
"Ya, Shan siap menerima perintah," jawab Shan setelah nada tunggu hampir berakhir.
Nyinya Sanio menatap Dario dengan wajah santai. Dario sebaliknya, ia tegang bukan main.
Niat hati ia ingin menyimpan teleponnya dan menghindar dari pembicaraan ini kalau panggilan telepon itu tak diangkat. Nyatanya Shan malah mengangkat teleponnya.
Panggilan itu disetting agar bisa didengar oleh Nyonya Sanio juga. Ponsel itu diletakkan di meja.
Dario tampak terdiam sejenak. Ia berfikir kode khusus yang ia buat dengan Shan saat ada kondisi mendesak dan genting.
Kalau bertatap muka ia bisanya ia akan memberikan kode lewat jemari tangan kanannya yang menggengam dan membuka. Seperti bersiap untuk tempur.
Ini panggilan telepon. Panggilan suara dan bukan video. Bagaimana ia akan menerjemahkan kode itu.
"Hallo, Pak," kata Shan sekali lagi karena Dario hanya membisu.
"Ya, Shan. Nyonya Sanio ingin bertanya apakah bener istrimu hamil?" tanya Dario.
Tangannya mukai berkeringat. Nyonya Sanio tampak mengamatinya dengan wajah serius.
"Ya, benar istri saya hamil. Ada masalah apa, Pak?" Shan menjawab dengan ragu. Ia tak tahu kemana arah pembicaraan ini.
Apakah ini menyangkut Nona Julie yang hamil? Shan mulai berhati-hati dan fokus mendengar percakapan telepon ini.
"Begini, sekarang beliau mendengar percakapan ini. Aku mau memastikan soal beberapa minggu yang lalu saat istrimu ke dokter kandungan," kata Dario.
Shan yang menerima panggilan telepon itu sambil memeriksa berkas tampak mengerutkan keningnya. Ditaruhnya berkas itu. Ia akan fokus menerima telepon ini.
Mengapa Pak Dario menanyakan soal periksa kehamilan istrinya.
"Benar kan Shan aku mengantarnya ke dokter waktu itu. Kamu sedang kutugaskan untuk mengikuti Celia dan Ludwig. Coba diingat lagi. Hari itu tanganku kananku terkilir sehingga susah digerakkan membuka dan menutup," kata Dario. Ia berusaha memasukkan kode itu dalam kata-katanya. Ia harap Shan menangkap maksudnya.
Shan yang fokus mendengarkan tampak mengerti. Ya, tangan kanan yang digerakkan adalah sebuah kode. Ia terdiam sejenak.
"Ya, Pak. Itu benar sekali. Ada masalah soal itu?" tanya Shan.
Nyonya Sanio menatap Dario yang wajahnya kini berubah lega.
"Ya, tak masalah. Mamaku menyalahpahaminya. Dia pikir aku pergi ke dokter dengan selingkuhanku. Padahal itu istrimu. Foto hasil ultrasonografi yang akan kuberikan padamu rupanya tertinggal di saku jasku," kata Dario. Kini kata-katanya untuk mengarang cerita mulai lancar.
Nyonya Sanio tampak tak puas. Ia memberi kode pada Dario untuk ia bicara sendiri dengan Shan.
"Shan, katakan padaku kapan perkiraan istrimu melahirkan?" tanya Nyonya Sanio lagi.
Ia sudah bertanya pada dokter Anna kapan bayi di foto ultrasonografi itu akan lahir. Ia tentu bisa mencocokkan informasi ini.
Shan terdiam sejenak. Ia menduga hasil foto ultrasonografi itu adalah milik Nona Julie. Ya, usia kehamilan mereka sebenarnya tak selisih banyak. Sepertinya hampir sama.
"Akhir musim gugur ini atau paling terlambat awal musim dingin, Nyonya," jawab Shan agak ragu.
Nyonya Sanio mengangguk. Ya, benar. Dokter Anna mengatakan hal yang sama padanya. Ia kini percaya.
Dario tersenyum lebar saat melihat Mamanya percaya. Hatinya lega. Hampir saja rahasianya terbongkar.
Posisi Julie dan keadaanya tak boleh diketahui dulu. Setelah masalah ini beres, perceraiannya juga beres, ia bisa fokus mencari Julie. Urusan Dante Bank bisa ia tunda. Yang penting semua isi brankas itu kini telah aman.
Telepon ditutup. Dario menatap Mamanya dengan penuh kemenangan.
"Bagaimana, Ma? Sudah percaya sekarang?" tanya Dario.
Nyonya Sanio hanya mengangguk saja. Ia lalu meneguk minuman di mejanya.
"Tapi kalau benar Dario punya simpanan dan punya bayi, apa yang akan Mama lakukan?" tanya Dario.
