Mama'S Twin

Mama'S Twin
Tangis dalam Pelukan



Dario menatap Shan. Wajahnya tampak serius?


"Kau tak mau membantuku, Shan? Aku hanya bisa mengandalkanmu untuk ke Valex," kata Dario dengan wajah sedih.


Shan tampak tak enak hati tapi ia tetap bersikukuh.


"Anda mungkin lupa, Pak. Istri saya akan melahirkan sebentar lagi. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Saya tak bisa meninggalkan Venesa sendirian walaupun ibunya yang tinggal di Delphi sudah ke sini untuk mendampinginya." Shan menjelaskan.


Dario mengangguk-angguk. Ya, ia bahkan sampai lupa. Julie dan Venesa hamil dalam waktu yang berdekatan. Tentu saja sebentar lagi Vanesa melahirkan.


"Maafkan aku, Shan. Aku sampai-sampai melupakan soal kepentinganmu. Kamu terlalu banyak mengurusku," kata Dario. Wajahnya masih murung dan ia terlihat kacau.


"Jangan khawatir, Pak. Aku hanya menjalankan kewajibanku saja. Aku punya cara lain yang mungkin bisa anda pertimbangkan." Shan menyarankan.


"Apa itu, Shan? Katakan padaku!" Dario nampak antusias. Ia menolehkan wajahnya ke arah Shan.


"Aku akan menyuruh detektif Andrew melalukan penyelidikan ke Valex. Lingkungan Valex adalah tetangga ada yang lama. Banyak orang tua yang masih hidup dan menetap di sana. Bibi Joan hanyalah sapah satunya saja. Aku akan mengirimkan rekaman percakapan mereka tadi. Itu kalau anda setuju." Shan menjelaskan dengan pelan.


Dario langsung mengangguk. Benar itu. Shan memang bisa diandalkan. Ia langsung menyetujui.


"Sekarang tolong antar aku ke apartemen Julie, Shan," katanya pelan.


Shan mengangguk an mereka akhirnya meninggalkan tempat itu dalam bisu.


Si dalam mobil, Dario juga diam saja. Ia hanya memandang ke arah luar jendela dengan wajah sedih.


***


Julie sedang menimang bayi kembarnya dalam ayunan rotan yang dijadikan menjadi satu. Seperti khas anak-anak suku Indian saja.


Brenda dan Bertha mengenakan pakaian hangat. Pakaian mungil itu tampak cocok dan lucu, membuat mereka makin tampak seperti boneka saja.


Dari pintu apartemen didengarnya suara sepatu. Julie menoleh ke belakang dan melihat Dario pulang. Lelaki yang kini menjadi ayah resmi dari anak-anaknya itu nampak melepas sepatunya yang berjalan ke arahnya.


"Hai, anak-anak tertidur?" tanyanya sambil menyusul duduk di sofa samping tempat Julie duduk.


"Ya, baru saja," jawab Julie. Ia lalu melirik di arah Dario.


Ada yang tak beres darinya. Julie tahu itu. Mau sekeras apapun Dario berusaha tersenyum padanya, tapi mata laki-laki itu tetap tak bisa bohong.


"Dario, katakan padaku apa yang terjadi," kata Julie pelan.


Dario hanya menggeleng dan berusaha tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Aku serius," katanya berbohong.


Julie menggeleng tak percaya lalu ia duduk menghadap suaminya itu. Digenggamnya tangan Dario yang dingin karena ia habis dari luar ruangan yang hangat ini.


"Katakan ada apa? Kamu seperti sedang memikirkan masalah berat?" Julie makin mendesaknya.


Dario menatap mata cokelat milik Julie itu. Mata yang indah yang mampu meluluhkan hatinya.


Dario mulai goyah. Apa pendapat Julie kalau ia tahu soal ini? Perempuan ini sangat bijak. Apa yang akan ia sarankan?


Mata Dario mulai berkaca-kaca. Julie menyentuh pipinya. Setetes air mata kesedihan itu meluncur dari ujung matanya. Julie mengusapnya dari pipi Dario yang rahangnya keras dan penuh aura maskulin itu.


Tanpa kata-kata, Julie memeluk laki-laki itu. Laki-lakinya yang dulu tak selemah ini. Tapi mengapa Dario menangis?


Julie memberi waktu agar semuanya tertumpahkan di pelukannya. Biar nanti Dario bercerita padanya kalau sudah siap.


Bersambung...