
Dear pembaca, enaknya upload jam berapa ya? Aku akan usahakan upload bab setiap hari.Kalau perlu lebih dari 1 misalkan ramai respon.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Julie sedang memetik buah arbei di belakang Rumah Asuh itu. Anak-anak kecil berambut pirang itu mengikutinya di belakang.
"Nona Julie, apakah kamu akan punya bayi?" tanya Camelia, gadis mungil berhidung mancung itu.
"Tentu saja, Camelia," jawab Julie sambil tersenyum.
"Beruntung sekali. Dia akan punya Ibu yang cantik seperti Nona. Tidak seperti kami yang tak punya Ibu. Apakah bayi itu akan punya Ayah juga?" tanya Camelia lagi dengan polos.
Julie tersenyum. Ia teringat Dario yang selalu menyentuh perutnya dengan haru. Ah, pasti Dario sedang pusing mencarinya.
Julie tiba-tiba merasa rindu pada pria itu. Apakah keputusannya ini benar untuk kabur dari Dario?
Ini semua demi melindungi bayinya. Ya, ia harus menjauh dari lingkaran keluarga itu.
"Ya, Camelia. Papa bayi ini sedang bekerja jauh di sana." Julie menjelaskan.
Mereka berjalan beiringan menuju dapur bersama. Sekeranjang arbei yang selesai dipanen siap disantap.
Julie lalu kembali ke kamarnya. Ya, ia merasa lelah. Perutnya makin membesar. Banyak aktifitas akan membuatnya mudah sekali lelah. Namun tempat ini membuatnya bahagia.
Ia duduk lalu mengelus perutnya itu.
"Hai, anak-anak. Sedang apa Papamu? Apa dia merindukan kita?
Julie tiba-tiba merasa sensitif dan ingin menangis. Apa benar keputusannya ini sudah tepat?
Apakah Dario akan mencarinya? Ia begitu takut ketahuan. Ia begitu takut terlibat. Keluarga kaya dan papan atas di Suresh itu menyimpan masa lalu yang kelam dan menakutkan.
Berada di lingkaran kekuasaan hanya akan membuat anaknya terlibat. Ia tak ingin. Ia hanya ingin anak-anaknya tumbuh seperti anak-anak pada umumnya.
***
Dario dan Andrew masih di ruang kerja itu untuk berdiskusi.
Shan memutuskan untuk naik kereta saja ke Dallas. Ia harus memeriksa dulu daripada hasilnya sia-sia. Apalagi Dario tak bisa lama-lama di Valex.
Pagi itu Dario mengulang-ulang pelan suara yang direkam Grace, sekretarisnya. Mamanya bilang Celia sudah diusir selama-lamanya dari rumah. Apakah ini benar? Tau ini hanya trik saja agar ia mau kembali?
Dario tak ingin tertipu dua kali. Ia tak ingin kembali sebelum semuanya jelas. Apalagi sekarang ia dipusingkan oleh Julie yang pergi meninggalkannya.
"Nona Julie sebelumnya di ruangan ini sebelum menghilang?" tanya Andrew.
"Ya, dia bahkan membantu saya untuk menerjemahkan dokumen ini," kata Dario sambil menujukkan map itu.
Andrew melihat seklias. "Oh, Nona Julie bisa bahasa Jepang?"
"Ya. Anda bisa? Ini dokumen rahasia Papa saya sebelum meninggal," kata Dario.
Andrew lalu duduk dia sebelahnya. "Boleh saya baca isinya? Saya 4 tahun di Tokyo," kata Andrew.
"Ya," kata Dario tampak ragu. Tapi tetap diserahkannya dokumen itu.
"Julie membantu saya untuk memecahkan petunjuk dari Papa saya mengenai Dante Bank." Dario menjelaskan. Pandangan matanya tak lepas dari Detektif Andrew.
Detektif Andrew tampak fokus mempelajari dokumen itu. Sesekali alisnya berkerut.
"Ya, saya tidak bisa membaca dan bahkan berbahasa Jepang. Julie menerjemahkannya untuk saya. Memangnya ada yang lain?" tanya Dario sambil menatap serius ke arah Andrew.
"Tentu. Ini soal teror. Soal pengkhianatan perusahaan. Pembunuhan anak buah. Ada nama Frans Adam disebut-sebut," kata Detektif Andrew.
Dario menatapnya dengan tatapan penuh penasaran.
Hari itu Dario mendapatkan perspektif lain dari menghilangnya Julie. Apakah mungkin ia begitu takut dan ngeri setelah membaca dokumen itu?
"Saya sarankan agar anda pergi dulu ke Dante Bank untuk melihat isi brankas yang ditinggalkan untuk anda. Pergilah ke Suresh," kata Detektif Andrew menyarankan.
"Ya, seharusnya begitu. Tapi saya tidak akan kembali tanpa Julie," kata Dario bersikeras.
Mereka berdua tampak hening. Larut dengan pikiran masing-masing.
Ponsel Dario berbunyi. Shan yang menelpon.
"Nyonya Julie tidak ada. Bahkan di Dallas tak ada rumah asuh atau panti asuhan dan semacamnya. Dulu memang ada. Tapi sekarang tak ada lagi. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Shan.
"Kembalilah lagi ke sini, Shan. Hati-hati," kata Dario dengan nada putus asa. Telepon itu ia tutup segera.
"Bagaimana?" tanya Andrew.
"Nihil. Bagaimana lagi cara melacaknya?" tanya Dario putus asa.
"Kemana kereta berhenti sebelum Dallas?" Andrew menggumam sebentar sambil berusaha mencarinya di internet.
Sopir taksi itu bilang Julie naik kereta jalur 3 sekitar jam 2 siang.
Bisa saja Julie turun di Vhedar, Valley atau Dallas?
"Apakah ada rumah asuh di sekitar Vhedar atau Valley?" tanya Andrew.
Mata Dario seperti menyala. Ya, Valley. Nama itu. Desa itu. Tempat itu.
"Valley. Ya, di Valley. Julie pasti di Valley," kata Dario berseru.
Ya, ia akan mencari Julie kemanapun ia berusaha lari. Julie miliknya, juga bayinya.
***
Shan diminta Dario untuk kembali ke Suresh dalam jangka penyelidikan diam-diam. Apakah benar Mamanya telah mengusir Celia? Ataukah ia berbohong?
Detektif Andrew, berbekal informasi mengenai kecelakaan di danau Stone, ia langsung pergi untuk penyelidikan lebih lanjut.
Dario menyetir sendiri ke Green Valley. Ia melewati padang hijau yang luas. Angin segar berhembus dari perbukitan yang mengelilingi wilayah itu.
Banyak gembala sapi, domba dan kuda beradu kekuasaan di padang yang membentang hijau itu.
Sebuah rumah asuh tua yang alamatnya ia cari di google itu berhasil ia temukan.
Anak-anak jarang mendapatkan tamu. Mereka berkumpul menyambut mobil Dario dan tampak memandang heran padanya.
"Anak-anak, saya datang mencari Nona Julie," kata Dario dengan ramah dan dengan nada yang bersahabat.
Camelia d9i rambut pirang itu maju dan menanyainya.
"Hei, apakah Tuan adalah ayah bayi?" tanya Camelia.
Dario mengangguk sambil tersenyum.