Nyonya Sanio tertawa. Ia menatap air kolam renang yang beriak-riak tenang mengikuti angin itu. Ia lalu menatap putra satu-satunya itu.
"Tentu Mama akan marah. Kalau kamu punya simpanan, apa bedanya kamu dengan Celia. Sama-sama mencoreng nama keluarga Axton. Bedanya Mama tak bisa menyingkirkanmu karena kamu satu-satunya generasi penerus Axton," kata Nyonya Sanio.
Dario terdiam. Berarti Mamanya tak mungkin menerima Julie.
"Lalu bagaimana dengan bayinya? Mama juga tak akan menerimanya? Misalkan itu anak kandung Dario, bukankah bagus karena Axton punya penerus. Setelah selama ini kita berputus asa karena mengira saya mandul," kata Dario lagi.
Ia menatap wajah Mamanya dalam-dalam. Apa yang ada di dalam pikirannya? Ia berusaha menyalaminya.
"Tentu saja Mama akan menyukai bayi itu. Mengambilnya kalau perlu. Tapi tetap kita tak bisa mengakui bayi itu di depan publik sebagai anakmu. Kita bisa bilang dia anak angkat. Mau ditaruh mana nama Mama dan Axton kalau kamu punya anak padahal baru bercerai dengan Celia. Berita perceraianmu saja belum terpublish. Mama masih mengatur waktu dan strategi yang tepat agar tak menimbulkan kehebohan," kaya Nyonya Sanio.
Dario terdiam. Jadi, inilah yang ditakutkan Julie selama ini? Ia takut kalau anaknya akan diambil Mamanya. Benarkah begitu?
"Lalu bagaimana dengan simpananku? Apa Mama akan menerimanya?" tanya Dario lagi.
Nyonya Sanio kembali tertawa.
"Tentu saja tidak. Wanita itu selingkuhan. Kalau waktunya sekarang, berarti dia tahu kalau kamu masih punya istri. Hanya wanita rendahan yang merebut suami orang," kata Nyonya Sanio.
Dario makin berdebar jantungnya mendengar kata-kata itu. Ah, Julie tak merebutnya. Justru dialah korbannya. Korban dari tindakan tak bertanggungjawabnya. Tapi mana mau Mamanya yang keras hati itu mengerti.
Pupus sudah harapannya untuk membawa Julie dan memperkenalkan sebagai istri resminya. Dario merasa makin putus asa. Juliepun tak tahu ada di mana.
"Sudahlah, Dario. Jangan berandai-andai. Mama akan pastikan namamu bersih saat berita perceraian itu muncul. Kita keluarga berkelas. Nama Axton adalah nama besar yang harus kita jaga." Nyonya Sanio meneguk minumannya lagi.
Dario hanya terdiam. Ah, mengapa kisahnya serumit ini. Ia menjadi tahu mengapa Julie begitu takut. Ya, anaknya akan dianggap sebagai anak hasil perselingkuhan. Maka dari itu ia memutuskan untuk menyembunyikan status pernikahannya.
"Dario, setelah namamu bersih, akan kucarikan wanita muda yang sehat dan siap untuk melahirkan anak-anak penerus Axton. Kamu sehat dan laki-laki seutuhnya. Beri Mama cucu. Beri Axton generasi penerus." Nyonya Sanio berkata serius sambil menatap putranya itu.
Ah, andai saja ia bisa punya anak lagi setelah melahirkan Dario. Pasti ia tak kan dipusingkan oleh keturunan Axton.
Sayangnya rahimnya harus diangkat karena penyakit saat usia Dario setahun.
Itulah mengapa ia dulu begitu menyayangi Celia saat ia masih kecil.
Celia anak perempuan yang manis. Ia ingin punya anak perempuan. Celia mencuri hatinya sejak lahir.
Dijodohkanyalah Dario dan Celia setelah dewasa. Sebagai balas budi juga karena Dario telah diselamatkan dari kecelakaan kapal oleh Papa Celia.
Dario yang mendengar ucapan Mamanya hanya tertawa dengan nada kesal dan sinis.
"Aku tidak akan menikah lagi, Ma. Jangan berharap banyak. Angkat saja anak dan jadikan dia penerus," katanya sambil berlalu pergi meninggalkan Nyonya Sanio.
Nyonya Sanio hanya memicingkan matanya dengan sinis. Anak itu sekarang sudah berani melawan kehendaknya. Lihat saja apa yang akan terjadi.
......................
......................
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hello guys. Yang kesel karena ending selalu gantung adalah kesengajaan Author ya. Biar yang baca dari eps awal selalu penasaran dan penasaran lalu buka bab selanjutnya.
Memang teori dan triknya begitu. So, enjoy bacanya ya. Tipa hari akan upload kok. Aku selalu baca komentar untuk perbaikan dan mengikuti pembacaku maunya apa.
Jangan sungkan kritik dan saran. Mau marah-marah juga boleh.😂