Mama'S Twin

Mama'S Twin
Kereta ke Valley



Dokter Anna Tomya menghubungi nomor Julie. Tersambung tapi tak diangkat. Ia merasa khawatir. Apa sesuatu telah terjadi?


Ia mencoba sekali lagi. Jam prakteknya sebentar lagi selesai. Ia duduk dnegan gelisah sambil terus menerus mencoba menghubungi Julie.


Masalahnya, Nyonya Sanio ingin menemuinya setelah jam kerjanya usai. Ia tak bisa mengelak lagi. Nyonya Sanio rupanya lebih cerdas dari kejadian kemarin. Ia tak bisa menghindar atau beralasan lagi karena ada jadwal operasi. Nyonya besar itu menelpon direktur rumah sakit yang merupakan teman baiknya. Lalu ia meminta jadwal dokter Anna secara detail.


Tak ada pilihan lain. Ia mencoba menelpon Dario. Ya, Dario mungkin bisa menjelaskan sesuatu mengenai maksud kedatangan Nyonya besar itu.


Dario yang sibuk mempelajari berkas-berkas mendiang Papanya mencoba mengambil ponselnya di meja sebelah. Alisnya agak berkerut begitu tahu kalau dokter Anna yang menelponnya.


"Ya, Anna. Ada apa?" tanyanya tak mengerti.


"Dario, Nyonya menelpon Saya dan ingin bertemu sebentar lagi. Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja? Julie tidak mengangkat telepon saya. Dia sudah saya hubungi berulang kali," kata dokter Anna dengan nada panik.


"Dia bilang apa, Anna? Aku sedang kabur dari rumah dan menghilang. Jangan bilang apapun soal hubunganku dan Julie. Juga soal kandungannya. Kabari  aku lagi secepatnya. Okay?" kata Dario. Ia menutup telepon itu dengan cepat dan bergegas menuju kamar Julie.


Dibukanya pintu itu. Kosong. Bagaikan tersambar petir, Dario mencarinya ke setiap sudut kamar yang luas itu. Di kamar mandi tak ada. Dario lalu membuka lemari lebar tempat ia meletakkan koper Julie. Dan kosong...


Dario melihat ke arah jendela yang terbuka. Ada gerbang belakang uang mengarah ke jalan raya. Pasti Julie kabur lewat situ.


Dario duduk di tepi ranjang dengan lemas. Ia tak bisa berpikir dengan jernih. Kemana kaburnya Julie?


Ponsel di sebelah ranjang berdering.  Itu ponsel Julie! Dario terperanjat lalu cepat-cepat meraih ponsel itu. Athena yang menelpon.


"Athena, Julie kabur dan menghilang," kata Dario.


Athena memberikan ekspresi kekagetan yang berlebih. Ya, Julie yang menyuruhnya. Kini ia sedang duduk manis di gerbong di kereta jalur 3, menuju Green Valley.


Athena mengaku tak tahu apa-apa. Bahkan ia memarahi Dario karena membawa wanita hamil keluar kota. Athena pura-pura marah padanya dan mematikan telepon. Dia bilang dia akan mencari Julie.


Kini Dario benar-benar percaya kalau Athena hilang sungguhan. Mengapa ia sengaja meninggalkan ponselnya?


Dario mencoba menghubungi nomor Julie yang lama. Tidak tersambung. Pasti Julie sengaja mematikannya. Dario merasa frustasi.


Ia melangkah keluar kamar dan mencari Paman Michael dan Bibi Joan.


"Apakah kalian melihat Julie pergi dari rumah?" tanya Dario setelah menemukan mereka di halaman depan. Mereka sepertinya baru saja selesai memotong rumput dan merawat tanaman-tanaman.


"Tidak, Tuan Muda. Kami sedari tadi berada di sekitar sini," kata Paman Michael.


"Julie pergi. Sepertinya lewat pintu belakang. Apakah kalian melihat taksi atau semacamnya lewat sini. Karena jalur jalan utama pasti lewat depan rumah ini." Dario kini merasa tambah lemas.


"Ya, ada taksi berwarna kuning. Tapi kosong. Sopir taksinya saya kenal. Dia bahkan mengklakson ke arah kami. Dia taksi langganan saya saat harus berbelanja ke pusat kota," jawab Bibi Joan.


"Bibi yakin?" tanya Dario sekali lagi.


