mendengar kata perceraian, Julie menjadi tertarik. Ada pendapatnya kalau ia tahu ternyata Dario telah menikahi Julie dengan sah secara diam-diam?
"Bercerai? Kamu dan Dario? Kenapa?" tanya Julie penasaran.
Terakhir Dario bilang bahwa Celia menyembunyikan surat cerai itu dan ia menikah untuk diceraikan.
"Ya, aku selingkuh. Dan aku tak bisa memberinya anak. Aku iri padamu, Julie. Betapa bahagianya hidupmu sekarang," jawab Celia dengan nada sedih.
"Sekarang kau tinggal dimana? Tidak di rumah Nyonya Sanio lagi?" tanya Julie.
Celia tertawa sedih. "Tentu saja tidak. Wanita tua itu mengusirku. Aku tinggal di seberang danau Elvis. Rumah lama masa kecilku kini ditempati lagi bersama orangtuaku. Itu satu-satunya aset yang tersisa. Aku jatuh miskin," kata Celia.
Julie menjadi heran. Celia tak berusaha menutup-nutupi keadaanya darinya. Apakah ia seputus asa dan sejatuh itu?
"Kamu juga tinggal di sini, Julie? Bersama suamimu?" tanya Celia.
"Mmm...Tidak. Aku hanya singgah di rumah bibiku untuk sementara. Suamiku sedang keluar negeri untuk bekerja. Jadi aku menghabiskan musim panasku di sini agar tak kesepian," kata Julie mengarang cerita.
Jantungnya berdegup cepat. Tak disangkanya ia akan berbohong selancar ini. Julie mengelus perutnya yang membuncit.
"Ah, senangnya. Suasana di sini memang bagus. Suresh tapi tidak padat dan macet. Aku juga mulai menikmati tinggal di sini," kata Celia.
Pelayan membawakan pesanan. Julie memakan makan siangnya sambil sesekali melirik ke arah Celia.
Ia mungkin menyedihkan sekarang. Tapi Julie tentu ingat semua perlakuannya dan kebusukannya. Ia juga ingat apa yang ia baca di dalam dokumen rahasia itu. Frans Adams yang mengerikan itu adalah ayah Celia.
"Biar aku yang bayar," kata Julie sambil memanggil pelayan dan menyerahkan kartunya. Mereka sudah selesai makan siang.
"Ah, terimkasih. Kau baik sekali. Akan kuantar kau pulang," kata Celia menawarkan.
"Tidak. Tidak usah repot. Aku akan naik taksi dan mampir ke toko bunga di dekat persimpangan. Bibiku menunggu di sana," kata Julie sambil menunjuk ponselnya.
Julie membawa tas belanjaanya dengan sebelah tangan. Sebelah tangan lagi pura-pura menerima telepon.
Sebuah taksi oranye melintas di depannya. Julie langsung menyetopnya.
Dari balik kaca jendela Celia yang masih duduk di restoran itu melambaikan tangan padanya. Julie membalasnya.
Taksi oranye itu melaju cepat. Membuat daun-daun kering itu berhamburan ke pinggir jalan.
Julie menyebutkan arah tujuannya sambil sesekali melihat ke belakang. Ia takut Celia mengikutinya. Dadanya berdegup kencang.
***
Celia masih duduk di kursi restoran itu. Ia menyedot minumannya yang masih separoh gelas itu.
Ia melamun. Andai ia bisa hamil seperti Julie. Ah, memang sudah nasibnya ditakdirkan untuk tak bisa memiliki anak.
Iya juga meratapi nasibnya yang kini menjanda. Habislah riwayatnya. Ia mendengus dengan sebal.
Ponselnya berbunyi. Maria Adams menelponnya.
"Ya, Ma?" jawab Celia bermalas-malasan.
"Apa yang kau lakukan? Lama sekali. Cepat pulang. Dokumen perceraianmu disetujui pengadilan. Seorang kurir baru saja mengirimnya ke rumah. Cepat pulang dan baca sendiri. Mertuamu itu sudah gila rupanya," kata Maria dengan nada kesal.
Celia buru-buru berdiri dari duduknya. Daftar belanjaan itu bahkan belum ia beli satupun. Ia tak peduli lagi.
Celia berjalan menuju mobilnya dan mengemudi bagikan orang kesetanan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hello, episode baru datang untuk menemani soremu. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, komen dan rate.
Kritik dan saran juga boleh sekali.
Jadi episode besok mau bahas tentang apa dulu, nih?
Julie? Celia? Dario?