Mama'S Twin

Mama'S Twin
Hasil Tes DNA dan Awal yang Baru



Julie mendengarkan rekaman suara dokter itu.


Ya, Nyonya Sanio lumpuh syaraf-syarafnya. Entah zat apa yang masuk ke tubuhnya itu. Dokter sulit menganalisa karena mereka bilang sudah beberapa hari sang nyonya jatuh sakit. Berapa hari itu membuat semua zat menyebar ke dalam tubuh dan menjadi tidak jelas teridentifikasi.


Sorenya, sebuah mobil dengan sirine datang di bawah apartemen. James datang menjemput Dario bersama polisi.


Badai sudah mereda dan mereka bisa pergi ke rumah sakit untuk menengok sang nyonya. Julie melepas kepergian Dario. Ia menepuk pundak suaminya itu. Meyakinkan bahwa ia kuat dan harus kuat menghadapi semua ini.


Dokter Anna menyambutnya dan mendampinginya di rumah sakit.


Mereka mendengarkan penjelasan langsung dari dokter yang menangani.


"Jadi kapan beliau akan bangun, Dok?" tanya Dario.


"Entahlah. Kita tidak bisa menebaknya, tapi kondisi tubuhnya stabil. Ini seperti mati suri atau koma berkepanjangan. Kami pernah mendapatkan beberapa pasien yang mengalami hal serupa tapi jelas penyebabnya. Ada yang karena kecelakaan, luka benturan, karena racun, dan yang lainnya. Tapi ini kondisi khusus. Yang mengherankan semua organ vitalnya sehat. Hanya syaraf-syarafnya bermasalah. Tapi kami akan mengusahakan semaksimal mungkin." Dokter menjelaskan panjang lebar.


Dario mengangguk-angguk.


"Saya serahkan pada anda, Dok. Tapi ada satu hal lagi yang ingin saya minta.


Dokter Ana sama sekali belum mengerti soal ini. Ia melirik Dario denagn tatapan bertanya-tanya. 


"Apa itu, Pak? Katakan saja," kata dokter.


Meraka memperlakukan keluarga Axton dengan baik dan memberinya predikat pasien khusus.


Mereka punya badan amal di mana Axton Group menyumbang dana dengan jumlah terbesar di rumah sakit ini.


"Bisakah anda melakukan tes DNA antara ibu saya dengan saya?" Dario bertanya sambil menatap mata sang dokter


Dokter menyimak permintaan itu lalu mengangguk.


"Dalam keadaan koma, bisakah sampel itu diambil? Dan kira-kira berapa lama hasilnya akan keluar?" tanya Dario.


Dokter menjelaskan langkah-langkahnya dan persyaratannya. Dario langsung menyetujui. Ia bahkan sudah menandatangani surat yang disiapkan dokter.


Tentu demi menjaga privasi pasiennya, mereka juga tak bertanya untuk apa. Tapi dokter Anna meoliriknya dengan bingung. Ia mengenal Darius sejak dulu.Ada apa ini? Ia membatin.


***


Salju masih saja turun, tapi tidak selebat kemarin-kemarin. Dario duduk di ruangan khusus dokter Anna.


Dokter cantik itu membawakan dua gelas kopi. Satu untuknya sendiri dan satu untuk Dario.


Ia tidak bertanya apa-apa tapi Dario rupanya tahu apa isi hati perempuan itu. Perempuan yang pernah menjadi kekasihnya saat ia kuliah dulu.


"Ann, ini rahasia tapi kau bukan orang lain. Maka dengarkanlah. Aku tahu rahasia masa lalu keluargaku, ini belum lama ku tahu. Kau percaya kalau aku bilang bahwa aku bukan anak kandung mamaku?" Dario bertanya dengan tertawa pelan di akhir kalimatnya.


"Apa maksudmu?" Anna Tomya mengerutkan alisnya lalu ia duduk.


"Aku adalah anak selingkuhan dari papaku. Kau percaya itu? Kalau darah Axton mengalir dalam darahku itu benar karena aku anak kandung papaku. Tapi aku bukan anak kandung mamaku. Entah siapa yang menjadi ibu kandung ku sebenarnya? Aku hanya bisa tahu kalau mamaku sudah bangun," kata Dario dengan nada yang sulit digambarkan.


"Bantu aku, Ann. Tolong. Beritahukan padaku segera kalau hasilnya sudah keluar. Aku perlu tahu. Setidaknya untuk diriku sendiri agar aku tidak menebak-nebak siapa diriku ini sebenarnya," kata Dario.


***


Hari itu menjadi pertemuan terakhir mereka sebelum akhirnya mereka bertemu lagi dua minggu setelahnya, saat cuaca sudah mulai membaik.


Dario kembali menemui dokter Anna. Sebuah surat sudah keluar. Diserahkannya surat itu pada Dario. Masih tersegel. Dario melirik kearah dokter Anna lalu ia mencoba membukanya dengan dada berdebar.


Dokter Anna hanya mendampingi saja. Ia terus mengamati wajah pria itu yang kini ia rasa nasibnya sungguh malang. Di usianya yang sudah setua ini, ia baru tahu kalau dia bukan anak kandung.


Satu detik bersama, dua detik berlalu dan tiga detik menunggu.


Dario hanya perlu membaca kesimpulan dari semua hasil tes itu.


"Apa hasilnya?" tanya dokter Anna.


"Tidak cocok, Ann. Kami tidak sedarah."


***


Musim berganti, cuaca berganti. Dan tahunpun juga berganti.


Nyinya Sanio tak kunjung bangun. Dario melanjutkan hidupnya. Walau agak memangsa karena kisah ini seperti tak tuntas, tapi Axton harus tetap diurus. Puluhan ribu karyawan menguntungkan hidupnya pada Axton Group.


"Papa," seru Bertha membangunkan Dario yang tertidur pulas.


Brenda juga tak mau kalah. Ia menaiki tubuh Dario dan menggoncang-goncangnya agar bangun.


"Ayo turun dan lihat salju," seru mereka.


Julie tertawa-tawa. Ia menyiapkan dua mantel mungil berwarna merah muda dan biru.


Dario pasrah saja. Ia menggendong dua anak kecil itu dari tempat tidur mereka yang hangat.


"Bertemu lagi dengan musim dingin, Julls. Tepat empat tahun mama koma dan tidak bangun lagi hingga sekarang." Dario menggumam pada Julie.


Julie memeluknya dari belakang.


"Kita lihat takdir akan membawa kita kemana," bisik Julie pelan.


...🌻🌻🌻...


Hallo, novel ini sudah lama mundur dari kompetisi ANAK GENIUS. Author bingung mau ganti judul apa. Tolong kirim sarannya di komentar ya.


Karena isinya konflik orang dewasa di awal, jadi nggak masuk genre baby novel.


Apa nih judul yang cocok? Please komen.