"Ya, tentu saja yakin." Bibi Joan nampak ikut panik.


"Kalau kalian merasa asing di tempat ini, lalu berusaha kabur, tempat mana yang akan kalian tuju?" tanya Dario. Ia benar-benar tanpa clue.


"Mungkin Nona Julie kembali ke Suresh?" Bibi Joan berpendapat.


"Atau ke stasiun?" Paman Michael ikut berpendapat.


Dario makin stress. Ia kembali ke kamar dan menelpon Shan segera.


***


Sementara di dalam gerbong kereta jarak pendek itu, Julie duduk dengan nyaman. Ia hamil besar dan mendapatkan kursi prioritas.


Namanya juga tak tercatat di daftar penumpang. Ia bilang kartu identitasnya tertinggal dan ia harus menyusul suaminya ke Valley dengan segera. Penjaga loket itu nampak iba dan memakluminya.


Supir taksi itu membantunya. Ia baik sekali. Sewaktu melewati depan rumah, dimana ada Bibi Joan dan Paman Michael, Julie menunduk agar tak terlihat.


Kebijakan di Valex ternyata kaca taksi harus transparan, tak boleh gelap dan harus bisa terlihat jelas dari luar. Kebijakan itu dibuat karena banyaknya kasus kejahatan dan pembegalan penumpang di dalam taksi.


"Terimakasih, Pak," kata Julie ketika sopir taksi itu mengangkatkan kopernya ke atas.


Kereta berjalan. Sekitar 20 menit menuju stasiun berikutnya di Green Valley. Ia menelpon Miss Allie.


"Ya, Julie. Tadi belum lama Athena menelponku. Kamu sampai di mana? Saya akan segera ke stasiun." Miss Allie yang panik karena pemberitahuan mendadak itu nampak tergesa menuju Chevrolet tuanya yang berwarna merah itu.


Usianya mungkin sudah tak muda lagi, tapi ia masih mahir menyetir.


Ia begitu khawatir begitu Athena bilang bahwa Julie sedang hamil besar dan kabur dari suaminya. Ia tak banyak tanya. Ia sudah menduga banyak hal. Julie yang malang mungkin mendapat perlakuan kasar atau semacamnya. Julie adalah satu anak asuhnya yang rajin berkunjung dan memberikan dananya untuk rumah asuh. Ia begitu menyayanginya.


Miss Allie masih minta dipanggil Miss karena ia sudah memutuskan untuk tidak menikah dan mengabdikan hidupnya untuk anak-anak malang dirumah sih itu.


Ia menunggu dengan gusar di stasiun. Ketika dilihatnya Julie turun, ia langsung berlari cepat ke arahnya. Ia rebut koper itu dan menurunkannya.


Miss Allie nampak berkaca-kaca. Julie anak kecil yang manis kesayangannya dulu kini telah dewasa dan hamil. Ia memeluknya dan meraba wajah Julie. Ia takut Julie kabur karena diperlakukan kasar.


"Kamu bahkan tidak bilang padaku sewaktu menikah dan hamil. Dasar anak nakal, ayo pulang." Miss Allie mangandeng tangan Julie dengan tangan kirinya, sedangkan koper itu diseret dengan tangan kanan.


Julie merasa ia ingin menangis saja. Miss Allie membukakan pintu mobil tua itu untuknya.


Mobil memasuki kawasan pedesaan yang sejuk. Domba-domba makan dengan lahap di padang rumput yang luas itu. Kini ia merasa lebih aman dan jauh dari orang-orang jahat. Ia mengelus perutnya yang membuncit dengan lembut.


***


Sementara itu di sebuah restoran hotel mewah yang kosong, Nyonya Sanio menatap dokter Anna Tomya dengan wajah sinisnya.


Rupanya resto itu sengaja dikosongkan. Mudah saja bagi sang Nyonya besar. Hotel itu miliknya.


Dokter Anna melihat ke arah Nyonya besar itu dengan pandangan mata yang tampak gugup.


Nyonya Sanio mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah foto ultrasonografi kandungan. Ia meletakkannya di meja dengan keras.


Dokter Anna memucat.


Nyonya Sanio butuh penjelasan.


...----------------...


Halo readers, maafkan endingnya selalu nggantung dan bikin sebel. Sengaja biar kalian penasaran dan menunggu ceritaku di episode selanjutnya.


Tinggalkan jejak agar aku makin semangat. Muah😘