Mama'S Twin

Mama'S Twin
Wanita Licik



Celia mendarat di Bandara Kota Suresh. Bukan Timos yang menjemputnya. Tapi Garus, pengawalnya sehari-hari.


"Dimana Timos?" tanya Celia begitu ia menutup pintu mobil.


"Timos pulang ke kampung halamannya. Dia keluar. Katanya orangtuanya sakit keras," jawab Garus.


Celia mengerutkan keningnya sedikit. Ia duduk dengan anggun di mobil mewah keluaran terbaru itu. Ia mulai curiga. Timos ia bayar mahal untuk tutup mulut soal perselingkuhannya dengan Ludwig. Sudah setengah tahun rahasianya aman. Mengapa mendadak kini ia keluar dari pekerjaannya?


"Garus, sudah kamu pastikan Ia tidak berbohong?" tanya Celia menyelidik.


"Ya, saya lihat sendiri dia menangis sambil menerima telepon. Tangannya gemetar dan minta diantar ke stasiun. Saya sendiri yang antar tadi siang," kata Garus.


Celia mengangguk percaya. "Oke, jalan," katanya memerintah.


Celia sampai rumah saat malam telah tiba. Ia disambut oleh para pelayan. Kopernya dinaikkan ke atas. Ia mencari keberadaan Dario dan Mama mertuanya.


"Nyonya besar sudah tidur. Tuan Dario belum pulang. Sepertinya pulang malam. Saya juga tidak tahu menahu," lapor pelayan itu.


Celia lalu naik ke atas. Ia harus menyusun rencana besok pagi. Pasti Dario sudah melapor pada Mamanya.


Celia memandangi ponselnya. Mama mertuanya tak membalas pesannya tadi pagi. Pesan itu hanya dibaca dan diabaikan begitu saja. Tak biasanya ia seperti itu. Nyonya Sanio akan bersikap manis padanya.


Celia merasa gelisah. Ia harus punya serangan balik untuk meyakinkan Nyonya besar. Posisinya di rumah ini terancam. Semua kartu kreditnya masih diblokir. Ia meradang karena kesal. Selama 7 tahun pernikahan, baru kali ini Dario marah.


Celia mandi dan memakai gaun tidurnya. Ia menelpon kekasihnya, Ludwig.


"Hallo sayang? Sudah siap kan rencana kita?" tanya Celia.


Celia tersenyum-senyum sendiri seperti orang kasmaran. Ludwig membuatnya cinta buta. Wanita itu menarik selimutnya. Ia terkikik senang saat Ludwig yang tampan dan muda merayunya.


***


Dario memutuskan untuk tak pulang ke rumah. Ie menukar mobilnya dan membawa satu tas berisi pakaiannya. Ia akan pulang ke apartemen Julie.


Shan menelpon untuk menemuinya. Ia sudah mendarat dari penerbangannya dari Macau.


Dario menutup teleponnya dan menyetir menuju sebuah tempat. Di depan gereja yang sepi, mobil Shan sudah menunggu.


Shan melaporkan semua yang ia lihat di Macau.


"Ludwig Cello kembali ke Suresh terlebih dahulu. Hari berikutnya Nyonya Celia bersenang-senang dengan para gadis di Macau, sepertinya temannya. Mereka makan siang bersama, berjalan-jalan dan juga berpesta. Dia merekam dan memotret semua kegiatannya. Kalau Bapak tidak menerima foto-foto itu, kemungkinan itu dikirimkan untuk Nyonya Sanio agar ia percaya bahwa ia benar-benar liburan, bukan selingkuh. Mengenai caranya membayar semua tagihannya, saya tidak tahu. Mungkin uang dari Nyonya Sanio atau ibunya," lapor Shan.


Dario mengangguk-angguk paham. Mama sudah benar-benar terhasut oleh bukti-bukti palsu itu. Pantas saja ia masih membela Celia.


"Kerja bagus, Shan. Siapkan satu orang lagi untuk mengawasi dia sesampai di sini. Jangan kamu, orang lain saja yang kamu latih. Kamu harus di samping saya. Saya akan sering pulang ke apartemen Julie. Pastikan tetap aman semua. Siapkan satu mobil cadangan di apartemen Julie. Bukan untuk dia. Untuk saya. Yang umum, yang banyak di jalanan dan tak mudah terlacak. Ganti jadi atas nama orang lain. Paham?" perintah Dario.


Shan mengangguk paham. Pertemuan itu selesai.


Dario menyetir menuju apartemen Julie. Sudah hampir tengah malam. Besok hari libur kerja. Ia memutuskan untuk menginap saja.


***


Julie sedang terbatuk-batuk saat Dario mengetuk pintunya. Ia dilanda mual lagi. Entah mengapa rasa mual yang hilang timbul ini begitu menyiksanya.


Dario terus mengetuk pintu kamarnya dengan cemas. Kepala pelayan berada di belakangnya. Ia tak kalah khawatir.


"Tadi Nona mual-mual. Sepertinya lemas lagi. Apa perlu pintunya langsung Tuan buka saja?" katanya memberi saran. Ada nada khawatir dalam suara perempuan itu. Ia begitu kasihan melihat Julie.


Dario langsung membuka pintu begitu mendengar penjelasan itu.


