Mama'S Twin

Mama'S Twin
Kembalinya Wanita Licik



Dario memutuskan untuk pulang malam itu. Ia takut Mamanya curiga karena ia sering menginap di luar. Sebenarnya ia tak mau jauh-jauh dari Julie. Tapi ia harus bijak. Ia tak mau keinginan dan egonya akan menghancurkannya. Keamanan dan privasi Julie dan bayinya adalah nomor satu saat ini.


Mobil memasuki area rumah. Penjaga membukakan pintu gerbang. Dario terlihat heran. Ada dua mobil lagi yang terparkir di halaman luas itu.


Mobil warna abu-abu itu ia kenali sebagai mobil Celia. Dario mengumpat kesal. Mengapa wanita licik itu kembali lagi ke sini.


Mobil satunya berwarna putih. Mobil SUV yang terlihat maskulin dan gagah. Mobil siapa itu?


Dario bergegas turun dan masuk. Nyonya Sanio dan tiga orang lainnya terlihat akrab mengobrol. Dario memicingkan matanya. Ia mencium bau-bau kelicikan dan kebusukan Celia.


Celia, Ludwig dan Antonio melihatnya dengan tersenyum.


"Hallo Pak Dario," kata Antonio menyapa dengan ramah dan manja.


Ludwig melihat ke arahnya sambil tersenyum dan menunduk hormat.


Celia jangan ditanya lagi. Mukanya tebal sekali dari rasa malu. Ia berdiri menyambut Dario.


"Honey, sini duduk," katanya sambil menggandeng tangan Dario. Dario langsung menepisnya. Ia lalu melihat ke arah Mamanya.


Perempuan itu kembali tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Dario menatap sinis. Wajahnya dingin dan tangannya terkepal menahan amarah.


"Sayang, yang terjadi kemarin adalah kesalahpahaman.  Ludwig tidak seperti yang kamu pikirkan. Dan mereka ternyata membuat usaha bersama dari dana yang Celia kirimkan. Duduklah, Sayang." Nyonya Sanio berubah 180 derajat. Membuat Dario hampir gila menyaksikkan ini semua.


"Lalu apa? Saya tetap ingin bercerai," kata Dario dingin. Ia masih berdiri. Celia terus berusaha meraih tangannya. Dario terus menepisnya.


Nyonya Sanio menghela nafas panjang. "Dario, sadarlah..."


"Mama yang harus sadar," katanya setengah berteriak.


Nyonya Sanio berdiri. Suasana menjadi canggung dan tak terkendali.


"Saya tunggu sampai besok kamu tandatangani surat cerai itu," kata Dario dengan tegas dan dingin.


"Tidak akan. Saya tidak akan menandatanganinya. Saya tidak ingin bercerai. Honey, please dengarkan. Ini cuma salah pa..." Celia berusaha menjelaskan.


"Cukup," porong Dario cepat.


"Saya tidak mandul. Kamu yang mandul," kata Dario sambil menatap tajam ke arah Celia. Ia sudah di ambang kemarahannya.


Celia nampak mundur ketakutan. Ia hampir menangis. Nyonya Sanio memegang pundaknya.


"Dario, jangan kasar," katanya membela Celia.


"Oke, karena barang-barang Celia di atas, berarti saya tidak akan kembali ke rumah ini. Anggap saja Mama tak punya anak lagi. Anak Mama Celia, kan? Urus saja perusahaan sendiri. Saya akan pergi dan jangan cari saya," katanya tajam sambil berlalu pergi.


Dario melajukan mobilnya dengan cepat. Ia melirik kaca spion belakanganya. Aman, tak terkejar. Pasti Mama menyuruh orang untuk mencarinya. Ia mematikan ponselnya.


Kemana Dario akan pergi?


Mobil itu menuju ke pinggiran kota. Dario terus melirik ke arah kaca spionnya. Masih aman sejauh ini, tidak ada yang mengejarnya. Ia menuju rumah pribadi Shan.


Shan keluar dari rumah dengan terkejut. Istrinya terlihat berdiri di belakangnya.


"Maaf, Shan. Aku butuh bantuan."


Shan memintanya masuk. Istrinya ikut duduk di samping Shan dengan tegang. Ini sudah tengah malam.


"Saya butuh mobil. Mobil yang tak pernah terlihat dimanapun dan tertangkap CCTV rumah saya maupun Axton. Saya ingin menghilang beberapa hari dari rumah. Saya butuh mobil baru untuk menyamar," kata Dario.


Shan terlihat berpikir. Dua mobilnya sudah jelas dikenali dengan mudah.


"Mobil saya?" istri Shan menawarkan.


Shan mengangguk. "Baru saja dibeli. Atas nama istri saya. Tapi saya punya beberapa pasang plat nomor palsu untuk menyamarkan diri."


Dario mengangguk. Ia mengucapkan terimakasih berkali-kali. Ia menyerahkan kunci mobilnya.


"Sembunyikan. Dan saya akan transfer untuk Nyonya Shan membeli mobil baru," katanya.


Nyonya Shan berdiri dan membuka nakas di dekatnya. Kunci mobil itu diserahkannya pada boss suaminya.