Ia mencari Julie ke seluruh penjuru kamar. Ia sedang berdiri di toilet dan mencuci tangan dengan lemas.


"Hei, kamu nggak papa?" tanya Dario. Ia merangkul pundak gadis itu dan membawanya masuk ke kamar kembali.


Dario berjongkok di bawahnya. Tangannya tepat di atas lututnya. Ia melihat Julie dengan wajah cemasnya.


"Sudah tanya Dokter Anna? Apa katanya?" Dario mata cemas.


"Katanya wajar. Nikmati saja rasa mual ini. Nanti akan hilang dengan sendirinya," kata Julie.


"Maaf," kata Dario serius. Matanya menatap Julie, ia terlihat menyesal.


"Maaf apa?"


"Maaf karena kehamilan ini menyulitkan kamu. Karena saya kamu menderita," kata Dario.


Julie kembali tersenyum sinis. Ia kembali muak. Dario terus saja mengatakannya.


"Saya memang ingin punya anak tanpa menikah. Saya tidak percaya laki-laki lagi. Baguslah saya hamil anak kembar. Dan saya tidak perlu suami,"


"Julie..." Dario berkata lemah. Ia menunduk memandang lantai marmer mewah apartemen itu.


Julie masih diam. Entah mengapa rasa mualnya hilang melihat Dario di sisinya.


"Saya akan menceraikan istri saya. Kamu tahu kan bukti-bukti perselingkuhan itu? Hari ini dia kembali dari Macau. Saya akan menginap di sini. Surat cerai sudah diurus pengacara saja. Please, ijinkan saya untuk menikahi kamu," katanya serius. Ia menggengam tangan Julie.


Julie tak menepis tangannya. Tapi hatinya tak luluh. Ia tetap tak mau menikahi Dario. Ia ingin menjadi Julie yang bebas. Keluarga konglomerat itu nantinya akan menyulitkannya.


"Tidak akan," jawabnya singkat


"Kenapa?" Dario bertanya lirih. Tatapan matanya terlihat putus asa.


"Saya tidak ingin berurusan dengan keluarga anda. Saya ingin menjadi orang biasa. Anak saya tidak akan aman. Bapak tahu kan perusahaan keluarga Nyonya Celia? Bapaknya gila, sudah divonis penjara kan karena membunuh. Dan juga perusahaannya banyak kecurangan. Mengapa ia lolos dan masih bebas sampai sekarang? Bayangkan jika saya atau anak saya disakiti. Bisa lenyap saya," kata Julie geram.


Dario terdiam. Ya, benar. Walaupun perusahaan itu sudah runtuh, tapi di mata sebagian orang, kejahatan Frans Adams tak termaafkan. Ia licik dan gila. Karena Mamanya bersahabat dengan keluarga itu, ia hanya akan tutup mata dan bilang semuanya fitnah. Celia juga bersih namanya. Ia terkenal dermawan dan aktif di berbagai acara sosial bersama geng sosialitanya. Ia bersikap manis di hadapan publik dan dipuja banyak orang. Wanita licik itu.


"Kita menikah diam-diam. Pejabat sipil Kota Suresh adalah sahabat saya. Semua bisa dirahasiakan. Saya hanya ingin ikut berhak atas anak saya. Saya hanya ingin bertanggung jawab, Julie," katanya memohon.


"Lalu Bapak akan mengambilnya dari saya dan menyingkirkan saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya bisa lenyap kapanpun tanpa orang lain mencari tahu saya dimana. Bisa saja mayat saya dilempar ke laut. Saya tidak mau," katanya bersikeras. Mata gadis itu berkilat-kilat. Tentu saja ia tak bodoh.


"Saya janji akan melindungi kamu, Julie. Perlu bukti apa lagi? Saya akan melakukan apapun," kata Dario putus asa.


"Sudahlah, saya mau tidur," kata Julie sambil menarik selimutnya. Ia berharap Dario segera enyah dari kamarnya.


Dario berdiri. Sebelum pergi ia berpesan, "Cari saya kalau membutuhkan apa-apa. Saya menginap dikamar sebelah," katanya pelan. Ia melangkah dengan gontai keluar dari kamar itu.


Julie diam saja. Dalam hatinya ia kasihan juga melihat Dario. Posisinya pasti sulit.


***


Julie terbangun malam itu. Sudah hampir menjelang pagi. Julie membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Dario tertidur di sofa.


Sofa putih itu awalnya di ruangan lain. Dario sepertinya menggesernya agar dekat dengan pintu kamar Julie. Ia tidur meringkuk dengan selimutnya yang tak tak beraturan.


Julie menghembuskan nafas panjang. Ia kasihan juga. Dibenahinya selimut Dario.


Dario tergagap. Ia bangun dengan terkejut karena gerakan tangan Julie.


"Hei, kamu nggak papa? Kamu mual lagi?" tanya Dario dengan khawatir. Ia kini duduk sambil memandangi Julie dengan cemas.


Julie merasa hatinya luluh. Dario begitu perhatian dan mencemaskannya.


...----------------...


Yang geregetan tahan dulu ya. Konflik makin memanas. Yuk tinggalkan jejak untuk mendukung author agar makin semangat upload ceritanya.